
Di sisi lain, Bram terpaksa harus meninggalkan Bela di rumah sakit karena ia harus menghadiri meting mendadak yang tak bisa ia tinggalkan. Ada sedikit masalah yang harus Bram tangani saat ini.
Meting selesai dalam waktu dua jam, semua permasalahan dengan klien bisa ia atasi, membuat dia merasa lega karena sebentar lagi ia akan menemui Bela di rumah sakit. Ia masih memikirkan cara agar bisa mengatakan tentang kehamilan Bela.
" Bram.. " panggil sang ibu masuk kedalam ruangannya bersama dengan Desi
" Mamah.. Desi?? Kenapa kalian kesini?? Ada apa ?? " Tanya Bram bingung
" Bram kamu ini bagaimana sih, hari ini jadwal check up kandungan Desi.. ayo kita kerumah sakit bersama-sama " ajak sang ibu
" Tapi mah aku sibuk " ucap Bram mencari-cari alasan, ia malas harus mengantar Desi ke rumah sakit
" Bram kamu itu bagaimana sih, tadi pagi kita sudah berjanji sama Desi mau menemaninya ke rumah sakit masa kamu ingkari janji itu sendiri " ucap Sang mamah
" Sial aku lupa lagi kalau tadi pagi aku sudah berjanji pada Desi, Aduh bagaimana ini!! kalau aku ikut mereka pasti di dokter nunggu lama kasihan Bela sendirian, tapi jika tidak ikut mereka pasti tetap memaksa aku?? aku harus mencari alasan apa lagi?? " Batin Bram
" Ayo Bram?? "
" Mah, kalau Bram tidak mau jangan di paksa, kita berdua saja yang pergi ke dokter " ucap Desi dengan wajah sedih
" Lebih baik aku temani dulu mamah dan Desi, biar nanti malam aku tidak di gangu oleh mereka, aku ingin malam ini bersama dengan Bela dan membicarakan masalah kehamilan Bela " batin Bram
" Baiklah, ayo " ajak Bram
Desi merasa senang karena Bram mau menemaninya untuk check kandungan, mereka bertiga masuk kedalam mobil, Bram segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit dimana Bela berada saat ini.
" Seperti yang mamah bicarakan Bram sebentar lagi akan peduli padaku dan anak dalam kandungan ku, apalagi setelah melihat hasil USG nanti " batin Desi
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit tersebut karena jaraknya tidak jauh dari kantor. mereka segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah sakit, Desi segera menghampiri Bram lalu memegang tanggannya.
" Desi apa-apaan sih pegang-pegang.. tapi untuk kali ini aku biarkan saja, yang penting dia tidak rewel ketika nanti aku tinggalkan " batin Bram
" Aku merasa sangat senang saat ini, Bram sepertinya sudah mulai membuka hatinya padaku terlihat ekspresinya sekarang, dia sudah tidak marah lagi ketika aku pegang tangannya " batin Desi
" Rasanya senang melihat mereka terlihat akur, bahkan Bram mau di pegang tangannya oleh Desi, ini kemajuan besar dalam hubungan mereka, aku harap mereka tidak akan pernah berpisah, aku tidak akan membuat mereka berpisah " batin Bu Jeni
Sebelumnya Desi memang sudah membuat janji terlebih dahulu pada dokter kandungan hingga dia tidak perlu repot-repot mengantri seperti yang lain.
" Nona Desi ya?? " Tanya suster
" Benar Sus, saya tadi sudah membuat janji dengan dokter " ucap Desi
" Kalau begitu silahkan masuk " ucap sang suster membukakan pintu ruangan
" Terima kasih sus " ucap Desi sambil tersenyum
Mereka bertiga masuk kedalam ruangan dokter kandungan, Bram kaget karena ternyata dokter kandungan yang akan memeriksa Desi adalah temannya dulu sewaktu SMA.
__ADS_1
" Imel?? " Ucap Bram kaget
" Bram.. astaga sudah lama sekali kita tidak bertemu, Apa kabar kamu?? " ucap Imel sambil tersenyum
" Kamu sekarang jadi dokter kandungan ternyata?? Aku sampai tidak tahu profesi mu, kabarku sekarang baik... " ucap Bram
" Kenapa Bram malah mengobrol dengan dokter ini, apa mereka dulu punya hubungan?? mereka terlihat akrab sekali " batin Desi cemburu
" Dokter Imel ternyata teman Bram.. bagus kalau begitu, nanti aku harus mengajak dia bekerja sama " batin Bu Jeni
" Kamu jarang kumpul sama teman-teman yang lain jadi tidak tahu kesibukan teman-teman yang lain.. oh ia maafkan aku malah asik ngobrol silahkan duduk, Nyonya dan Nona " ucap Imel dengan sopan
" Terima kasih Dok " ucap Bu Jeni
" Bram.. ini istrimu " tanya Imel
" Ia, kenalkan namanya Desi dan ini ibuku ku " ucap Bram
" Selamat siang Nona Dan Tante, saya Imel teman SMA Bram dulu kami satu kelas.. " ucap Imel bersalaman dengan Bu Jeni
" Saya Jeni... Mamahnya Bram "
" Saya Desi istrinya Bram " ucapnya sinis
" Kenapa istri Bram seperti ini, bukannya dulu pacar Bram cantik dan baik, mungkin Bram putus dengan wanita itu " batin Imel
" Baik kalau begitu Nona Desi silahkan berbaring di ranjang biar saya cek kandungannya " ucap Imel berdiri mengajak Desi
Suster segera membantu Desi, lalu setelah itu Imel melakukan USG pada Desi, terlihat sosok bayi yang ada dalam kandungan Desi, bayi itu mungil namun untuk jenis kelamin belum terlihat saat ini.
