
Ternyata ada hal tak di duga yaitu kedatangan Bu Jeni di saat waktu pulang kantor, mungkin memang bu Jeni sengaja melakukan hal itu agar ia bisa leluasa berbicara dengan Bram apalagi membicarakan hal pribadi.
Tampak raut wajah Bela kaget ketika ia sudah membereskan berkas-berkas di mejanya datanglah Bu Jeni menatapnya dengan sinis, Bu Jeni melihat penampilan Bela dari atas sampai bawah membuat Bela gugup saat ini.
" Nyonya.. " panggil Bela kaget tidak menyangka mertuanya itu datang ke kantor mungkin karena pertengkarannya dengan Bram tadi siang
" Dimana Putraku Bram?? " tanyanya dengan nada sinis
" Tuan Bram, masih ada di dalam ruangannya, beliau belum pulang masih sibuk dengan pekerjaannya " ucap Bela dengan nada sopan
Bu Jeni langsung membuka pintu ruangan Bram dan segera masuk kedalam ruangan itu, tampak Bram heran kenapa bisa ibunya datang ke kantornya, apa karena ia sempat marah pada Desi tadi pagi. Bram menduga jika kedatangan sang ibu hanya untuk membujuknya untuk tidak marah pada Desi seperti biasanya, Bram langsung saja menghiraukan kedatangan sang ibu, ia memilih fokus pada pekerjaannya.
" Bram.. ada yang ingin mamah bicarakan padamu, penting " ucap sang ibu melihat Bram masih fokus pada pekerjaannya
" Bukannya sekarang mamah di depanku sedang bicara.. " ucap sinis Bram
" Bram.. " bentak sang mamah
" Apalagi mah.. kalau ini semua berhubungan dengan Desi, maaf aku sedang tidak ingin membahasnya "
" Bram.. " bentak sang mamah lagi
Terdengar suara ketukan dari depan pintu ruangan Bram, siapa lagi kalau bukan Bela. Ia sengaja membawakan teh hangat berserta cemilan untuk ibu mertuanya itu. Dengan wajah tersenyum ia segera menghidangkan teh itu di atas meja dimana Bu Jeni berada.
Bram justru tersenyum melihat kehadiran wanita yang ia cintai, sedangkan Bu Jeni yang melihat hal itu di buat kesal karena ia tidak menyukai sosok Wanita yang ada di depannya itu baginya Bela adalah ancaman Desi karena putranya sering melihat wajah Bela.
" Silahkan Nyonya "
" Kamu segara pergi saja, saya ingin berbicara penting dengan Bram dan kamu tidak perlu tahu.. karena ini masalah keluarga " ucap Bu Jeni
" Siapa juga yang ingin tahu masalah keluarga mu, kecuali itu berhubungan dengan Desi dan kehancuran keluarga mu.. " batin Bela
__ADS_1
" Mamah sungguh keterlaluan pada Bela, semoga saja Bela tidak marah padaku.. bisa gawat kalau dia marah padaku.. mungkin aku malam ini tidak bisa menikmati malam yang indah lagi dengannya " batin Bram
" Wanita sok cantik.. Bram juga kenapa lagi terlihat baik dan ramah padanya.. aku harus menjauhkan Bram dengan dia, pantas saja Desi terlihat tidak suka padanya " batin Bu Jeni
" Saya mau minta ijin pulang duluan kalau begitu Tuan... apa Boleh?? " Tanya Bela
" Kalau pulang ya pulang saja.. tidak ada yang mengharapkan mu juga disini.. jangan pernah berharap kamu bisa pulang dan pergi di antarkan putra saya " ucap Bu Jeni membuat Bram kesal
" Akh apa-apaan sih mamah.. benar-benar membuatku kesal saja.. ini pasti gara-gara Desi yang menyuruh Mamah kesini, lihat saja aku tidak akan gampang terbujuk oleh Mamah.. aku tidak akan semudah itu memaafkan mu " batin Bram
" Kalau begitu saya permisi " ucap Bela segera pergi dari sana.
