
Kini Desi sudah selesai menyelesaikan tugasnya untuk membuat sarapan untuk suaminya itu, tak lupa juga ia menyiapkan kopi hangat kesukaan Bram. kali ini ia harus membuat Bram terkesan padanya.
Ia langsung menuju kamar Bram, di depan kamar itu ia mundar mandi seakan bingung karena ia tidak bisa masuk kedalam kamar Bram. pintunya masih di kunci oleh Bram.
Tok... Tok... Tok...
" Bram.. bangun.. " teriakannya
Tapi di dalam ruangan itu tidak terdengar suara apapun, Desi mulai menembak apa yang di lakukan oleh Bram, namun ia takut jika tidak segera membangunkan Bram nanti dia yang akan di marahi Bram.
Desi mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Bram tapi lagi-lagi tidak ada balasan. Ia langsung mengambil handphonenya dan mulai menghubungi Bram dengan cara ini Bram akan mendengar suara handphonenha lalu mengangkat teleponnya kemudian dia akan bangun dari tidurnya. Tapi ia malah kaget karena nomor handphone Bram sedang sibuk.
" Sialan, siapa sebenarnya yang sedang Bram hubungi kenapa dia mengabaikan teriakan aku.. apa wanita itu yang sedang menghubungi Bram.. ini tidak bisa di biarkan, aku harus memberikan pelajaran pada orang yang sudah berani mendekati Bram.. sampai kapanpun Bram milikku dan tidak ada seorang pun yang boleh merebut Bram dariku " batin Desi
Desi segera menuju ruangan makan, ia duduk disana dengan perasaan marah dan kesal, ia benar-benar tidak tahan jika benar Bram bermain dengan Wanita lain di belakangnya, ia akan tahan jika sikap Bram dingin dan cuek padanya tapi ia tidak Rela jika Bram mencintai wanita lain selain dirinya.
Ia mengirimkan pesan pada nomor handphone yang ia anggap sebagai wanita yang dekat suaminya itu, ia ingin tahu wanita seperti apa yang ingin bersaing dengan dirinya karena ia tidak akan kalah dengan Wanita lainnya.
Tiga puluh menit kemudian Bram membuka pintu kamarnya dengan penampilan rapi dan wangi, Desi sangat menyukai penampilan tampan sang suami tapi ia juga khawatir jika wanita lain akan menyukai suaminya juga.
Bram menuju ruang makan, ia melihat jika sosok Desi sudah ada disana dan menunggunya. Ia segera duduk di hadapan Desi dengan wajah cueknya. Desi menatap wajah suaminya dalam dan penuh curiga.
" Siapa yang menghubungi mu pagi-pagi sekali?? " tanya Desi
" Bram jawab pertanyaan ku?? "
__ADS_1
" Maksud mu apa?? pagi-pagi sudah mengajak ribut saja?? " Tanya Bram cuek ia mengambil Roti yang sudah di siapkan Desi
" Tadi aku mencoba membangunkan mu, aku mengetuk pintu kamarmu tapi tidak ada jawaban dari mu.. " ucap Desi
" Oh, mungkin aku tidak mendengar suara mu yang jelek itu " ucap Bram santai
" Lalu aku mencoba untuk menghubungi mu tapi nomor handphone mu malah sibuk, katakan Bram siapa wanita itu?? Wanita tak tahu diri yang menggoda kamu " ucap Desi dengan nada marahnya
" Jaga bicaramu, dia bukan wanita seperti itu, bukannya kamu duluan yang menggoda ku terlebih dahulu, hingga aku tidur dengan mu.. jangan pernah samakan kamu dengan dia, karena dia jauh lebih baik dari kamu " ucap Bram dengan nada marah
" Kenapa Bram?? kenapa kamu malah membela wanita itu, sepenting apa wanita itu untuk mu hingga kamu seperti ini padaku " batin Desi
" Desi kenapa pagi-pagi merusak mood ku saja... malas aku lihat wajah mu " batin Bram
" Bram... " Teriakan Desi tidak terima
" Apa??.. harusnya kamu mikir,, aku sudah pernah bilang jangan pernah mencampuri urusan pribadiku.. ingat perjanjian yang kita sudah sepakati " ucap Bram membuat Desi semakin marah
" Aku ingin tahu wanita seperti apa yang sudah membuat mu seperti sekarang.. bahkan kamu sangat memuji wanita itu " cibir Desi
" Kamu tidak perlu tahu karena kamu tidak penting bagiku.. aku tidak butuh pendapat ku tentang wanita itu?? karena di hatiku hanya ada dia bukan kamu " ucap Bram meletakan kembali roti yang tidak ia makan sama sekali
" Bram... "
" Selera makan ku hilang... Ini semua karena mu.. " ucap Bram hendak pergi namun Desi meringis kesakitan.
__ADS_1
" Aw... "
" Jangan pura-pura untuk mendapatkan simpati dari ku, karena sampai kapanpun aku tidak akan peduli padamu jangan jadikan alasan anak untuk membuatku peduli karena sampai kapanpun aku juga tidak peduli padanya... " Ucap Bram langsung meninggalkan apartemennya.
Sementara Desi menangis menahan rasa sakit di perutnya dan di hatinya, bagaimana bisa seorang suami malah tidak peduli sama sekali padanya, ia tidak pura-pura untuk kali ini karena memang perutnya sangat sakit.
Ia mencoba untuk menelepon mertuanya, dengan suara menahan rasa sakit Desi memberitahukan kondisinya sekarang, Bu Jeni yang khawatir dengan kondisi Desi segera pergi menuju apartemen dimana Desi berada.
" Aduh kenapa sakit sekali... Aku tidak mau jika terjadi sesuatu pada anak ini, anak ini adalah alat untuk membuat Bram selalu di sisiku, mamah Jeni kemana?? kenapa di Belum sampai di sini padahal perutku sangat sakit " batin Desi
Tak lama kemudian Sang mertua datang dengan beberapa perawat lelaki yang akan membantunya membawa Desi ke rumah sakit, ambulance juga sudah siap di parkiran untuk membawa Desi menujurumah sakit terdekat.
" Desi... "
" Mamah, tolong aku mah... " ucap Desi dengan wajah pucat dan keringat dingin mengucur di wajahnya
" Ayo segera bawa Desi ke rumah sakit terdekat dari sinia " ucap Bu Jeni
Mereka semua membawa tubuh Desi ke dalam ambulance lalu segera membawa Desi kerumah skait terdekat sedangkan Bu Jeni mengikuti Desi dari belakang.
.
.
Bersambung...
__ADS_1