
Rapat telah selesai dan semua orang yang tadi mengikuti jalannya pertemuan sudah mulai keluar dari ruangan rapat itu.
Para pengusaha yang mendapatkan dokumen merah saling berbisik satu sama lain.
"Kamu merasa aneh nggak sih sama pengusaha yang menerima dokumen biru?"
"Iya, aku juga merasakan hal yang aneh. Semua pengusaha yang mendapatkan dokumen biru rata-rata pengusaha yang kemarin ikut tertawa saat pernikahan Tuan Saga yang terancam batal," sahut pengusaha di sebelahnya.
"Berarti bukan hanya pemikiranku saja ya?"
"Bukanlah," geleng orang itu.
"Untunglah kemarin aku tidak ikut tertawa terbahak-bahak bersama dengan mereka," ucap pengusaha itu sambil memegangi dadanya karena merasa bersyukur tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bodoh.
"Lagipula hal itu memang tidak pantas dilakukan oleh pengusaha-pengusaha seperti kita."
"Tapi ... kenapa pengusaha yang lain bisa seenaknya tertawa ya?"
"Masa kamu tidak tahu penyebabnya? Mereka itu para pengusaha yang sudah diam-diam berdiri di pihak Tuan Awan. Bukankah kondisi tubuh Tuan Muda Saga tidak memungkinkan lagi untuk meneruskan tampuk kepemimpinan? Lagipula Tuan Smith juga orangnya sangat perfectsionis. Dia pasti akan mengganti Tuan Saga dengan Tuan Awan di rapat direksi selanjutnya."
"Lalu ... kita harus melakukan apa supaya posisi kita aman di Samudra Group. Aku takut jika kita terlalu dekat dengan Tuan Saga, Tuan Awan akan mendepak kita dari posisi saat ini?"
"Yang perlu kita lakukan adalah mengikuti alur. Jangan terluka dekat dengan Tuan Saga ataupun Tuan Awan. Sehingga jika suatu hari ada plot twist tidak terduga, kita berada di dalam garis yang aman."
"Iya juga sih," angguk pengusaha itu setuju.
"Oh iya, kamu sudah mendengar gosip ini belum?"
"Gosip apa?" tanya pengusaha itu penasaran.
"Gosipnya Tuan Saga itu pura-pura cacat," bisik pengusaha itu kepada pengusaha di sebelahnya.
"Yang bener?" tanya pengusaha itu dengan tatapan penuh keingintahuan dan ketidakpercayaan.
"Gosipnya begitu, tapi entahlah."
"Ya sudahlah, kita lupakan saja hal itu. Lebih baik kita fokus membenahi produk-produk kita. Perusahaanku ketahuan mengurangi kualitas produk."
"Sama lah kalau gitu."
***
Di ruangan lain, saat ini Sagara tengah berhadapan dengan Alia seorang pengusaha yang sedang merintis usahanya agar semakin berkembang.
"Proposal dari perusahaan Anda cukup menarik. Tapi ...." Saga menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi apa, Tuan?" tanya Alia penasaran.
"Tapi peternakan yang Anda miliki terlalu kecil jika untuk memenuhi kebutuhan pasokan daging di Samudra Group. Lalu ... langkah apa yang akan Anda ambil untuk memenuhi pasokan daging yang kurang ini?" kini Saga mulai bertanya balik ke Alia dengan tubuh tegapnya yang saat ini disenderkan ke punggung kursi kerjanya.
Alia menegakkan tubuhnya dan mengambil napas singkat sebelum menjawab pertanyaan yang Sagara ajukan kepadanya.
"Saya akan mengajak para peternak kecil untuk bekerjasama, yang tentunya semua produk daging yang dihasilkan harus sesuai dengan standar kelayakan yang kami terapkan di peternakan milik perusahaan kami," jawab Alia mantap dalam satu tarikan napas.
Sagara mengangguk-anggukkan kepala dengan gerakan bibir yang menandakan seolah merasa puas dengan rencana yang dicanangkan oleh wanita paruh baya di depannya saat ini.
"Baiklah, akan aku beri waktu sekitar satu bulan untuk menyempurnakan semua kekurangan yang Perusahaan Anda miliki. Jika waktunya telah tiba, akan ada orang kepercayaanku yang datang ke tempat usaha Anda untuk mengecek semua standar kelayakan usaha telah memenuhi syarat sesuai dengan ketetapan kami." ungkap Sagara.
"Terimakasih banyak, Tuan, karena Anda bersedia memberikan kesempatan dengan batas waktu sebulan untuk menyempurnakan semua kekurangan perusahaan milik saya. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan keputusan Anda saat ini."
