
Bram masih berada di dalam kamarnya, suara ketukan dari luar pintu apartemennya membuat dia kesal apalagi suara teriakan itu dia sangat mengenalinya, suara itu berasal dari wanita yang ia benci saat ini.
" Bram buka pintunya!! " teriakannya
" Mau apa lagi sih dia kesini, benar-benar merepotkan " ucap Bram yang malas sekali membuka pintu, ia malah masuk ke dapur untuk mengambil air minum tanpa ingin membuka pintu apartemennya.
" Bram aku tidak akan berhenti mengetuk pintu ini sampai kau membuka pintunya, Bram dengar itu.. kita harus bicara " ucap Desi
Sosok wanita yang sekarang sedang membuat keributan adalah Desi, ia sengaja datang ke apartemen milik Bram sambil menangis. Ia berharap jika Bram bisa memaafkannya karena ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara agar Bram bisa menerima dia sebagai istrinya, ia lakukan semua keributan itu supaya dia bisa bertemu dengan Bram dia tidak mau kehilangan Bram apalagi sampai bercerai dengan Bram.
Bram sosok laki-laki yang baik, tampan dan kaya membuat para wanita banyak yang menyukainya tapi cinta dan sayangnya hanya untuk Sintia seorang, apalagi Bram dan Sintia sudah berpacaran selama tiga tahun saat mereka masih kuliah dan Desi tahu akan hal itu karena mereka satu kampus yang sama dan berbeda jurusan.
__ADS_1
Cinta memang buta bahkan bisa membutakan perumpamaan itu sama halnya dengan yang Desi lakukan saat ini, ia sengaja melamar pekerjaan sebagai sekretaris Bram, ia mencoba mendekati Bram dengan segala cara asalkan dia bisa bersama dengan Bram laki-laki yang ia cintai, sebagai seorang sekretaris tentunya Desi punya kesempatan untuk lebih dekat dan akrab dengan Bram. Desi memang sangat menyukai Bram meskipun Bram sudah punya kekasih, tidak menurutkan niatnya untuk memiliki Bram seutuhnya.
Hingga suatu saat ibu kandung Bram yang bernama Jeni menghampirinya dan menanyakan akan perasaan Desi pada putranya itu, membuat Desi mau tidak mau harus mengatakan yang sebenarnya jika dia sangat menyukai Bram. Awalnya Desi ragu-ragu dan takut pada Bu Jeni karena sudah berani menyukai putranya apalagi dia tahu jika Bram memiliki hubungan dengan wanita lain yang pastinya mereka sudah kenal.
Namun dugaanya salah Bu Jeni malah tersenyum dan memberikan sinyal pada Desi Untuk mendekati Bram secara terang-terangan, ia juga mengatakan jika ia sebenarnya tidak menyukai Sintia karena kekasih Bram itu penyakitan dan tidak pantas untuk putranya itu, yang Bu Jeni inginkan jika Desi bisa mendekati Bram dan bisa menikah dengan putranya itu. Hal itu tidak di sia-siakan oleh Desi, ia langsung merencanakan penjebakan pada Bram dengan memasukan obat tidur pada minuman ketika mereka sudah selesai meting dengan klien.
Desi juga sudah memesan kamar hotel yang dekat dari restoran dimana mereka berada sekarang agar lebih memudahkan rencananya. Ketika semua sudah sesuai dengan rencananya barulah ia menghubungi Calon mertuanya itu untuk datang bersama ayah dan ibunya ke kamar hotel.
Keputusan bodoh Bram saat itu adalah mengiyakan pernikahannya dengan Desi karena ia tidak mau melihat ibunya menangis karena ancaman-ancaman yang di buat oleh pihak keluarga Desi, hingga beberapa perjanjian pun mereka buat agar Bram mau menikah dengan Desi. Namun pada kenyataannya mereka sendiri yang berkhianat dan membocorkan pernikahan Bram dengan Desi pada Sintia.
Kembali pada Desi yang masih mengetuk pintu apartemen Bram tanpa henti membuat dia marah dan menelepon petugas keamanan untuk menyeret Desi pergi dari depan apartemennya, Bram bahkan mengatakan jika sosok wanita yang ada di depan pintu apartemennya tidak boleh di biarkan masuk ke gedung apartemennya lagi.
__ADS_1
Petugas pun menuruti keinginan Bram dan langsung menyeret Desi pergi dari sana. Dengan tersenyum penuh kemenangan membuat Bram senang karena ia bisa menyingkirkan wanita yang ia benci sat ini.
" Lepaskan aku, Bram buka pintunya aku mau bicara sama kamu " ucapan Desi sama sekali tidak di respon oleh Bram, kedua petugas itu langsung memegang kedua tangan Desi dan membawanya ke luar gedung apartemen secara kasar karena Desi selalu berontak.
Bram kembali lagi ke dalam kamarnya kepalanya pusing sejak kemarin ia mendengar kabar jika Sintia meninggal ia sudah kehilangan selera makan hingga ia tidak memakan makanan apapun membuat tubuhnya lemas dan wajahnya pucat.
Tak lama kemudian Deon masuk kedalam apartemen Bram seperti biasanya, namun ia kaget ketika melihat isi apartemen Bram sangat berantakan, Deon mengira jika itu bentuk kemarahan Bram memang Bram ketika marah seperti itu, apalagi saat ini ia di tinggalkan oleh Sintia wanita yang sangat Bram cintai. Ia segera menuju kamar Bram untuk menyerahkan Beberapa berkas yang harus di tanda tangani Bram karena berkas ini berkas penting.
" Bram kamu dimana " teriakan Deon
Deon langsung menuju kamar Bram, ia menduga jika Bram pasti berada di sana, namun ia kaget ketika membuka pintu kamar Bram karena keadaannya sangat gelap, Deon langsung menyalakan lampu, ia melihat wajah pucat Bram dan langsung segera menghampiri Bram lalu memeriksa wajah Bram yang ternyata demam tinggi.
__ADS_1
Dengan panik ia langsung membawa Bram ke rumah sakit, ia meminta bantuan petugas keamanan untuk membawa tubuh Bram masuk kedalam mobil miliknya. Setelah itu Deon langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Bersambung...