CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Kadang Suka Khilaf Gitu


__ADS_3

Di rumah utama Sagara, Viona sedang duduk termenung di depan teras depan menunggu suaminya pulang.


"Suamiku kok nggak pulang-pulang ya?" gumam Viona. "Padahal ini kan sudah malam." gadis itu mulai menghela napas beratnya.


Dari belakang ada seorang pelayan yang berjalan mendekat ke arah Viona.


"Nona," panggil pelayan itu.


Viona yang mendengar namanya dipanggil mulai menengok ke arah belakang.


"Ayam, ayam, ayam," ucap pelayan itu kaget saat melihat wajah Viona yang mengerikan.


"Mana ayam, Kak? Mana, mana, mana?" tanya Viona yang malah celingak-celinguk mencari keberadaan ayam di sekitar mereka.


"Maafkan saya, Nona. Tidak ada ayam di sekitar sini."


"Lha ... tadi katanya ada ayam." keluh Viona.


"Itu hanya ... ah lupakan saja, Nona. Itu masalah yang tidak penting. Oh iya, saya ke sini mau mengabarkan bahwa hidangan makan malam telah siap di meja makan."


"Oh~ ya sudah biarkan saja dulu. Vio belum lapar. Vio mau makan bareng sama suamiku aja nanti." jawab gadis itu.


"Baiklah, Nona. Saya permisi dulu." ucap Pelayan itu berpamitan.


"Iya, silakan." angguk Viona.

__ADS_1


"Fiuh~" Pelayan itu menghela napas lega karena dirinya bisa segera pergi dari hadapan Viona.


Viona saat ini mulai mengambil ponselnya dari tas selempang yang modelnya begitu norak.


"Ah mending aku telepon Papa aja deh. Sekalian minta nomor teleponnya suamiku."


Panggilan telepon itu mulai tersambung.


Cuit cuit cuit cuit.


Sekretaris Ken yang saat ini sudah berada di rumah biru mendengar dering telepon dari ponselnya Tuan Sofyan.


"Oh iya, aku lupa belum memberitahu kedua orang tuanya Viola bahwa gadis itu sudah berhasil diselamatkan." ucap Sekretaris Ken yang saat ini sedang mengambil ponsel Tuan Sofyan dari saku jasnya.


Saat pemuda itu melihat nama si penelepon, dia langsung gugup dan hampir menjatuhkan ponsel Tuan Sofyan karena saking terkejutnya.


"Halo," sapa Sekretaris Ken seramah mungkin.


"Kamu siapa?" tanya Viona dari seberang telepon yang langsung bisa mengenali kalau pemilik suara lawan bicaranya bukan Ayahnya.


"Ehem, ini aku, Kenzo. Sekretarisnya Tuan Muda Sagara."


"Kok ponsel Papaku ada sama kamu?"


"Tadi Tuan Sofyan sengaja menitipkannya kepadaku untuk misi penyelamatan Nona Viola yang sedang diculik."

__ADS_1


"Oh~" angguk Viona mengerti. "Gimana keadaan Kak Ola? Dia baik-baik saja kan? Udah berhasil diselamatkan, kan?"


"Keadaan Nona Viola baik-baik saja. Dia juga sudah berhasil kami selamatkan."


"Syukurlah~" Viona lega mendengar berita baik ini. "Sekarang Kak Ola ada di mana? Udah dianterin pulang belum?"


"Untuk sementara waktu Nona Viola akan beristirahat di salah satu rumah milik Tuan Muda. Karena tadi kondisinya begitu memperihatinkan. Tapi setelah diperiksa oleh Dokter, katanya kondisi Kakak Anda baik-baik saja, Nona."


"Oh gitu ya."


"Iya, Nona."


"Ngomong-ngomong, suamiku ada di sana kan? Tolong dong kasih teleponnya ke suamiku!" rajuk Viona.


"Tuan Muda sedang beristirahat juga." bohong Sekretaris Ken.


"Yah~ padahal aku udah kangen sama suamiku. Ya udah deh aku tutup aja ya teleponnya. Jangan lupa, bilangin ke suamiku harus cepat-cepat pulang!"


Tut tut tut tut.


"Nona, jangan dulu, ah~" Sekretaris Ken telat mencegah Viona dalam mengakhiri panggilan telepon itu. "Baru juga mau mulai pedekate, eh udah main ditutup aja teleponnya." keluh pemuda itu.


"Yang telepon siapa, Ken?" tanya Sagara yang saat ini tengah berjalan dari ruang dapur ke tempat Sekretaris Ken duduk sambil membawa satu gelas jus strawberry.


"Tuan Muda!" seru Sekretaris Ken kaget. "Kenapa Anda tidak menggunakan kursi roda?" peringat pemuda itu kepada Sagara. "Anda lupa ya kalau di rumah ini ada Viola juga."

__ADS_1


"Tenang saja kali, Ken. Paling Viola masih tidur."


"Tapi tetap saja, Tuan. Anda harus selalu berhati-hati."


__ADS_2