
Tak lama kemudian Lily datang keruangan Bela membawakan makanan yang sedari tadi ia bawa ketika datang ke rumah Bela. Ia sengaja datang kerumah Bela karena ia tahu bawa Bela saat ini pasti terpuruk, ia berniat membawa makanan kesukaan Bela untuk menghibur Bela tapi yang di carinya malah tidak ada.
" Bela.. kamu tidak apa-apa ? " Tanya Lily dengan wajah cemas
" Kamu jangan khawatir Ly.. aku baik-baik saja "
" Kamu sudah makan?? "
" Sudah.. barusan "
" Kamu di sini sendirian?? Mana Bram?? " Tanya Lily
" Ya, Tadi Bram disini tapi dia harus pergi ke kantor.. "
" Oh ia aku lupa Candra hari ini ada meting penting jadi tidak bisa menemanimu jadi aku sengaja pergi kerumah mu tapi kamu malah disini "
" Ly, aku merindukan ibu " lirih Bela
" Aku tahu perasaan mu bagaimana, memang kehilangan sosok seorang ibu itu menyakitkan.. aku juga sangat merindukan ibuku Bel " ucap Lily memeluk Bela
" Ly, aku harus bagaimana Ly.. Aku tidak bisa hidup tanpa ibu.. " ucapnya sambil menangis
" Kamu harus kuat Bel.. ada aku?? Aku tidak akan meninggalkan mu.. kamu sudah aku anggap seperti keluarga ku sendiri " ucap Lily mencoba menenangkan Bela
Bela menangis di pelukan Lily, mencurahkan semua kesedihannya, Lily hanya mengusap punggung Bela agar lebih tenang. Untuk kali ini Lily membiarkan Bela meluapkan semua kesedihannya.
" Menangis lah Bel, luapkan semua kesedihan mu agar kamu bisa lega.. tapi besok kamu harus berhenti menangis.. " ucap Lily
Melihat keadaan Bela sekarang membuat dia ingat dulu ketika ia kehilangan sosok seorang ibu, dia pernah di posisi Bela dulu hidupnya juga hancur, ia harus di kirim ke panti asuhan oleh neneknya karena neneknya tidak mau mengurus dirinya.
" Bel, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman, udaranya segar kamu pasti suka.. " ajak Lily
" Baiklah "
Lily membawa kursi roda untuk Bela, lalu mendorong Bela ke taman yang tak jauh dari ruangan Bela, disana tampak rame ia melihat ada anak-anak sampai orang dewasa.
" Bel, Kita duduk saja disini ya." Ucap Lily
Mereka duduk disana, memperhatikan satu persatu orang-orang disana lalu ada satu anak kecil berumur lima tahun menghampiri Bela, dengan wajah lucunya ia juga duduk di samping Bela.
" Kamu namanya siapa?? " Tanya Lily
" Namaku Nasya Tante " jawabnya sambil tersenyum
" Tante, kenapa Tante pakai baju rumah sakit, apa Tante sakit juga kaya aku?? " Tanyanya pada Bela
" Tante Hanya Kecapean saja.. " ucap Bela sambil tersenyum
" Umur kamu berapa tahun Nasya?? " Tanya Lily
" Aku umurnya Lima tahun Tante?? " Ucapnya sambil tersenyum
__ADS_1
" Tante rambutnya bagus.. lurus dan panjang.. Nasya nanti mau punya rambut kaya Tante " ucapnya
" Loh kamu kan punya rambut juga " ucap Lily heran
" Tante.. aku ga punya rambut ini rambut palsu " ucapnya sambil memperlihatkan rambut botaknya
Bela dan Lily benar-benar kaget melihatnya, anak kecil umur lima tahun tapi tidak punya rambut, Lily langsung menduga jika anak ini punya penyakit kanker di lihat dari wajahnya yang tampak pucat dan tidak punya rambut seperti sekarang.
" Nasya memang kamu punya penyakit apa?? " Tanya Bela
" Kata dokter aku terkena kanker " ucapnya sedih
" Lalu di mana ibumu " tanya Bela heran kenapa orang sakit di biarkan berkeliaran sendirian
" Ibu sedang menangis di toilet, Nasya sedih melihat ibu sedih terus karena kata dokter umur Nasya tidak lama lagi.. "
" Memengnya Nasya tidak Sedih mendengar hal itu " tanya Lily dengan wajah sedih
" Nasya lebih sedih jika ibu selalu menangis.. Nasya mau kemoterapi karena bujukan ibu tapi ibu tetap saja menangis " ucapnya sambil menangis
Bela yang tidak tega melihat anak itu langsung memeluknya, tak lama kemudian ibu Nasya menghampirinya dengan wajah sembabnya ucapan Nasya benar ibunya seperti habis menangis.