"Baiklah. Sampai jumpa satu bulan kemudian," ucap Sagara yang secara halus mengatakan bahwa waktu Nyonya Alia telah habis.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu," pamit Alia yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Semoga sukses usaha Anda," do'a Sagara yang kini mulai mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat dengan Alia sebelum wanita paruh baya itu keluar dari ruangannya.
Alia menjabat tangan Saga dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya.
***
Reza yang merupakan anak dari Alia mulai mendekat ke arah Ibunya dan menanyakan hasil pertemuan Alia dengan sang CEO di Samudra Group ini.
"Kita berkesempatan untuk menjalin kerjasama dengan Samudra Group," jawab Alia.
"Yes," sorak Reza girang dengan suara yang sebisa mungkin dia redam volumenya agar tidak menggangu penghuni lain di ruang tunggu ini.
"Tapi kita harus menyempurnakan semua kekurangan yang Perusahaan kita miliki. Waktu yang diberikan oleh Tuan Muda Saga hanya satu bulan. Hari ini juga, kita harus bergerak cepat."
"Baik, Ma," sahut Reza mantap.
Kini sepasang Ibu dan anak itu mulai berjalan meninggalkan kantor utama Samudra Group.
***
Di Rumah Sakit Citra Husada.
Sekretaris Ken yang telah menyelesaikan semua urusan *****-bengeknya mulai memutar knop pintu kamar rawat inap Viona.
Krieut!
Suara derit pintu terdengar oleh kedua insan di dalam ruangan.
__ADS_1
Perhatian Bunda Amanda dan Viona teralihkan kepada pemuda tampan yang baru masuk ke ruangan ini.
Kening Viona berkerut saat melihat sosok Sekretaris Ken yang ada di ruangan ini. Kebetulan Bunda Amanda belum menjelaskan lebih lanjut mengenai keluarga kecilnya, sehingga Viona belum mengetahui status resmi dari Kenzo Adiatama.
Sekretaris Ken yang melihat bahwa adik cantiknya telah sadar dari pingsannya langsung bergegas berlari kecil dan memeluk tubuh Viona.
"Kakak, jangan peluk-peluk!" seru Viona sambil berusaha mengurai pelukan Sekretaris Ken dari tubuhnya.
Viona yang saat ini keadaannya telah pulih dengan semua ingatan yang lengkap terpatri di otaknya bisa menyimpulkan dengan cepat bahwa Sekretaris Ken memiliki rasa ketertarikan terhadap dirinya sebagai laki-laki kepada perempuan.
"Kakak Kenzo, kita bukan mahram, nggak boleh peluk-peluk. Ini dosa tahu," ucap Viona yang masih mencoba mengurai pelukan Sekretaris Ken.
"Kita ini saudara sekandung, Arra," sahut Sekretaris Ken yang kini malah semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Viona.
"Kakak Kenzo ini Kakak Tama-nya, Arra?" lirih Viona bertanya sambil mulai membalas pelukan Sekretaris Ken dengan ragu-ragu.
"Iya, itu Kakak Tama yang dulu Bunda pernah ceritakan ke kamu, Arra," jawab Bunda Amanda yang memilih untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
"Kakak kangen banget sama kamu, Arra," ucap Sekretaris Ken.
"Meski kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi Kakak udah terlanjur sayang sama adik perempuan kakak yang satu ini," sambung lelaki itu.
"Maafin kakak ya! Karena dulu tidak mengenali kamu sebagai Arra. Padahal dulu kita sering bertemu," lanjutnya.
"Arra juga minta maaf ya, Kak. Karena Arra juga tidak mengenali Kakak Tama di awal perjumpaan kita di taman," jawab Viona yang ternyata masih ingat dengan sosok Kenzo yang sering lari pagi di taman kota ini.
"Iya," angguk Sekretaris Ken yang saat ini masih betah memeluk adik perempuannya itu.
Bunda Amanda hanya bisa tersenyum simpul melihat pemandangan ini.
Dia begitu bahagia akhirnya keluarga kecilnya bisa berkumpul seperti sekarang.
Dia tidak pernah membayangkan, moment-moment berbahagia ini akan datang begitu cepat.
to be continued.
***
Bantu subscribe channel YouTube Author dongπ
Bayu Hidayat Penulis
Jangan lupa tonton videonya selama dua menit ya, biar ga dideteksi sebagai spam sama pihak YouTube π dan subscribenya jadi permanen.
Tekan tombol subscribe warna merah ya π
__ADS_1