
Tanpa mereka sadari seseorang sedang menguping pembicaraan mereka siapa lagi kalau Bela, ia terlihat senang ketika Bram terus mengorek informasi apa saja yang dia lakukan dengan Deon saat makan siang.
Ia merasa jika Bram sudah mulai tertarik padanya, itu hal bagus agar memuluskan rencananya untuk menghancurkan hidupnya Desi.
" Maafkan aku Deon, aku harus menyeretmu dalam rencana ku.. aku tak mau jika rencana ini gagal " batin Bela
Bela terus mendengarkan pembicaraan mereka hingga akhirnya ia mendengarkan ucapannya Bram yang masih mengaggap dirinya sebagai adik. hatinya kesal ia tidak terima ia tahu jika saat ini Bram sedang berbohong pada Deon. Bisa di lihat dari bahasa tubuhnya jika ia menyukai Bela namun hatinya masih menyangkal itu.
" Yakin kamu akan terus berbohong, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa berbohong terus padaku.. aku tahu kamu sudah menyukai ku.. kita liat bagaimana reaksi mu selanjutnya " batin Bela
Setelah pembicaraan antara Deon dan Bram selesai, ia segera mengetuk pintu ruangan Bram dan membuka pintunya. Kedua laki-laki itu tampak terkejut dengan kehadiran Bela namun keduanya tersenyum ketika melihat Bela.
" Siang kak.. maaf aku gangu tadi aku cari kak Deon di ruangan Kak Deon tapi tidak ada.. " ucap Bela sambil tersenyum
" Aku akan membuat kamu menyesal sudah berbicara seperti itu dan menganggap ku sebagai adik mu... lihat saja " batin Bela
" Apa?? Bela mencari Deon untuk apa?? Kenapa hatiku tidak terima jika Bela dekat dengan Deon, ini tidak bisa di biarkan?? aku harus bagaimana?? " batin Bram
" Kamu cari aku!! memangnya ada apa?? " Tanya Deon senang sosok yang ia sukai ada di depannya
" Aku mau memberikan ini buat Kakak " memberikan paper bag berisi makanan yang sengaja Bela bungkus untuk Deon agar Bram kesal melihat dirinya dan Deon sedekat itu.
" Wah, terima kasih banyak loh Bela, aku memang sangat lapar belum makan saat makan siang, karena ada seseorang yang tiba-tiba menelepon ku " ucap Bela
" Aku tahu kak Deon pasti lapar jadi aku bawakan makanannya karena kita belum sempat makan, semoga kakak suka ya?? " ucap Bela sambil tersenyum
__ADS_1
" Aku selalu suka sama kamu " ucap Deon sambil tertawa malu-malu
" Maksud kakak " ucap Bela pura-pura tidak tahu
" Maksud ku suka makanan yang kamu bawa " ucap Deon
" Syukurlah jika kakak suka " ucap Bela
Melihat kedekatan mereka jantung Bram tiba-tiba berdetak kencang, wajahnya merah dan bahasa tubuhnya tidak suka. Bram merasa perasan ini sama seperti dulu Bram cemburu ketika Sintia dekat dengan laki-laki lain. Namun bedanya dulu ia bisa memukul laki-laki yang mendekati Sintia tapi sekarang ia tidak bisa memukul laki-laki yang mendekati Bela.
" Tahan emosi mu Bram, jangan seperti ini nanti bela akan membenci mu jika kamu marah-marah, aku tidak berhak cemburu karena bela bukan siapa-siapa ku " batin Bram
" Bela, mana makanan untuk ku " Ucap Bram pura-pura tersenyum padahal dalam hatinya sedang menahan emosinya
" Kamu jangan bercanda, aku dan Desi sudah tidak mungkin lagi bersama, aku tidak mau makan dari orang yang aku cinta " ucap Bram dengan nada kesal
" Tapi kenapa kakak mau makanan dari aku?? Kalau begitu aku adalah orang yang kakak cinta dong " tanya Bela membuat Deon dan Bram melotot
" Benar juga ucapan bela, apa benar Bram menyukai Bela.. tapi dia barusan bilang tidak suka Bela dan menganggap Bela seperti adiknya sendiri?? Ini tidak boleh di biarkan.. aku yang harus mendekati Bela lebih dulu di banding Bram " batin Deon
" Gawat kenapa aku malah berbicara seperti itu, aku harus bisa cari alasan lagi pada Bela, tapi Bela kan orangnya Polos " batin Bram
" Tuh kan dia keceplosan, makanya jangan sok jual mahal bilang adik segala tapi dalam hati suka juga padaku.. seberapa keras kamu menyangkal aku akan membuat kamu tidak menyangkal lagi " batin Bela senang
" Bukan begitu, kamu bukan orang yang aku cinta tapi kamu orang yang aku sayangi, sayang antara adik dan kakak begitu loh " alasan Bram
__ADS_1
" Ah ia benar, aku sampai kaget loh Kak.. mana mungkin kak Bram suka sama aku, hubungan kita kan ga lebih dari adik kakak " ucap Bela
" Syukurlah jika Bela tidak menyukai Bram dan menganggapnya sebagai kakaknya sendiri, sekarang aku lebih lega " batin Deon
" Kenapa mendengar Bela mengatakan seperti itu hatiku rasanya sakit, meskipun hubungan kita memang seperti adik kakak tapi kita tidak sedarah dan tidak ada yang melarang hubungan kita juga Bela " batin Bram
" Bagaimana Bram pasti kamu sakit hati dengan ucapan ku barusan.. tapi bagus deh agar kamu tidak bisa menyangkal lagi dengan perasaan mu " batin Bela
" Oh ia kak Bram, kak Deon .. aku pamit dulu ya mau ke kampus.. " ucapnya
" Bela, ku antar " ucap Bram
" Tidak usah kak, lebih baik kakak lanjutkan saja pekerjaan kakak.. permisi " ucapnya melangkah pergi dari sana.
Melihat Bela keluar dari kantornya malah membuat dia semakin tak karuan rasa posesifnya kini muncul, apalagi melihat sosok Deon juga tampak melambaikan tangannya pada Bela sambil tersenyum.
" Astaga Bram kamu harus sadar, ga boleh punya perasaan lebih pada Bela, Bela itu adikmu.. adik Sintia masa ia kamu suka sama dia " batin Bram menyangkal semua perasaan yang ia miliki pada Bela
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1