" Berat bayi dalam kandungan Nona cukup bagus, beratnya sedang tidak terlalu besar, apa nona masih merasakan mual atau pusing sebulan yang lalu ?? " Tanya Imel
" Tidak dok "
" Dok bagaimana dengan jenis kemalamin cucu saya, apa dia laki-laki " tanya Bu Jeni penasaran
" Tente Untuk saat ini belum bisa terlihat, tunggu satu bulan lagi pasti semuanya akan terlihat jelas " ucap Imel sambil tersenyum
" Jadi aku harus tunggu satu bulan lagi?? " Ucap Desi kesal
" Desi kamu harus sabar, apa susahnya tinggal menunggu satu bulan lagi.. " ucap Bram
" Tapi aku sudah tidak sabar ingin tahu jenis kelamin anak kita " ucap Desi dengan wajah sedihnya
" Desi, bukan hanya kamu yang ingin melihat jenis kemalaminnya, Mamah juga penasaran dengan jenis kelamin cucu mamah, tapi kita harus sabar " ucapnya membuat Desi lebih tenang
" Nona Desi harus terus jaga kondisi kesehatannya, terutama menjaga emosi Nona, nanti saya berikan vitamin diminum rutin " ucap Imel memberikan resep pada dokter
__ADS_1
" Baiklah terima kasih dok " ucap Jeni
" Kalau begitu kami permisi " ucap Bram pamit
" Silahkan.. " ucap Imel sopan
Namun sebelum pulang Bram berbisik pada Imel, ia mengatakan jika nanti pukul empat sore ia akan menemuinya di ruangan Imel. Karena Imel juga sudah lama tidak mengobrol dengan Bram ia pun hanya mengagukan kepalanya.
Mereka bertiga masuk kembali mobil Bram, sebelum Bram mengantarkan ibu dan istrinya pulang kerumah, Desi justru mengajak Bram makan siang, meskipun waktu makan siang sudah terlewat.
" Bram kita makan siang dulu, aku sedang ingin makan bersama mu " ajak Desi sambil tersenyum
" Tapi Des, aku hari ini sibuk sekali, lain waktu saja " tolak Bram membuat Desi sedih
" Bram, kita makan siang dulu, kamu belum makan nanti sakit.. lagian ini juga permintaan dari anak mu " ucap Bu Jeni
" Tapi mah.. "
" Sudah pokonya kita makan siang dulu kamu jangan protes " ucap sang Mamah
Bram memilih mengikuti keinginan sang Mamah dari pada harus berdebat, ia sudah pusing dengan pekerjaannya jangan sampai sang mamah membuat dia semakin pusing di tambah dia hari ini sangat merindukan Bela.
" Baiklah.. " ucap Bram
Mereka pergi ke salah satu restoran yang tak jauh dari rumah sakit, tampak Desi memesan beberapa makanan akhir-akhir ini nafsu makan Desi meningkat membuat Bu Jeni senang.
" Kamu ga salah pesan banyak seperti itu Des " tanya Bram
" Ya tidak apa-apa Bram, bagus kalau Desi makan banyak nanti bayinya semakin sehat "
" Oh begitu " ucap Bram tidak ambil pusing
Mereka memakan makanannya, Desi terlihat sangat lahap dan menghabiskan makanan yang ia pesan benar-benar membuat Bram menggelengkan kepalanya karena belum pernah melihat Desi serakus itu.
Setelah selesai makan, Bram segera membawa ibu dan istrinya pergi dari sana, ia melajukan mobilnya menuru rumah sang mamah.
" Mah hari ini aku senang sekali " ucap Desi sambil tersenyum
" Syukurlah kalau kamu senang, mamah juga ikut senang " ucap Bu Jeni sambil tersenyum
Kini mereka sudah sampai di halaman rumah orang tua Bram, Desi dan Bu Jeni segera turun dari mobil sedangkan Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di kantor.
" Bela.. tunggu aku... Setelah ini aku akan menemanimu di rumah sakit.. " batin Bram
.
.
__ADS_1
Bersambung...