
Viona dan Saga yang telah selesai sarapan pagi mulai kembali ke lantai dua rumah ini menggunakan lift.
"Vio baru tahu kalau di rumah ini ternyata ada kotak naik turunnya ya, Suamiku, ucap gadis manis itu yang saat ini sedang berdiri di belakang kursi roda Sagara.
"Kemarin kamu nggak naik lift ini kah?" tanya Saga penasaran.
"Nggak," geleng Viona, "Kemarin Vio sama Kakak Bodyguard naik tangga biar sehat."
"Oh, pantesan aja kamu nggak tahu,"
"Hehe," Viona nyengir.
Ting!
Hanya perlu waktu sekejap saja untuk sampai ke lantai dua dengan lift ini.
"Wuih nggak sampe tiga detik udah nyampe aja," komen Viona takjub.
Saga hanya terkekeh geli mendengar perkataan konyolnya Viona yang sedang mengagumi kehebatan lift di rumah ini.
"Namanya juga lift, ya cepet lah," timpal Sagara.
Tangan Viona mulai mendorong kursi rodanya Sagara untuk melangkah keluar dari dalam lift ini setelah pintu kotak naik turun ini terbuka.
"Oh iya, lantai paling atas rumah ini isinya apa, Suamiku?" tanya Viona yang penasaran dengan isi istana besar ini.
"Rumah kaca," sahut Saga singkat.
"Woah, berarti banyak kaca-kacanya dong?" tanya Viona yang polos.
"Nggak juga sih, intinya lantai paling atas rumah ini ditanami berbagai jenis tanaman di dalam pot dan semua tanaman itu diberi naungan sebuah rumah yang atapnya transparan dengan dinding-dinding yang terbuat dari plastik khusus."
"Oh, kayak diperkebunan-perkebunan itu ya?"
"Betul," angguk Saga.
Ceklek!
Tidak terasa langkah Viona sudah sampai di depan pintu kamar utama Sagara. Gadis menor itu mulai memutar kenop pintu dan kursi roda Saga mulai dia dorong kembali untuk memasuki kamar ini.
Saat ini mereka berdua sudah berada dalam ruang kamar itu.
"Di rumah kacanya Suamiku ada pohon stoberi nggak?"
"Ada dong," lagi-lagi Saga mengangguk.
"Kapan-kapan ajak Vio ke lantai atas ya, Suamiku! Vio pengen metik stoberi secara langsung," pinta Viona yang saat ini tubuhnya sudah berada di hadapan Sagara dengan kedua matanya yang mengedip-ngedip genit.
"Iya, kapan-kapan ya," janji Saga.
Entah kenapa Saga yang awalnya jijik dengan Viona, sekarang mulai bisa bersikap biasa saja terhadap gadis itu.
Wajah jelek Viona akibat make up menor gadis itu pun sudah Saga anggap sebagai hal biasa dan tidak menggangu kesehatan mata, perut, dan pikirannya lagi.
__ADS_1
Jendela-jendela di kamar ini sudah dibuka oleh Usep sejak tadi agar udara segar dari luar ruangan bisa masuk ke dalam kamar ini.
Saat ini kelopak-kelopak bunga mawar yang bertebaran di kamar ini mulai tersapu angin yang masuk melalui sela-sela jendela yang terbuka.
Saga melihat pemandangan itu dengan senyum tipis di bibirnya.
Bunga yang dulu dengan susah payah dia tanam dan dia jaga baik-baik kini sudah mulai layu setelah semalaman menghiasi kamar ini.
Harusnya dia marah, tapi entah kenapa dia malah senang melihat kelopak-kelopak bunga itu terbang terbawa angin.
Viona yang pada dasarnya tidak mau diam, saat ini sudah menemukan sebuah berkas yang kemarin Saga bawa dari rumah biru
"Ini apa?" gumam gadis itu yang saat ini mulai membuka-buka berkas di tangannya itu.
"Ih, apaan sih?" ucap Viona bertanya-tanya yang saat ini sedang kesulitan membaca teks yang tertulis di selembar kertas yang paling atas itu.
Saga yang melihat Viona sedang melihat-lihat berkas miliknya segera menggerakkan kursi rodanya ke arah Viona.
Viona yang menyadari Saga sedang mendekat ke arahnya mulai bertanya tentang berkas itu.
"Suamiku, ini berkas apaan sih?" tanya gadis itu penasaran.
Sesekali gadis itu mendekatkan kepalanya ke arah berkas itu, namun sesekali menjauhkannya, tapi tidak ada perubahan sedikit pun, dia masih tidak bisa membaca isi surat kontrak itu.
"Itu surat kontrak perjanjian pernikahan kita," jawab Saga enteng.
"Surat kontrak perjanjian pernikahan," ulang Viona dengan kedua bola mata yang berbinar-binar.
"Iya, surat kontrak."