" Nasya ayo kita kembali keruangan mu lagi.. kamu harus istirahat di ruangan jangan kemana-mana.. kata dokter kamu jangan sampai kelelahan, kamu juga belum minum obat " bujuk sang ibu
" Aku bosan di kamar terus bu.. aku juga tidak mau melihat ibu menangis.. karena di ruangan ku ibu selalu menangis aku jadi sedih, aku tidak mau minum obat!! "
" Nasya kamu harus nurut sama ibu mu.. jangan seperti kakak yang sudah tidak punya ibu.. " ucap Bela sedih
" Kalau begitu cepat minum obat agar cepat sembuh " bujuk Lily
" Baiklah.. " ucapnya langsung di gendong oleh sang ibu di bawa ke kamar
Tampak Bela sedih kembali, Lily pun segera memeluknya kembali. " Kamu kenapa sedih lagi "
" Aku sedih kenapa anak sekecil dia bisa punya penyakit berat seperti itu tapi dia tidak ada beban sama sekali " ucapnya melepaskan pelukannya Lily
" Kamu tahu Bel obat yang di berikan untuk penderita kanker efek sampingnya keras pada tubuhnya, lihat kemoterapi yang sangat menyakinkan hingga rambutnya rontok, aku justru salut pada anak itu.. dia merasakan kesakitan selama ini tapi dia tidak bicara hal itu pada ibunya takut membuat ibunya sedih.. " ucap Lily
Bela menangis kembali membuat Lily heran kembali, apa emang Bela sedih karena ibunya Nasya atau apa?? Tapi sedih Bela sekarang bukan kesedihan seperti tadi.
" Bel kenapa kamu nangis lagi "
" Kenapa Bela cengeng sekali atau mungkin hanya perasaan ku saja " batin Lily
" Aku sedih dengan masih Nasya.. dia anak kecil tapi sangat kuat " ucap Bela menghapus air matanya
" Kamu harus kuat seperti Nasya dan ibunya.. mereka sama-sama kuat dalam menghadapi cobaan dalam hidupnya.. " ucap Lily
" Kamu benar Ly.. aku harus kuat, aku ga boleh sedih terus " ucap Bela sambil tersenyum
" Nah gitu dong.. itu baru sahabat ku " ucap Lily sambil tersenyum
__ADS_1
" Ly, aku mau rujak " ucap Bela membuat Lily heran biasanya orang sakit tidak akan minta yang macam-macam
" Bel, bel masa mau makan rujak, orang sakit makannya itu bubur bukan rujak.. kamu ini seperti orang yang sedang hamil saja.. ngidam kamu?? " Ucap Lily sambil tertawa
Deg
Mendengar kata Hamil membuat Bela merinding sendiri, namun ia menepis semua yang ada dalam pikirannya, ia selalu meminum pil penunda kehamilan mana mungkin dia bisa hamil, Dia menduga jika keinginannya makan pedas akhir-akhir ini karena hormon mau datang bulan.
" Mana mungkin aku hamil.. kamu ada-ada saja " ucap Bela sambil tersenyum
" Ia sih Bel, tapi temen aku masa dia belum nikah tapi hamil?? Aneh kan?? Katanya dia hamil sama pacarnya.. ya meskipun selalu meminum pil kontrasepsi tapi ya namanya hamil bisa saja terjadi.. ia kan?? Sungguh memalukan " ucap Lily
" Jangan sampai aku seperti itu, apa aku cek ke dokter kandungan.. akh tapi kan aku tidak hamil " batin Bela
" Oh Ly, aku mau kembali ke kamar " ucap Bela
" Baiklah.. "
Lily mendorong kursi roda menuju ruangan Bela, disana sudah ada Suster yang ingin mengecek kondisi kesehatan Bela. Ia juga membawakan obat yang harus Bela minum.
" Nona Bela sudah jalan-jalan ya.. di taman udaranya memang bagus tapi jangan sering-sering apalagi ketika malam nanti nona masuk angin " ucap sang suster
" Ia sus.. "
" Saya cek dulu kondisi Nona " ucapnya
Tak lama kemudian Sang suster memberikan obat vitamin untuk Bela membuat Lily bingung karena memang Lily juga tahu obat yang di berikan Suster itu.
" Tunggu su.. "
" Ada apa?? "
" Bukannya ini obat penguat kandungan?? Kenapa sahabat saya di berikan obat seperti ini.. maaf kebetulan saya juga perawat di rumah sakit sebelah " ucap Lily
" Memang ini obat penguat kandungan, nona Bela memang sedang hamil tiga bulan " ucap sang suster membuat Bela dan Lily kaget
" Apa hamil?? " Ucap keduanya
" Tidak.. tidak mungkin aku hamil.. aku ga mau hamil?? ini tidak boleh terjadi " Batin Bela
" Hamil?? Apa Bela sama seperti teman ku yang tadi aku ceritakan " batin Lily kaget dan memandang wajah Bela
" Kalau begitu saya permisi " ucap sang suster segera pergi dari ruangan Bela
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1