
Sedangkan di tempat lain Desi sedang marah-marah sambil teriak-teriak ia tidakbisa terima jika wanita ular yang bernama bela itu berhasil menang darinya bahkan sedang bersama dengan Bram kini.
" Kenapa sih, Sintia mati muncul adiknya yang licik itu... Aku harus singkirkan dia bagaimana pun caranya " ucap Desi sambil melempar gelas yang ada di atas meja kamarnya membuat sang mertua kaget dan segera menghampirinya.
" Astaga Desi kamu kenapa lagi sih.. kamu ga cape terus marah-marah seperti ini " ucap Bu Jeni kesal dengan kelakuan menantunya itu.
" Mah, Bram sekarang sedang bersama dengan wanita itu, aku tidak terima mah.. Bram harus jadi milikku seutuhnya Mah "
" Bram memang sudah menjadi milikku nak, kamu jangan khawatir.. yang harus kamu lakukan adalah memisahkan Wanita itu dengan Bram.. makanya kamu jangan marah-marah terus, harusnya kita cari cara agar Bram bisa jauh dari wanita itu " ucap Bu Jen
" Bagaimana caranya Mah.. " ucap Jeni kesal
" Besok kita pikirkan kembali.. sekarang kamu tidur dulu agar pikiranmu lebih jernih " ucap Bu Jeni membujuk menantunya itu
" Baiklah Bu " ucapnya
Desi mencoba untuk tidur dan memejamkan matanya, meskipun ia tidak bisa tidur, ia hanya berguling-guling di tempat tidurnya, ia masih memikirkan Bram dengan wanita itu, ia takut jika Bram jatuh cinta pada wanita itu, bisa gawat kalau itu terjadi.
" Awas saja kalau wanita itu menggoda Bram, aku pastikan hidupnya tidak bisa tenang lagi " batin Desi
.
.
.
Bram pulang ke apartemennya tepat pukul dua belas malam, ia terlalu asik ngobrol dengan Bela hingga lupa waktu, sesampainya di apartemen Bram segera mengganti bajunya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
__ADS_1
Sosok bayangan Bela kini selalu terbayang-bayang di kepalanya dia tidak menyangka Bela bisa berubah padanya, dulu ketika ia masih berpacaran dengan Sintia sosok Bela selalu acuh dan cuek padaya. mereka tidak sedekat sekarang.
Bram merasa ada yang menarik dari diri Bela namun entah apa ia juga tidak tahu tapi yang ia rasakan adalah kenyamanan ketika dekat dengan Bela, kehadiran Bela sungguh membuat ia melupakan kesedihannya yang baru kehilangan Sintia.
Kehadiran Bela seolah menjadi obat penyembuh hatinya meskipun Bram hanya menanggap Bela sebagai adiknya sendiri tapi perasaan nyaman itu berbeda antara adik dan kakak dan hal itu yang harus ia akui saat ini.
" Bela.. Bela kamu menarik... Astaga apa yang kamu pikirkan Bram.. ingat bela adiknya Sintia kamu tidak boleh punya perasaan lebih padanya.. ingat sekarang dia adalah adikmu.. adik mu.. "
Ia mulai menutup matanya lalu tidur dengan nyenyak, baru kali ini ia merasaka tidur yang nyenyak lagi setelah beberapa Minggu ini ia tidak bisa tidur nyenyak karena semua masalah yang ada di hidupnya begitu rumit.
Kini waktu sudah menunjukan pukul enam pagi, Bram buru-buru bangun dari tempat tidurnya lalu segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Tapi sebelum pergi ke kantor ia menyiapkan dulu sarapan untuknya dan untuk Bela.
Roti bakar dengan isi keju ia masukan kedalam kotak makanan, tak lupa ia juga memasukan susu kotak kedalam kotak bekal yang sudah ia siapkan untuk Bela.
" Pasti Bela suka " ucapnya sambil memakan sarapannya sambil tersenyum
Masih ada bodyguard yang selalu menjaga ketat ruangan Bu Mina, ia segera mengetuk pintu ruangan Bu Mina. kedua bodyguard itu mempersilahkan Bram untuk masuk kedalam ruangan itu.
" Terima kasih pa.. "
" Sama-sama Tuan " ucap Kedua bodyguard itu dengan ramah.
Bram masuk kedalam ruangan Bu Mina, ia melihat jika Bela sedang merias wajahnya dengan make up tipis agar terlihat lebih segar meskipun ia bisa melihat kantung mata Bela yang kurang tidur.
" Kamu sudah cantik, jangan bercermin terus " ucap Bram sambil tersenyum
" Kak Bram, kenapa kakak ada disini, apa semalam ada yang ketinggalan?? " tanya Bela sambil tersenyum
__ADS_1
" Tidak, aku hanya ingin memberikan mu ini " ucap Bram memberikan kotak makanan untuk Bela.
" Wah, apa ini... Aku buka ya!! " ucap Bela yang penasaran.
Ketika Bela membuka kotak makanan itu, ia melihat roti bakar yang harum dan menggugah selera makan, ia segera mencicipi roti itu, dan rasanya enak Bela sangat suka terlihat dengan lahapnya Bela memakan rotinya.
" Enak... " Tanya Bram sambil tersenyum melihat Bela memakan rotinya
" Enak kak... Uhuk.. uhuk... " Bram segera mengambil Susu kotak yang tadi ia sipakan, ia berikan pada Bela yang saat ini tersedak.
" Jangan buru-buru makannya, tidak akan ada yang merebut makanan mu " ucap Bram
" Maaf ya kak, makanannya enak aku suka jadi aku buru-buru makannya, dan aku juga baru ingat, jika aku sudah telat pergi ke Cafe makanya aku jadi tersedak "
" Kalau begitu ayo kita berangkat bareng sama aku.. biar aku yang antar kamu ke Cafe agar tidak telat " ajak Bram
" Tapi kak, nanti ngerepotin Kakak "
" Jangan berpikir seperti itu, ayo kita pergi sekarang " ucap Bram menarik tangan Bela
" Tunggu dulu kak, aku mau pamit dulu sama ibu " ucap Bela melepaskan tangan Bram lalu segera menghampiri sang ibu yang masih terbaring lemas di ranjang tempat tidur dengan mata tertutup.
" Bu, Bela pamit pergi ke Cafe dulu ya.. ibu cepat sembuh.. aku rindu ibu " ucap Bela mencium kening sang ibu.
" Bu, Bram juga pamit ya Bu.. ibu jangan khawatir Bram akan jagain Bela " ucap Bram menghampiri ranjang tempat tidur Bu Mina
Mereka langsung pergi dari sana menuju mobil Bram, Dia akan mengantar Bela terlebih dahulu ke cafe sebelum ia pergi ke kantor. mungkin mulai saat ini Bram akan setiap hati mengunjungi rumah sakit dimana Bu Mina berada.
__ADS_1
Bersambung...