"Suamiku, tolong bacain dong! Isinya kayak yang ada di novel-novel atau nggak?" tanya Viona antusias.
Saga mulai membacakan isi surat kontrak itu.
"Pasal pertama, pihak pertama (Saga) selau benar."
"Wih mirip," tutur Viona antusias, "Terus, terus!"
"Pasal kedua, jika pihak pertama melakukan kesalahan, maka kembali ke pasal pertama bahwa pihak pertama (Saga) selalu benar."
"Lanjut,"
"Pasal ketiga, antara pihak pertama dan pihak kedua tidak boleh ada kontak fisik diantara mereka berdua,"
"Yah," desah Viona kecewa. "Harusnya pihak kedua ditekankan untuk siap sedia melayani pihak pertama di atas ranjang kapan pun pihak pertama mau, seperti di novel-novel, Suamiku," keluh gadis itu. "Lanjut, lanjut!"
"Pasal keempat, pernikahan ini akan berakhir setelah pihak pertama (Saga) telah berhasil mencapai tujuannya."
"Wuih, mirip-mirip. Lalu apalagi?"
"Udah, selesai," jawab Saga.
"Harusnya itu ada pasal pihak kedua diharuskan jadi babu untuk pihak pertama, Suamiku. Di novel-novel kan pada kayak gitu," ucap Viona memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Itu kan di novel lain. Kalau di cerita kita mah beda dari yang lain, Vio," sahut Saga.
"Tapi kan kurang greget," protes Viona.
"Kalau kurang greget tambahin garem aja!"
"Emangnya sayur asem ditambahin garem segala."
"Lha katanya tadi kurang greget?"
"Au ah," ucap Viona ngambek sambil menyidekapkan kedua tangannya di dadanya sambil membuang muka.
"Idih, cuma masalah kayak gini aja ngambek," sindir Saga.
"Abisnya Suamiku kurang asik, heuh," lagi-lagi Viona membuang mukanya setelah sekilas melihat ke arah Saga.
"Kalau mau protes jangan ke aku, Vio! Noh ke si Otor aja protesnya, uhuk," Saga batuk setelah menyindir sang pemilik jiwanya.
"Iya nih, Otornya kaga asik, heuh," Viona kebingungan mau buang muka ke arah mana karena wujud Otor tidak ada di dunia mereka berdua, wkwk.
"Eh, betewe, udah siang nih," ucap Saga yang baru menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. " Sana! Kamu mandi," perintah lelaki itu yang saat ini tangan kirinya meletakkan berkas di tangannya ke atas nakas di kamar ini.
Viona yang awalnya sedang cemberut kini mulai tersenyum mesum.
Saga yang melihat perubahan mimik muka gadis itu mulai merinding.
'Kok tiba-tiba perasaanku nggak enak ya," ucap Saga dalam hatinya.
"Kuy Suamiku, kita mandi bareng yuk! Biar mirip kayak novel sebelah. Nanti aku shake-shake ubi jalarmu kayak di novel itu, hehe," cengir Viona mesum.
"Nggak!" tolak Saga keras.
"Ayolah," rayu Viona yang saat ini mulai mencolek-colek dagunya Saga sambil tersenyum-senyum tidak jelas.
Saga bergidik ngeri melihat tingkah mesum Viona saat ini.
'Ini bocah dikasih asupan cerita kayak apa sih? Kok otaknya mesum banget kayak gini?' batin Saga.
"Jangan sok jual mahal, Suamiku! Ntar Vio malah jadi tambah sayang lho," ting, ting, ting, ting, kedua kelopak mata Viona mengedip-ngedip centil.
"Apaan sih kamu bocah?" toyor Saga ke arah kepalanya Viona.
Saat ini Saga sudah bisa mengimbangi sifat mesum Viona dengan reaksi yang tenang, tidak seperti reaksinya dulu pada saat awal-awal berjumpa.
"Kuy kita mandi bareng, Suamiku! Nanti kita berdua saling membantu membersihkan diri," ajak Viona sambil menaikkan kedua alisnya berulang-ulang.
"Mending otak kamu aja sini yang aku brainwash! Biar nggak ngeres kebanyakan debu," tarik Saga mendekap kepala Viona ke arah ketiaknya.
"Aaaaaa!" pekik gadis itu yang kini mulai diseret masuk ke arah kamar mandi oleh Saga yang mulai menjalankan kursi rodanya dengan mesin penggerak otomatis.
"Vio nggak mau dibrainwash, Suamiku!" tolak gadis itu keras-keras. "Vio lebih suka ngeres, Suamiku, biar nggak mudah kepleset,"
"Emangnya lantai. Udah nurut aja!" ucap Saga yang kini makin mengeratkan kapitan tangannya ke kepala Viona.
__ADS_1
"Aaaaa!" teriak Viona kesakitan dengan langkah kaki kepayahan mengimbangi kecepatan kursi roda Sagara.
***