
Bela sudah sampai di rumahnya, ia disambut oleh pelayan yang selama ini bekerja di rumahnya. Rumah tampak sepi tidak seperti biasanya yang selalu di sambut oleh sang kakak ketika ia pulang bekerja.
Hanya bayangan kenangan yang terlintas di pikirannya, ia benar-benar merindukan sosok sang kakak, hatinya sakit ketika mengingat sosok gadis periang dan baik seperti kakaknya walaupun ia sedang sakit ia tidak pernah menunjukan rasa sakitnya pada semua orang termasuk padaku.
" Non Bela, bagaimana keadaan Bu Mina " ucap pelayan rumah yang bernama Atun, mba Atun sudah bekerja di rumah bela selama sepuluh tahun, ia tahu betul bagaimana bahagianya kami bertiga tanpa sosok ayah.
" Keadaan ibu masih kritis mba, ibu koma .. dokter bilang kemungkinan bisa bertahan hanya 10% " ucap Bela dengan raut wajah sedih
" Non Bela yang sabar, mba yakin jika Bu Mina orangnya kuat, beliau pasti bisa melawan penyakitnya " ucap mba Atun menguatkan jiwaku
" Terima kasih ya mba, tolong doain ibu juga cepat sembuh dokter bilang doa yang sekarang ibu sedang butuhkan "
" Non tenang saja mba selalu doain ibu Mina dan non Sintia "
" Terima kasih mba " ucap Bela sambil tersenyum
" Aku pamit mau pergi ke kamar kakak, mba tolong siapkan beberapa pakaian aku akan menjaga ibu di rumah sakit "
" Baik Non "
" Semoga non Bela kuat menghadapi ujian dari Tuhan.. semoga Bu Mina cepat sadar " batin Mba Atun
__ADS_1
Bela Segera menuju kamar sang kakak, ia duduk di tepi ranjang, ia melihat foto kami bertiga sedang tersenyum, bela langsung mengambil foto itu lalu memeluknya. Andai waktu bis di putar kembali ia lebih baik yang ada di posisi Sintia sekarang.
" Kak, aku merindukanmu ka.. kenapa kamu tega pergi secepat itu, apa kamu sudah tidak menyayangi adikmu ini " ucap Bela menetes air matanya
Ia melihat buku harian sang kakak yang terletak di atas meja, rasa penasarannya muncul, ia mulai membuka buku harian itu lalu membaca buku tersebut dengan tangis yang tak bisa ia tahan lagi. Bagaimana sang kakak melewati hari-harinya dengan rasa sakit yang ia terima. Tapi ia tetap bahagia dengan hidupnya karena punya orang-orang yang ia sayangi termasuk nama bela yang ia cantumkan dalam buku hariannya.
" Kak.. jika bisa lebih baik aku saja yang sakit, aku tidak tahu jika rasanya snagat sakit, kakak tidak menunjukan rasa sakit itu " ucap Bela mengusap air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya.
Kini Bela menutup buku harian sang kakak, lalu meletakkannya kembali ke tempat dimana dia berada disana tadi. Lalu perhatiannya tertuju pada benda kotak yang sedari tadi berbunyi terus.
Benda itu adalah handphone milik sang kakak, nama Bram muncul di layar handphone itu, ada perasaan marah dan kesal dalam hatinya ia segera mengangkat teleponnya.
" Apa Sayang kamu bilang, setelah apa yang kamu perbuat pada kakakku " bentak Bela
" Bela.. ini kamu, dimana kakakmu Sintia, cepat berikan handphonenya pada Sintia, bilang padanya jika aku ingin berbicara dengannya " ucap Bram bingung
" Kenapa kamu tega Bram berbuat itu pada kak Sintia, apa salahnya padamu hingga kamu tega padanya dan membuat hidupku hancur.. kenapa Bram kenapa " suara batin Bela ingin rasanya berkata seperti itu namun semua emosinya ia tahan karena ia sudah tidak sanggup lagi menangis ia butuh ketenangan saat ini, ia juga sudah tidak mau bertemu atau pun bicara dengan Bram karena itu hanya akan membuat luka di hatinya semakin sakit.
" Kakak sudah tidak ada dia sudah meninggal, kamu jangan hubungi kami lagi mulai saat ini " bentak Bela
" Apa maksud mu bela " tanya Bram yang masih bingung
__ADS_1
" Ini semua gara-gara kamu.. kamu sudah membuat kak Sintia pergi untuk selama-lamanya dari hidupku " teriakan bela meluapkan kemarahannya yang tak bisa ia tahan lagi
" Kamu jangan bercanda Bela ini tidak lucu, cepat berikan handphonenya pada Sintia cepat " ucap Bram kesal
" Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu, aku sangat membenci mu.. ingat itu " ucap bela langsung menutup teleponnya
Bela menangis kembali dengan rasa pilu di hatinya ia benar-benar merasakan sakit hati, ia belum pernah membenci seseorang seperti sekarang pada Bram.
" Aghhhhh " teriakan bela dengan kencang membuat Candra yang sedang di dapur berlari menuju asal suara berasa, ia takut terjadi sesuatu pada Bela.
" Bela kamu kenapa, apa yang sakit.. katakan padaku " ucapnya sambil menatap wajah Bela yang masih menangis
" Pergi kamu dari sini, aku tidak butuh belas kasihan seperti sekarang.. kalian semua membuatku muak.. " teriakan Bela pada Candra, namun teriakan Bela tidak membuat Candra sedih dan marah ia justru memeluk Bela dengan erat.
Ia sangat mengerti akan kesedihan yang di tinggalkan Bela, ia akan sekuat tenaga membuat hubungannya dengan Bela baik-baik saja, beban di pikiran bela saat ini sangat berat ia bisa memaklumi sikap bela padanya seperti ini.
" Lepaskan aku.. lepaskan " ucap Bela meronta-ronta di pelukan Candra
" Tidak apa-apa bel, jika hal ini membuatmu lega aku rela, maki dan hina saja aku.. tapi aku tidak akan melepaskan mu, aku akan terus di samping mu dan menjagamu " ucap Candra mencoba menenangkan Bela
Bersambung
__ADS_1