Balas Dendam (Pelakor)

Balas Dendam (Pelakor)
Kesedihan Bram


__ADS_3

Bram dan Deon segera mendatangi alamat yang di berikan Candra tadi. Mereka ingin memastikan jika informasi itu benar atau salah, mereka tidak akan percaya jika Sintia sudah meninggal kalau tidak melihat kuburannya secera langsung, walaupun dalam hati mereka tidak percaya akan hal itu.


" Apa kamu sudah gila mengajakku ketempat seperti ini, mana mungkin Sintia ada disini, Sintia tidak mungkin sudah meninggal " ucap Bram dengan nada marah pada Deon


" Aku juga sama seperti mu tidak percaya kalau sintia meninggal tapi kita harus memastikan dengan mata kita sendiri " ucap Deon


Hati kecil Bram menolak dengan semua ucapan Bela maupun laki-laki yang bernama Candra itu, " Bela hanya bercanda mengatakan itu, kamu tahukan sebelumnya Sintia baik-baik saja mana mungkin dia meninggal " ucap Bram tidak terima jika wanita yang ia sayangi di bilang sudah meninggal


" Aku sebenarnya tidak percaya akan berita itu tapi batu nisan itu bertuliskan nama Sintia lengkap.. apa jangan-jangan itu kuburan Sintia, apa itu yang di maksud oleh Bela dan Laki-laki yang ada di rumah Bela " batin Deon


" Kenapa kamu diam, ayo kita pergi dari sini " ucap Bram


" Tunggu Bram... " ucap Deon memegang tangan Bram


" Apa lagi.. " ucap Bram dengan nada marah mencoba melepaskan tangan Deon


" Lihat itu " ucap Deon menujukan baru nisan bertuliskan nama Sintia.


Seketika tubuh Bram lemas, tubuhnya pun jadi kaku dan sudah di gerakan, ia tidak mau menerima kalau wanita yang ia cintai memang sudah meninggal dunia.


" Ini pasti bohong kan?? " ucap Bram menghampiri batu nisan yang bertuliskan nama wanita yang ia cintai itu

__ADS_1


" Aku juga berharap begitu " ucap Deon dengan air mata membasahi pipinya. Ia cukup mengenal Sintia, ia tahu betul siapa Sintia, wanita yang baik dan periang yang selalu ramah pada siapapun termasuk padanya


Deon mengenal Sintia dengan baik ketika, mereka satu kampus, meskipun Sintia sakit tapi ia tidak pernah menunjukan sakitnya selama mereka kuliah, gadis ceria dan tidak pernah mengeluh tiba-tiba punya penyakit parah membuatnya kaget teman-teman yang lainnya apalagi sekarang sudah terbaring di tanah.


Deon segera menghampiri kuburan Sintia, ia langsung menangis disana sedangkan Bram tampak mengambil alat untuk membongkar kuburan Sintia.


" Apa yang akan kamu lakukan, apa kamu sudah gila Bram " ucap Deon dengan nada marah


" Aku tidak percaya semua ini, mana mungkin Sintia ada disini, mereka pasti bohong, katakan padaku jika semua ini bohong " ucap Bram


" Kamu harus bisa menerima kenyataan ini Bram.. Sintia memang sudah meninggal.. jangan bersikap seperti ini dia pasti akan sedih melihat mu seperti ini di alam sana " ucap Deon dengan nada marah


" Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Sintia meninggal, apa benar ucapan Bela jika Sintia meninggal itu semua gara-gara aku " batin Bram


Ia memeluk nisan Sintia kembali, rasanya ia sangat bersalah pada Sintia, ia juga merasa bersalah pada Bela jika benar kalau kematian Sintia ada hubungannya dengan dirinya. Tapi apa yang sebenarnya terjadi, Bram masih bertanya-tanya pada hati dan pikirannya.


" Maafkan aku Sintia,.. maafkan aku juga bela.. bagaimana pun juga aku harus menjaga bela, dia adik satu-satunya yang sangat Sintia sayangi.. mungkin dengan begitu kalian akan memaafkan aku " ucapnya dalam hatinya.


Tiba-tiba suara handphone berbunyi tanda seseorang sedang menghubunginya, ia langsung mengangkat teleponnya karena telepon itu dari sang ibu.


Kring... Kring...

__ADS_1


" Halo " ucap Bram menghapus air matanya


" Kamu dimana sih Bram, kenapa sudah dua hari tidak pulang, lihat Desi istrimu kasihan dia terus menunggu kepulangan mu " ucapnya dengan nqda marah


" Itu salah dia sendiri, kenapa menunggu ku lagian mah aku sudah bilang berapa kali pada mamah jika aku tidak menyukai Desi, sampai kapan pun hati ini hanya untuk Sintia "


" Suka atau tidak suka sudah tidak ada gunanya lagi untuk mu, karena kamu sudah menikah dengan Desi, kamu sekarang sudah jadi suaminya tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu padanya "


" Suruh siapa mau menikah dengan ku, dari awal aku tidak mau menikah dengan Desi, pernikahan ini Mamah dan Desi yang mau kan " ucap Bram langsung menutup teleponnya


Deon melihat raut wajah Bram yang tampak marah dan kesal, ada juga raut kesedihan di wajahnya. Deon tau ini bukan waktu yang tepat untuk membujuk Bram pergi ke kantor, tapi ini klien sangat penting dan tidak bisa di tunda lagi. " Bram, sebaiknya kita pergi ke kantor.. hari ini kita ada Meting penting " bujuk Deon


" Kamu urus semuanya, aku tidak mau meninggalkan tempat ini, aku tidak mau meninggalkan Sintia, aku mau disini saja "


" Yang benar saja, masa ia Bram mau diam disini sampai malam.. bagaimana kalau ada penampakan disini, sial kenapa bulu kudukku merinding begini kan jadi serem " batin Deon


" Tidak bisa, kamu harus pergi dengan ku ke kantor, ini klien sangat penting kamu tidak bisa seperti itu kalau kita gagal dalam proyek ini perusahaan akan rugi.. " ucapnya


" Baiklah " dengan terpaksa Bram menuruti Deon karena perkataannya ada benarnya. Walaupun Bram merasa sedih harus meninggalkan Sintia, tapi Bram juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya apalagi ini klien penting, dengan berat hati Bram segera meninggalkan pemakaman itu, namun sebelum ia pergi ia pamit dahulu pada Sintia dan berjanji padanya akan sering berkunjung kesini dan dia juga berjanji untuk menjaga Bela.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2