Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Kemarahan Sang Ayah


__ADS_3

Tak hanya Pipi kiri Bela yang terkena tampar oleh sang ayah kini pipi kanan bela pun di tampar oleh sang ayah, kedua pipi Bela kini berdenyut merasakan sakit dan perih dua kali lipat.


" Cukup Ayah... " ucap Bela yang tidak mau terus di tampar sang ayah


" Sakit?? Itu lebih sakit dari pada yang ayah rasakan saat ini.. mau taruh dimana muka ayah " bentaknya


Bela sadar betul jika bukan hanya reputasi dia yang hancur tapi reputasi yang ayah pun ikut hancur akibat pemberitahuan miring tentang dirinya. Ia tidak menyangka jika apa yang ia rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan.


" Maaf ayah " ucap dengan wajah sedihnya


Ya, permintaan maaf mungkin tidak akan mengembalikan reputasinya namun kata maaf kali bisa meredakan suasana hati sang ayah meskipun Bela tahu ayahnya tidak akan mudah memaafkannya.


" Jadi benar semua pemberitaan kamu dengan Bram " ucap ibu tiri ku yang terlihat mempengaruhi sang ayah untuk terus marah padaku


" Aku mencintainya dan dia juga mencintai ku.. ayah " ucap Bela berbohong padahal ia tidak tahu apakah akhir-akhir ini Bram masih mencintainya


" Tinggalkan dia lalu lanjutkan hidupmu di luar negeri, ayah akan biayai semua kehidupan mu disana " ucap Tegas sang ayah


" Tapi ayah.. "


" Itu sudah menjadi keputusan ku, semuanya akan di persiapkan Candra, besok kamu harus segera meninggalkan negara ini " titah sang ayah


" Aku tidak bisa ayah, aku sedang hamil " ucap Bela sambil menangis ia berlutut di kaki sang ayah, berharap jika ia di berikan belas kasihan karena untuk saat ini ia belum bisa meninggalkan Bram, ia harus mengungkapkan semua kejahatan Desi


" Apa... " Ucap Mereka kaget


" Cih, pantas saja badannya berisi seperti itu, tidak ku sangka Bela jadi wanita murahan seperti ini " batin Teti

__ADS_1


" Apa yang kamu lakukan Bel sampai bisa seperti ini, bahkan aku saja tidak tahu akan hal ini " batin Candra merasa dirinya gagal melindungi Bela


Sang ayah langsung duduk di kursi dengan wajah lemas dan pucat, ia tidak menyangka jika hidup putrinya hancur kini, kepalanya mendadak pusing hingga ia memijat-mijat keningnya sendiri.


" Sayang kamu tidak apa-apa.. " tanya Teti ketika melihat wajah suaminya pucat


" Aku baik-baik saja.. ambilkan saja obatku sekarang " ucapnya menahan rasa sakit di dadanya


" Baiklah... "


Teti segera mengambil obat untuk meredakan sakit dada suaminya dengan terburu-buru, Sang ayah meminum satu pil agar mengurangi rasa sakitnya kini.


" Gugurkan kandungan mu.. " ucap sang ayah membuat Bela melotot


Bagaimana bisa ia menggugurkan kandungannya yang berusia tujuh bulan, ia juga tidak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri, ia langsung menolak keinginan sang ayah.


" Apa tujuh bulan?? " Ucap Teti benar-benar kaget dan sangat bersemangat untuk menjelek-jelekkan Bela di hadapan suaminya itu.


" Bagaimana ini Mas.. kalau orang lain tahu jika Bela mengandung dan melahirkan... Pasti itu jadi anak haram " cibir Teti


" Anak ini bukan anak haram, karena aku dan Bram menikah siri " ucapku yang tak terima cibiran sang ibu tiri.


" Apa nikah Siri.. dan kamu merahasiakan hal itu, kamu tidak menghargai ayahmu sama sekali " ucap Teti semakin senang memperkeruh keadaan


Rasanya Bela ingin menyimpan mulut ibu tirinya dengan kaos kaki yang sebulan tidak di cuci saat ini, tapi jika ia melawan ibu tirinya itu pasti sang ayah semakin marah padanya.


" Maafkan aku ayah, aku terpaksa menikah siri karena saat itu aku tengah hamil, aku takut ayah akan menyuruhku mengugurkan kandungan ku dan aku berpikir jika menikah siri saat itu solusinya " ucap Bela sedikit berbohong agar sang ayah tidak terlalu marah padanya, ia juga tak lupa menangis agar aktingnya lebih menyakinkan sang ayah.

__ADS_1


" Bagaimana ini Mas.. " ucap Teti yang ingin sang suami memarahi anak tirinya itu


" Tidak ada pilihan lagi, kalau kamu tidak ingin menggugurkan kandungan mu kau harus segera pergi dari Negera ini, bercerailah dengan Bram.. kamu mulai hidupmu dengan baru di negara tetangga " ucap tegas sang ayah


" Ide ayah memang bagus tapi aku tidak mau meninggalkan negara ini, keburukan Desi belum terbongkar " batin Bela


" Beri aku waktu satu bulan ayah.. hanya satu bulan.. untuk menyelesaikan urusan ku dengan Bram.. aku janji setelah itu aku tidak akan menemuinya lagi " ucap Bela memohon pada sang ayah


" Apa lagi yang harus di selesaikan, Bram pasti memilih istrinya di banding kamu.. kamu harus sadar diri, lebih baik kamu segera pergi dari pada nama baik keluarga kita hancur " ucap Teti


" Aku mohon ayah, hanya satu bulan.. aku akan bercerai lalu meninggalkan Bram, bahkan aku tidak akan menemuinya lagi " ucap Bela


Candra yang tidak tega pun menyakinkan sang ayah untuk mengabulkan permohonan Bela, ia juga tidak tega melihat Bela sedih seperti ini.


" Ayah tolong kabulkan permohonan Bela, ayah tenang saja aku sendiri yang akan menjaga Bela selama satu bulan ini " ucap Candra membuat Teti marah


" Candra jangan ikut campur urusan Bela.. " ucap marah sang mamah


" Mah.. di saat seperti ini kita jangan egois apalagi Bela sedang mengandung aku tidak mau terjadi sesuatu pada kandungan Bela.. aku mohon ayah.. "


" Baiklah, tapi kamu janji pada ayah setelah satu bulan kamu harus meninggalkan Bram.. " ucap sang ayah langsung pergi ke kamar meninggalkan Bela disana.


Teti segera menyusul sang suami dengan senyuman di wajahnya sedangkan Candra membangunkan Bela untuk berdiri. Ia juga menghapus air mata Bela.


Bela langsung memeluk tubuh Candra, ia merasa Candra lah yang mengerti dia saat ini, candra langsung menenangkan Bela agar tidak terus-menerus menangis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2