
Hari ini adalah hari dimana Desi melakukan operasi sesar, wajahnya terlihat sangat ketakutan, Bram dan sang mamah mencoba menenangkan Desi.
" Sayang, kamu harus tenang, semuanya akan baik-baik saja.. kami akan mendampingi mu terus.. ia kan Bram?? " Ucap sang mamah sambil tersenyum
" Ia kamu tenang saja aku disini tidak akan kemana-mana " ucap Bram sambil tersenyum
" Kamu janji tidak boleh meninggalkan aku " ucap Desi
" Ia aku janji.. " ucap Bram sambil tersenyum
Kedua suster mulai membawa Desi ke ruang operasi, Dokter tidak memperbolehkan untuk Bram masuk kedalam karena takut menanggu proses Operasi.
Bram menunggu dengan sang mamah di depan ruang operasi dengan perasaan tegang, ia berharap bayi dalam kandungan Desi bisa selamat itu juga yang menjadi harapan sang mamah.
Bu Jeni memeluk putranya, mereka tampak saling menenangkan karena Bu Jeni sedari tadi yang paling gelisah dan tak tenang.
" Mamah ini gimana sih tadi bicara sama Desi semua aka baik-baik saja tapi sekarang mamah gelisah seperti ini "
" Mamah bilang seperti itu agar Desi lebih bersemangat.. mamah tahu dia akan bahagia jika kamu yang menyemangatinya "
__ADS_1
Satu jam kemudian operasi itu selesai, terlihat dokter keluar dari ruangan itu, Bram dan Bu Jeni segera menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan Desi sekarang.
" Dok bagaimana keadaan Desi dan bayinya " tanya Bram
" Alhamdulillah Keadaan bayinya selamat namun bayi tersebut harus di mendapatkan perawatan yang intensif sementara Nona Desi keadaannya kritis, ia harus di masukan kedalam ruangan ICU agar keadaannya cepat stabil "
" Dok apakah jenis kelamin cucuku " tanya Bu jenis
" Selamat nyonya jenis kelamin cucu nyonya adalah laki-laki " ucap sang dokter sambil tersenyum
" Syukurlah kalau begitu, pokoknya dokter harus Lakukan perawatan terbaik untuk menantu dan cucu saya dok.. selamatkan mereka saya mohon dok" ucap Bu Jeni dengan wajah memohon
" Baik Dok terima kasih " ucap Bram
Ya sedari tadi Bram tidak bicara apapun karena ia kaget dengan kondisi Desi yang kritis, ia berpikir apakah nanti Bela juga akan melahirkan seperti itu, Desi saja yang sering ia temani ke dokter bayinya bisa seperti itu sedangkan Bela ia tidak tahu apakah bayinya mendapatkan pemeriksaan selama ini karena ia jarang menemani Bela ke dokter kandungan.
" Kenapa aku jadi kepikiran Bela.. " batin Bram
Sang dokter langsung pergi dari hadapan Bram dan Bu Jeni, sedangkan Kedua suster itu mendorong ranjang tempat tidur yang di tempati Bela, mereka membawa Bela ke ruang ICU seperti yang dokter katakan.
__ADS_1
" Kasihan sekali Desi, kamu harus bersikap baik padanya dan tinggalkan wanita itu.. " titah sang mamah
" Mah.. "
" Mamah tidak mau tahu, kamu sudah berjanji dulu pada mamah kalau kamu akan meninggalkan wanita itu kalau Desi mengandung anak laki-laki.. mamah harap kamu tepati janjimu "
" Harus bagaimana ini, aku tidak mau meninggalkan Bela.. seperti sekarang saja harus jauh dari Bela rasanya aku tersiksa " batin Bram
Tak lama kemudian sosok wanita yang di bicarakan barusan datang, sosok wanita yang di benci Bu Jeni saat ini siapa lagi kalau bukan Bela.
" Kenapa Bela harus kesini " batin Bram bingung
" Kenapa wanita murahan ini datang kesini, aku tidak boleh biarkan dia.. dia harus di beri pelajaran " batin Bu Jeni
.
.
Bersambung...
__ADS_1