
Viola melirik takut takut ke arah preman yang saat ini tengah menodongkan pistolnya di kepala gadis cantik itu.
"A-aku tidak akan berteriak lagi." cicit Viola.
"Fiuh~" akhirnya Viola bisa bernapas lega saat ujung pistol itu telah menjauh dari kepalanya dan masuk kembali ke dalam sarungnya.
"Snap, ayo jalan!" titahnya pada sang pengemudi.
Mobil itu pun mulai melaju kembali dan Viola hanya bisa meringkuk takut di pojokan dekat dengan obat-obatan terlarang dan haram itu.
Pasukan Elang yang diutus oleh Sagara sudah mulai memasuki area hutan ini.
"Eh, itu ada mobil tuh. Gimana ... kita cegat nggak?" tanya Elang 007.
"Iya, kita cegat." sahut Elang 013.
Elang 007 mulai memberi kabar kepada rekan-rekannya yang berada di mobil lain agar membuat formasi penghadangan.
Ckitt.
"Brengs*k." umpat Snap yang lagi-lagi mengerem mendadak karena laju mobilnya dihalangi oleh mobil-mobil pasukan Elang yang sudah membuat formasi berlapis untuk menghadang mobil rombongan Black Devils.
Baik dari pihak Pasukan Elang dan rombongan Black Devils mulai keluar dari dalam mobilnya masing-masing dan saling berhadapan.
"Kalian semua bosan hidup ya?" tanya Snap kepada Pasukan Elang.
"Kami tidak sedang mencari keributan. Kami hanya sedang mencari gadis ini." timpal Elang 007 yang memilih mengabaikan pertanyaan dari Snap dan saat ini dia sedang mengacungkan sebuah foto bergambar Viola ke arah rombongan Black Devils.
__ADS_1
"Haha," kekeh Snap saat melihat wajah Viola di foto itu.
"Apa kalian membawa gadis ini?"
"Buat apa aku membawa gadis itu. Kenal juga tidak. Minggir kan mobil kalian! Kami mau lewat."
Pasukan Elang tidak percaya dengan perkataan Snap dan mereka mulai melihat-lihat ke arah mobil rombongan Black Devils.
Meski penampakan Viola tidak bisa dilihat, namun mereka yakin bahwa Viola pasti ada di dalam mobil itu.
"Heh! Cepat minggirkan mobil kalian semua!" seru Snap penuh emosi.
"Tidak akan. Sebelum kalian menyerahkan gadis ini ke tangan kami." timpal Elang 007 yang menjadi juru bicara di pasukannya.
"Baiklah, tidak ada cari lain lagi. Jangan salahkan kami kalau main kasar." ucap Snap.
"Oke. Mari kita lihat siapa yang paling unggul." Elang 007 malah menantang.
Bukkk.
Bukkk.
Kali ini giliran Elang 007 yang menyerang balik dan Snap dengan mudah menahan serangannya.
Perkelahian di antara Elang 007 dan Snap semakin memanas.
Saat Elang 007 mulai keteteran, Elang 004 mulai ikut menyerang Snap yang saat ini sedang menghajar habis-habisan Elang 007.
__ADS_1
Namun rekannya Snap yang tahu bahwa Elang 004 ingin menyerang Snap mulai bergerak cepat dan menghadang serangan Elang 004.
Akhirnya pertempuran antara Pasukan Elang dan rombongan Black Devils pecah.
Mereka semua saling memukul dan balik menyerang satu sama lain.
Tetesan darah mulai mengotori jalanan aspal ini.
Beberapa anggota Pasukan Elang sudah mulai kewalahan menghadapi semua serangan dari anggota Mafia Black Devils.
Hanya butuh beberapa menit saja, semua anggota Pasukan Elang telah berhasil dilumpuhkan oleh para preman itu yang tubuhnya kekar dan bertenaga meski tubuh mereka tidak tinggi besar.
Bukk.
Salah satu tubuh pasukan Elang yang sudah terkapar tidak sadarkan diri ditendang oleh salah satu anggota Mafia Black Devils yang sedang ingin lewat untuk bergabung kembali dengan rekannya yang sudah saling mengerubung.
Pasukan Elang yang masih sadar mulai menatih rekan-rekannya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Cepat singkirkan mobil kalian sebelum kami kehabisan kesabaran!" perintah Snap kepada pasukan Elang.
Dengan terpaksa mobil-mobil pasukan Elang mulai dipinggirkan oleh mereka yang masih punya kekuatan untuk bergerak.
Sedangkan Viola menghela napas lemah saat melihat pasukan Elang telah dikalahkan oleh Black Devils.
Meskipun Viola tidak tahu tentang pasukan Elang, namun dia yakin bahwa pasukan yang menghadang rombongan Black Devils adalah orang-orang suruhan kedua orang tuanya yang sedang berusaha menyelamatkannya.
"Hemph, ilmu masih cetek sok-sokan lawan Black Devils." ucap salah satu preman yang berada di belakang Viola.
__ADS_1
"Black Devils," gumam Viola dengan kedua bola matanya yang membulat. "Mati aku." lirih gadis itu yang kini telah kehilangan harapannya.
Black Devils sudah Viola ketahui keberadaannya sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama