
Tiga bulan kemudian
Bram sudah bisa memerankan perannya untuk bersikap baik pada Desi, hingga keadaan Desi benar-benar pulih dan sudah di perbolehkan pulang sejak dua bulan yang lalu. Bram membawa Desi ke rumah orangtuanya agar Bu Jeni bisa merawat Desi sedangkan Bram bisa bertemu di malam hari dengan Bela.
Sekarang dia bisa merasakan hidupnya tidak di repotkan oleh Desi, dan kebersamaannya dengan Bela tidak di gangu di malam hari. Tidur bersama Bela dengan hati tenang tanpa di hubungi oleh Desi itu menjadi harapannya kini.
" Sayang, kamu dimana?? " Tanya Bram melihat di tempat tidurnya tidak ada Bela
Suara Bela terdengar muntah-muntah di kamar mandi, Bela sering muntah-muntah setiap pagi namun sering menolak ketika Bram ingin membawanya ke dokter.
" Sayang kamu muntah-muntah lagi " ucap Bram yang sudah berlari ke kamar mandi.
Bela kini berwajah pucat, Bram segera membawa Bela ke tempat tidurnya. Ia langsung membuatkan teh manis hangat untuk Bela.
" Minumlah " ucap Bram duduk di samping tempat tidurnya
" Terima kasih Kak.. " ucap Bela langsung meminum teh itu agar perutnya tidak mual lagi
" Kita ke dokter ya sayang, aku takut terjadi sesuatu padamu " ucap Bram membujuk istrinya itu
" Tidak kak.. hari ini hari terakhir aku magang di kantor, aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan ku lalu beristirahat agar besok aku bisa memberikan laporan kupada dosen " ucap Bela
" Sayang kamu jangan terlalu lelah.. aku khawatir jika penyakit mu bukan sekedar masuk angin saja.. "
" Kakak tenang saja, aku baik-baik saja.. mual ku hanya setiap pagi.. nanti juga sembuh sendiri " ucap Bela sambil tersenyum
" Kalau begitu kamu tunggu disini, biar aku yang membuatkan sarapan untuk mu " ucap Bram mencium kening Bela
" Terima kasih Kak.. "
" Terima kasih Bram, kamu selalu baik padaku.. aku merasa senang selama ini, aku berharap suatu saat ketika aku berpisah dengan mu nanti aku di pertemukan oleh sosok laki-laki yang baik seperti mu lagi.. " batin Bela
Bram segera menuju dapur dan memasak sarapan untuk Bela. Sudah hampir setiap hari ia memasak untuk Bela rasanya ia senang karena bisa membahagiakan Bela.
Lima belas menit kemudian sarapan sudah jadi, Bram membawa makanannya kedalam kamar. Bela merasa seperti seorang ratu oleh Bram karena Bram selalu bersikap baik dan di nomor satu kan olehnya, bahkan Bela selalu di manjakan oleh suaminya itu, apapun yang Bela minta Bram selalu mengabulkan permintaannya seperti kemarin tengah malam ia ingin makan nasi Padang langsung di Carikan oleh Bram meskipun mencarinya susah payah dan tidak mudah tapi Bram membawakaan nasi Padang itu ke hadapan Bela.
" Silahkan Ratu ku " ucap Bram sambil tersenyum
" Kakak.. jangan bicara seperti itu, aku malu... "
" Sayang kamu itu memang sudah jadi ratu di hatiku kenapa harus malu.. cepat buka mulutnya biar aku suapi "
" Jangan kak.. aku bisa makan sendiri, aku bukan anak kecil lagi " tolak Bela
" Kalau kamu makan sendiri kamu makannya suka tidak habis.. tapi kalau aku suapi kamu pasti menghabiskan makanannya " ucap Bram sudah ingin menyuapi Bela
Bela tidak protes karena ia suka di perlakukan seperti itu, dengan lahap ia memakan makanan yang di buat Bram, dan benar saja piringnya habis, Bela tampak lahap memakan makanannya.
" Aku mandi dulu " ucap Bram langsung menuju kamar mandi
__ADS_1
Sementara Bela kini mengganti bajunya karena ia sudah mandi barusan sebelum mual melandanya, ia segera bersiap-siap untuk ke rumah sakit dengan suaminya seperti biasanya. Memakai baju santai agar Lily tidak curiga padanya.
Seperti biasa, Bela berangkat sebelum Lily datang ke ruangan Bu Mina. Bela sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali setiap hari demi tidak membuat Lily curiga padanya.
" Sudah siap sayang.. "
" Sudah kak.. "
Mereka segera masuk kedalam mobil Bram menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk mengantarkan Bela setelah itu ia akan pergi ke rumah orang tuanya untuk bertemu dengan Desi.
" Sayang, aku akan pergi ke rumah mamah terdahulu?? "
" Untuk apa kak?? " Tanya Bela
" Sayang, tumben kamu menanyakan seperti itu, biasa kamu cuek jika aku pergi Kesana?? " Ucap Bram sambil tersenyum
" Tidak apa-apa aku hanya bertanya saja ?? " Ucap Bela dengan wajah memerah
Entah mengapa akhir-akhir ini Bela merasa kesal jika suaminya itu menghampiri istri pertamanya, meskipun dia tahu Bram memang selalu pura-pura baik pada Desi agar dia tidak di curigai oleh istri pertamanya itu.
" Kamu cemburu sayang "
" Tidak!! " Ucap Bela denga kaget
" Sudah ngaku saja kamu cemburu kan.. aku jauh lebih senang jika kamu memang cemburu pada Desi "
" Kakak.. " ucap Bela dengan raut wajah kesal
" Benar kak.. "
" Ia sayang... Aku Janji tidak akan macam-macam pada Desi " ucap Bram membelai rambut Bela
" Ia kak aku percaya kakak,.. kakak temui Desi dulu dan lihat bagaimana keadaannya.. " ucap Bela tersenyum
" Terima kasih sudah cemburu.. aku senang mendengarnya " ucap Bram terlihat sangat bahagia
" Ada apa dengan ku.. tidak seperti biasanya menanyakan hal itu pada Bram... Masa ia aku cemburu pada Desi, ko rasanya tidak mungkin " batin Bela
" Ternyata Bela sangat mencintai ku sekarang.. aku merasa bahagia sekali.. " batin Bram
Bram sudah sampai di rumah sakit, Bela segera turun dan segera menuju ruangan sang ibu. Di sana ia melihat jika sang ibu masih terbaring lemah disana.
Ia langsung membaringkan tubuhnya di sofa, ia merasakan kantuk kembali apalagi perutnya sudah kenyang gara-gara sarapan makanan yang di masak oleh Bram.
Satu jam kemudian Lily datang, ia melihat Bela masih tidur di sofa. Tidak merasa curiga pada Bela karena ia selalu melihat sosok Bela di pagi hari meksipun jarang melihat sosok Bela di malam hari karena Bela selalu beralasan lembur jadi Lily pulang di saat Bela belum datang.
Lily segera mengambil air hangat dan lap handuk lalu ia duduk di samping Bu Mina. Ia tersenyum melihat Bu Mina, hal yang selalu ia lakukan setiap pagi tapi ada yang berbeda ketika melihat wajah Bu Mina, ia melihat Bu Mina tampak lebih pucat tidak seperti biasanya.
" Kenapa Bu Mina tidak seperti biasanya, perasaan ku jadi tidak enak hati, tidak.. tidak mungkin itu hanya perasaan mu saja " batin Lily
__ADS_1
" Pagi Bu Mina.. aku Lily aku ingin membersihkan tangan dan kaki ibu seperti biasanya " ucap Lily sambil tersenyum dan memegang tangan Bu Mina, ia kaget karena tangan Bu Mina terasa dingin sekali warna kulitnya juga sama pucatnya dengan wajahnya.
" Tenang Ly.. jangan berpikir macam-macam, mungkin ini hanya perasaan mu saja " ucapnya menyakinkan dirinya sendiri dalam hatinya
Lily ingin menyakinkan dirinya sendiri, ia meberanikan diri untuk memegang tangan Bu Mina, ia ingin mengecek nadi Bu Jeni, betapa kagetnya ia ketika denyut nadi itu sudah tidak ada.
" Tidak... Ini tidak mungkin " ucapnya menahan tangisnya
Lily segera mengecek alat detak jantung Bu Mina, ternyata alat itu ada yang mencabut hingga ia baru sadar jika alat itu mati dan tidak bersuara.
Lily segera membangunkan Bela yang masih tidur di sofa dengan perasaan panik, air matanya juga sudah mengalir deras di pipi Lily.
" Bel bangun Bela... Hiks.. hiks.. "
" Apa sih Ly, aku masih mengantuk ? " Ucap Bela yang masih enggan membuka matanya
" Bu Mina... Bu Mina.. Bel.. " ucapnya terbata-bata
" Ibu kenapa?? " Ucap Bela langsung bangun dari tidurnya dan segera menghampiri tempat tidur sang ibu
" Bu Mina sudah tidak ada?? " Ucap Lily benar-benar membuat dia kaget dan jantungnya sekana berhenti
" Apa maksudmu?? Tidak ada bagaimana??.. jangan bercanda kamu!! " ucap Bela dengan nada marah
" Bel.. hiks.. hiks.. " ucap Lily segera memencet tombol emergency agar para dokter dan suster datang keruangan Bu Mina
" Ibu.. bangun Bu.. jangan bercanda Bu.. ayo bangun Bu.. ibu tidak mungkin meninggalkan aku di sini sendirian kan Bu.. ?? " Ucap Bela sambil menangis
" Bel.. " ucap Lily langsung memeluk Bela agar lebih tenang
" Lepaskan aku Ly.. aku mau memeluk ibu " ucap Bela namun di cegah oleh Lily
" Bel.. " ucap Lily memeluk Bela sekuat tenaga
" Kenapa Bu.. kenapa.. " ucap Bela memegang hatinya yang terasa sakit
Para dokter dan suster langsung datang keruangan Bu Mina, sedangkan Bela di bawa keluar dari ruangan Bu Mina agar dokter dan suster bisa memeriksa keadaan Bu Mina meksipun tidak merubah apapun.
Awalnya Bela tidak mau keluar ingin melihat para dokter memeriksa sang ibu namun Lily segera membawa Bela keluar, karena Bela terus berteriak-teriak hingga para dokter merasa terganggu.
" Bel.. kamu harus tenang "
" Tenang kamu bilang, nyawa ibuku sedang di pertaruhkan... Hiks.. hiks.. ibu " ucap Bela
Lily segera menghubungi Candra untuk segera pergi kerumah sakit karena keadaan Bu Mina sedang tidak baik-baik saja apalagi sekarang Bela masih menangis terus dari tadi.
Tiba-tiba handphone milik Bela berbunyi siap lagi kalau bukan Bram yang menghubunginya, Bela segera mengangkatnya dan memberitahukan kondisi keadaan ibunya. Bram langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit dimana Bu Mina Berada. Di saat Bela mengangkat teleponnya, Lily segera masuk kedalam ruangan Bu Mina, ia ingin memastikan kondisi Bu Mina.
.
__ADS_1
.
Bersambung...