Tentu saja Bela senang karena ia bisa pulang sendiri naik taksi, tidak harus di antarkan oleh Bram, menurutnya akhir-akhir ini Bram tampak terlalu ketat padanya dan hal itu membuat Bela sangat tidak suka. Ia takut jika hubungannya dengan Bram di ketahui oleh orang lain.
Kembali lagi keruangan Bram tampak ibu dan anak itu saling bertatapan tajam sama-sama sedang merasakan kesal satu sama lain. Bram kesal karena sang mamah bersikap sinis pada Bela sementara Bu Jeni kesal karena Bram justru membuat Desi sedih dan menangis.
" Langsung saja kedatangan mamah kesini ingin membicarakan wanita itu?? " Ucap Bu Jeni membuat Bram kaget
Tampak Bram berpikir wanita siapa yang di bicarakan oleh sang mamah, apa sosok Bela sudah di ketahui oleh sang mamah dan Desi. Jika itu benar ia akan senang karena tidak lagi menyembunyikan hubungannya dengan Bela.
" Jawab Bram... " Bentak sang mamah
" Wanita apa sih mah.. aku tidak tahu apa yang Mamah bicarakan?? wanita siapa " Tanya Bram pura-pura tidak tahu
" Jangan pura-pura tidak tahu Bram.. cepat jawab pertanyaan mamah.. siapa wanita itu?? " Tanya Bu Jeni
" Sepertinya mamah tidak tahu tentang Bela.. padahal aku berharap jika hubungan ku dengan Bela bisa terungkap " batin Bram
" Mamah tahu dari mana wanita itu.. bahkan aku tidak mengerti wanita siapa yang mamah tanyakan?? " ucap Bram pura-pura tidak tahu
" Jangan bohong kamu Bram.. Desi tadi pagi menelepon mu dan yang mengangkat telepon mu adalah seorang wanita, dia bilang wanita itu wanita Yang sangat kamu cintai.. jadi cepat jujur sama mamah siapa wanita itu?? " ucap Bu Jeni dengan raut wajah menahan kemarahannya
__ADS_1
" Jadi Bela tadi pagi mengangkat telepon ku, kenapa dia tidak bicara masalah ini?? Oh apa dia cemburu pada Desi.. aku sangat senang mendengar hal itu, jika Bela benar-benar cemburu pada Desi, berarti dia snagat mencintai ku " batin Bram
" Oh Desi sudah tahu masalah itu, bagus deh jadi aku tidak usah repot-repot memberitahukannya lagi.. " ucap Bram dengan santainya mengatakan itu
Plak,,
" Mamah kecewa sama kamu.. mamah sudah gagal mendidik mu.. mamah tidak mengajarkan kamu untuk jadi orang yang berkhianat apalagi mengkhianati Desi yang kini sedang mengandung anak mu sendiri " bentak sang mamah dengan emosi menampar Bram kembali
Plak,,
" Mah.. aku mencintainya.. dari awal aku menikahi Desi tidak ada rasa cinta di hati aku.. mamah tahu akan hal itu " ucap Bram memegang pipinya yang terasa panas akhibat tamparan sang mamah
" Katakan siapa wanita itu.. " bentak sang mamah
" Kalian tidak perlu tahu... Karena dia akan menjadi milikku sampai kapanpun kalian tidak bisa menghentikan aku " ucap Bram
" Bram?? "
" Cukup mah, sudah cukup aku selalu menuruti keinginan mamah.. untuk kali ini aku tidak bisa.. maafkan aku mah.. "
" Kamu berani menentang mamah.. " ucap Bu Jeni sambil menangis
Bu Jeni benar-benar marah dan sedih dengan Ucapan putranya itu, ia langsung berdiri dan melangkahkan pergi dari ruangan Bram.
Bram sebenarnya tidak tega melihat ibunya menangis, dari kecil sampai sekarang ia selalu menuruti keinginan sang mamah apalagi setelah mengeluarkan air matanya ia akan segera menurutinya meskipun dia tidak menyukai apa yang sang mamah katakan.
" Maaf mah.. untuk kali ini biarkan Bram bahagia.. dan kebahagiaan Bram ada dalam diri Bela.. sekali lagi maaf mah " batin Bram
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..