
Bram menghubungi Bela, ia menceritakan bagaimana cara Bram membuat Desi kesal. Bela tertawa saat di ceritakan hal itu. ia tidak menyangka jika Bram bisa sejahat itu pada Desi padahal Desi sedang mengandung anaknya.
" Kak Bram jangan begitu dong kasihan Desi pasti dia sedang sedih sekarang karena sikap kakak " ucap Bela sambil tersenyum tanpa suara
" Bagaimana Desi rasanya?? di sakiti oleh orang yang kamu cintai.. aku akan membuatmu terus tersiksa seperti itu hingga hidupmu benar-benar hancur " batin Bela
" Biarkan saja aku muak melihat wajahnya apalagi sikapnya pura-pura jadi istri yang baik tapi kenyataannya dia tidak becus melakukan apapun " ucap Bram
" Kak Bram ko bicara seperti itu, aku juga belum bisa jadi istri yang baik untuk kakak karena aku juga tidak bisa melakukan pekerjaan seperti seorang istri bahkan kita harus diam-diam seperti sekarang " ucap Bela pura-pura sedih
" Kalau untuk mu sayang tidak perlu melakukan apapun, asalkan kamu selalu ada untuk ku sudah cukup, aku akan selalu memanjakan mu.. kamu jangan khawatir karena kamu dan wanita itu benar-benar berbeda jadi jangan samakan dirimu dengan dia.. karena kamu orang yang aku cintai " ucap Bram
" Terima kasih kak.. "
" Harusnya aku yang berterima kasih padamu karena sudah mau menjadi istriku dan selalu berada disisi ku apapun yang terjadi kita berjuang bersama " ucap Bram
" Ia kak.. "
" Bodoh sekali kamu Bram, menurut mu aku akan selalu ada untuk mu.. jangan harap?? setelah kamu menceraikan Desi aku juga akan segera menceraikan mu, aku harus memastikan jika hidup mu dan hidupnya Desi hancur benar-benar berantakan lebih dari sekarang baru aku akan merasa bahagia " batin Bela
" Beruntungnya aku mendapatkan mu Bela, aku tidak akan melepaskan Bela sampai kapanpun.. aku akan membuat Bela terus berada disisi ku bagaimana pun caranya " batin Bram
" Sekarang kamu cepat tidur, nanti kita akan berangkat kerja sama-sama.. jangan pergi bersama dengan Candra " ucap Bram
" Aku belum cerita sama kakak kalau sebenarnya Candra itu adalah kakak tiri aku.. dia orangnya baik sekali, jadi kakak jangan cemburu sama dia karena dia selalu ada di saat aku kehilangan Kak Sintia, ibunya mungkin jahat pada keluarga ku tapi Candra baik sekali padaku dan keluarga ku yang lainnya " ucap jujur Bela
__ADS_1
" Aku sudah tahu "
" Kakak tahu dari mana?? kalau Candra kakak tiri ku " ucap Bela terkejut
" Tadi Candra menceritakan hal itu pada ku.. sepertinya dia juga suka sama kamu "
" Kakak jangan bercanda aku dan Candra itu adik kakak meskipun kami tidak sedarah " ucap Bela
" Tapi kamu tidak menyukai Candra kan?? " Tanya Bram penasaran
" Tidak mungkin kak, aku sudah bilang dari tadi jika hubungan ku dengan Candra sebatas kakak dan adik.. " ucap Bela
" Baiklah.. aku percaya padamu sayang, aku juga akan anggap dia kakak seperti kamu yang menganggap dia sebagai kakak mu " ucap Bram sambil tersenyum ia merasa lega karena ternyata Bela menganggap Candra sebagai pengganti Sintia.
Suara ketukan Desi terdengar ia juga mengatakan jika ia ingin tidur dengan Bram, Bela hanya mendengar pembicaraan mereka karena Bram sengaja tidak menutup teleponnya. hingga suara Desi menghilang dari depan kamar Bram.
" Biarkan saja.. aku tidak peduli sama di "
" Kak, kalau aku hamil apa kakak juga akan tega begitu padaku?? seperti sekarang yang kakak lakukan pada Desi?? " tanya Bela secara tiba-tiba
" Kalau kamu hamil, tidak mungkin aku seperti itu?? aku akan selalu memanjakan mu dengan kasih sayang yang utuh untuk mu, aku tidak akan membiarkan mu kecapean, pokonya kamu dilarang melakukan apapun " ucap Bram
" Kak Bram, apa aku boleh bekerja saat aku hamil ? " Tanya Bela
" Tidak boleh, aku tidak mau kamu kecapean biar aku saja yang bekerja, kamu tinggal tunggu aku di rumah saja " ucap Bram
__ADS_1
" Ish dasar aneh, apa hubungannya menikah dengan bekerja, kamu tenang saja aku tidak akan membuat diriku hamil karena aku tidak mau mengandung anak mu " batin Bela
" Aku tidak sabar membayangkan jika Bela benar-benar hamil anak ku.. aku sangat bahagia saat-saat itu " batin Bram
" Kak Bram, aku lelah.. apa boleh aku tidur duluan Kak " ucap Bela memang dirinya sudah mengantuk
" Baiklah sayang, kamu harus mimpi aku.. i love you sayang " ucap Bram sambil mencium handphonenya
" Ia Kak, i love you to Kak.. " ucap Bela menutup teleponnya
Ia segera menutup matanya sama halnya dengan Bram, ia juga segera tidur karena besok ia banyak sekali pekerjaan yang sedang menunggunya.
Sedangkan Desi tampak gelisah, ia tidak bisa tidur karena sofa itu membuatnya tidak nyaman. Rasanya ia menyesal sudah merenovasi kamarnya, padahal ia menduga jika Bram tidak tega padanya dan mereka akan tidur bersama tapi kenyataannya berbeda dan pada akhirnya ia tidur di sofa seperti ini.
Bram bahkan tega tidak melihat keadaannya sama sekali, ia juga sempat mendengarkan pembicaraan Bram entah dengan siapa. Untungnya ia sudah menyimpan nomor handphone yang tadi mengirim pesan pada suaminya itu.
Besok ia harus menemui wanita itu, ia akan memberi pelajaran pada wanita yang sudah menggoda suaminya itu. Dia tidak akan tinggal diam karena Bram hanya miliknya seorang dan tidak boleh di gangu orang lain.
Ia berusaha untuk memejamkan matanya berharap ia segera terlelap tidur karena tubuhnya benar-benar lemas, kehamilannya membuat tubuhnya sering merasakan lemas.
" Ayo Desi cepat tidur, besok kamu harus membuatkan sarapan untuk Bram.. aku tidak akan menyerah bersabar padamu meskipun sikapmu terkadang menyakiti ku.. karena aku sungguh mencintaimu Bram " batin Desi
Hingga pukul tiga dini hari ia akhirnya bisa tidur pulas tapi pukul lima ia segera bangun lalu menyiapkan sarapan untuk suaminya itu walaupun tubuhnya masih mengantuk karena ia tidak bisa tidur.
.
__ADS_1
.
Bersambung...