Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Tidak Akan Kalah


__ADS_3

Bela terbangun tepat setelah adzan subuh. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia takut jika kepergiannya di ketahui oleh Lily bisa gawat jika itu sampai terjadi.


Setelah selesai berdandan yang rapi dan cantik, ia hendak meninggalkan Bram yang masih tidur di sana, tiba-tiba handphone milik Bram berbunyi ia bisa menebak jika yang menelepon Bram saat ini adalah Desi dan tebakan Benar ia segera mengangkat teleponnya berniat ingin membuat Desi marah padanya.


" Halo Bram?? Kamu dimana?? " tanya Desi


Desi tidak tahu jika handphone milik Bram di angkat oleh Bela, ia berencana untuk membuat Desi kesal bahkan marah besar padanya. Ia ingin membuat Desi jantungan kalau perlu.


" Halo... " Ucap Bela dengan nada manja dan nada bicara yang di buat-buat agar ia tidak di curiga oleh Desi.


" Siapa kamu?? Mana Bram?? Kenapa kamu yang mengangkat teleponnya Bram ?? " Ucap Desi bingung, curiga dan marah yang kini ada di pikirannya


" Oh Bram, dia sedang tidur.. mau aku bangunkan?? tapi kasihan kalau di gangu juga semalam dia pasti kecapean.. kalau ada pesan silahkan bilang padaku nanti aku akan menyampaikan pesan mu padanya " ucap Bela sambil tersenyum jahat


" Kecapean?? Maksudnya dia apa?? Apa Bram sama perempuan itu melakukan sesuatu?? Tidak Desi jangan berpikir macam-macam tentang Bram " batin Desi


" Ayo Desi penasaran lah?? Semakin kamu penasaran semakin hatiku senang?? Semakin kamu marah semakin aku bahagia " batin Bela


" Aku tanya padamu, kamu itu siapa?? " Tanya Desi


" Aku... ?? Kamu tidak perlu tahu siapa aku?? Karena aku adalah seseorang yang di cintai oleh Bram " ucapan Bela membuat Desi melotot dan kaget


" Apa kamu bilang wanita murahan.. dasar perebut suami orang.. aku adalah istrinya bram.. katakan kamu dan Bram sedang berada dimana?? " Terikaan Desi


" Apa perlu aku kirimkan Foto Bram sekarang.. jangan pura-pura tidak tahu?? Apa kamu tidak menyadari perubahan Bram saat ini padamu?? karena Bram sekarang sudah mencintai ku jadi bersikap baiklah karena jika sekali lagi kamu menyebut ku dengan sebutan wanita murahan aku pastikan Bram segera menceraikan mu "


" Jangan berani-berani mengancam ku, karena aku tidak pernah takut padamu.. hadapi aku sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan mu merebut Bram dariku "


" Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang, aku apa dirimu.. siapa yang akan di pilih Bram nantinya.. ingat jangan terlalu percaya diri.. " ucap Bela lalu menutup teleponnya

__ADS_1


" Benar-benar wanita yang merepotkan... Muak aku mendengar ucapannya " batin Bela segera pergi dari sana


Bela naik taksi dari apartemen menuju rumah sakit, untung jarak antara apartemen tidak jauh dari rumah sakit hingga tak butuh waktu lama Bela sudah sampai di rumah sakit.


Ia segera menuju ruangan sang ibu, ia melihat bodyguard masih berjaga di depan ruangan sang ibu, Bela segera masuk kedalam. Ia melihat sang ibu yang masih terbaring lemah di sana.


" Bu.. maafkan Bela meninggalkan ibu sendirian.. yang harus ibu tahu Bela sangat sayang ibu " batin Bela


Bela membaringkan tubuhnya di sofa lalu mencoba menutup matanya kembali, rasanya ia masih mengantuk sekali dan tubuhnya juga sangat lelah namun sebelum ia tidur ia meminum dulu pil penunda kehamilan yang selalu ia bawa dalam tasnya.


Dua jam kemudian Lily datang ke ruangan Bu Mina, ia heran karena Bela sudah memakai baju rapi, tapi dia malah masih tidur. Ia langsung membangunkan Bela.


" Astaga Bela bangun... Ini sudah jam berapa?? nanti kamu terlambat bekerja " Ucap Lily sambil mengguncang tubuh Bela


" Astaga Lily kamu kenapa berisik sekali, aku masih sangat ngantuk "


" Aku heran sama kamu, kamu itu sedang tidur tapi baju mu begitu rapi?? " Tanya Lily


" Astaga Bela kamu kenapa semangat sekali pergi ke kantor.. apa ada masalah di kantor tempat kamu magang ?? atau kamu sedang jatuh cinta hingga bersemangat seperti itu.. "


" Apa sih.. aku tidak sedang jatuh cinta, Biasalah masalah kerjaan, bos minta aku segera menyelesaikan pekerjaan ku " ucap Bela bangun lalu pergi ke kamar mandi


" Kenapa aku merasa Bela membunyikan sesuatu padaku?? Tapi apa ya??.. akh mungkin hanya pikiran ku saja " batin Lily


" Semoga Lily percaya dengan ucapan ku barusan?? Semoga dia tidak curiga " batin Bela


Niatnya ingin segera kabur dengan beberapa pernyataan yang Lily berikan, rasanya tak sanggup jika harus membohongi Lily terus, Lily sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri dan Bela merasa bersalah jika harus membohongi Lily.


Seperti biasanya Candra masuk kedalam ruangan Bu Jeni sambil membawakan makanan untuk Bela dan Lily. Memang setiap pagi Candra selalu begitu.

__ADS_1


" Mana Bela?? " Tanya Candra


" Dia ada di kamar mandi.. kamu bawa makanan apa?? "


" Nasi kuning untuk kita bertiga "


" Terima kasih "


Tak lama kemudian Bela selesai dari kamar mandi, ia segera menghampiri Candra dan Lily yang sedang makan bersama. Dia duduk di samping Lily dan mengambil makanan yang di berikan Candra.


" Makanlah.. "


" Terima kasih " ucap Bela sambil tersenyum


" Kita berangkat bersama-sama " ucap Candra


" Tapi... " Ucap Bela terpotong


" Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan Bram.. dia laki-laki yang tidak baik untuk mu.. " ucap Candra


" Bagaimana ini, semoga aku bisa cari alasan agar Candra tidak mengantar Bela pergi ke kantor bisa ketahuan jika aku magang di kantor Bram.. nanti ayah memarahiku " batin Bela


Mereka segera memakan sarapannya dengan lahap, Candra memang baik dan pengertian selalu memberikan makanan untuk Bela dan Lily. Hal itu membuat Lily senang dengan kebaikan Candra, dia semakin menyukai sosok Candra.


Apalagi ketika Bela masih membenci Candra, dengan sabar dia terus menemani Bela di saat-saat terpuruknya. meskipun sikap Bela saat itu kasar karena Bela masih membencinya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2