CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Di ... Dia


__ADS_3

"Kakak mau kemana?" tanya Viona yang saat ini sudah kembali ke ruang kamar rawat inapnya sendiri.


Sekretaris Ken yang saat ini sedang bersiap-siap pergi menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan dari Adiknya itu.


"Tuan Batari dan keluarganya sedang dalam masalah. Kakak harus segera menjemput mereka. Kasihan, mereka sudah tidak punya tempat bernaung lagi."


Bunda Amanda yang memang tidak tahu menahu tentang keluarganya Yunita langsung mengerutkan keningnya.


"Mereka siapa, Ken? Kok Bunda baru dengar kamu punya kenalan yang namanya Batari," tanya Bunda Amanda.


"Itu temannya Kenzo, Bun. Memang jarang yang tahu sih kalau aku ini berteman baik sama beliau, soalnya jarang mengumbar kebersamaan di sosial media, Bun," jawab Sekretaris Ken.


"Oh," angguk Bunda Amanda mengerti.


"Kalau gitu Kenzo berangkat dulu ya, Bun, Ra," pamit Sekretaris Ken.


"Iya, hati-hati,"


"Ok,"


Sekretaris Ken langsung bergegas meninggalkan rumah sakit agar bisa segera sampai di tempat tujuan.


***


Di tempat lain, Saga yang sudah ditinggal pergi Ibunya mulai menempati kembali tempat kursi kerjanya, namun beberapa saat kemudian Asisten pribadinya yang menggantikan posisinya Sekretaris Ken untuk sementara waktu datang menghadapnya.


"Tuan Saga, anda belum makan siang hari ini, silakan sebutkan apa yang ingin anda nikmati hari ini, saya akan mencarikannya untuk anda,"


"Eh, aku belum makan siang ya," ucap Saga tersadar.


"Iya, Tuan,"


"Makan apa ya?" Saga mulai berpikir dan menimang-nimang ingin makan apa, namun makanan yang muncul dibenaknya hanya makanan yang dibuat oleh Viona.


"Ah, s*al," gumamnya.


"Kenapa, Tuan? Apa ada sesuatu?"


"Ah, tidak," geleng Sagara. "Kamu boleh kembali ke tempatmu semula, silakan!"


"Tapi anda belum makan, Tuan," protes asisten itu.

__ADS_1


"Aku bisa mengurus diriku sendiri," tegas Saga.


"Baiklah," akhirnya asisten pribadi itu pergi meninggalkan Saga sendirian.


Sepeninggal Asisten itu, Saga malah meraih ponselnya, entah kenapa hatinya membimbing dirinya untuk menelepon Viona, meski tidak mungkin baginya untuk meminta gadis itu memasakkan makanan untuknya, tapi rasanya Saga ingin makan jika ditemani oleh Viona.


"Perasaan apa ini?" kekeh Saga menertawakan dirinya. "Aku nggak lagi jatuh cinta sama gadis jelek itu kan? Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang mm ... suami," cicitnya malu-malu kucing.


"Astaga, kenapa aku seperti anak muda yang sedang kasmaran seperti ini," heboh Saga yang saat ini sedang menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh Viona.


"Aku nggak cinta sama dia, aku hanya jatuh cinta dengan masakannya," racaunya lagi.


"Halo," dari seberang sana terdengar seseorang mengangkat panggilan telepon Sagara.


"Kamu siapa?" tanya Saga yang kini langsung menegakkan tubuhnya.


"Ini siapa?" tanya orang diseberang sana yang malah bertanya balik karena nomor Sagara di ponsel Viona dinamai Suamiku.


"Ini Suaminya Vio, kamu siapa? Kenapa kamu ngangkat panggilan telepon Istriku," jawab Saga lugas sekaligus mempertanyakan.


Murid laki-laki itu yang ternyata adalah ketua murid di kelas Viona mulai memperkenalkan dirinya.


"Hm," jawab Saga sekenanya dan malas menjelaskan lebih lanjut. "Viona kemana? Kenapa kamu yang mengangkat panggilan teleponku?" cecar Saga yang sudah tidak sabar ingin berbicara dengan Viona.


"Tadi pagi Viona dilarikan ke rumah sakit setelah jatuh dan tiba-tiba pingsan di lapangan basket,"


"Apa?!" sontak Saga langsung terkejut mendengar fakta ini.


"Sekarang Vio ada di mana? Dia dilarikan ke Rumah Sakit mana?" tanya Saga gusar.


"Ke Rumah Sakit Citra Husada,"


Klik!


Saga langsung mematikan sambungan telepon itu setelah tahu tempat di mana Vio dirawat. Saga juga langsung bergegas untuk menyusul ke sana.


Dibantu oleh Asisten pribadinya, Saga meluncur ke Rumah Sakit Citra Husada.


"Cepat!" pinta Saga tidak sabaran ingin segera sampai di Rumah Sakit itu.


"Sabar, Tuan! Kalau aku terlalu cepat yang ada malah kita yang masuk Rumah Sakit," sahut Asisten pribadi itu tenang.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, Saga akhirnya sudah tiba di Rumah Sakit itu dan mereka bergegas masuk ke dalam gedung.


"Permisi," ucap Asisten pribadinya Saga menyapa sang resepsionis.


"Saya mau tanya, pasien anak SMA yang tadi pagi dilarikan ke Rumah Sakit ini di rawat di kamar berapa ya?"


"Maaf, anda siapanya pasien itu?" tanya Sang Resepsionis.


"Atasan saya kerabatnya gadis itu,"


"Sebentar saya cek dulu ya,"


Tidak sulit bagi Sang Resepsionis untuk menemukan kamar Viona karena murid SMA yang dilarikan ke Rumah Sakit ini tadi pagi hanya dia seorang.


Saga yang sudah mendapatkan informasi itu segera menarik-narik Asisten pribadinya untuk segera pergi dan tidak usah berbasa-basi pamitan kepada Sang Resepsionis.


"Sebentar, Tuan! Nggak sopan kalau langsung kabur," bisik Asisten pribadi itu.


Setelah selesai pamitan, Asisten pribadinya Saga mulai mendorong kursi roda pemuda itu ke arah kamar VIP di Rumah Sakit ini.


"Sepertinya ini kamar yang dimaksud," ucap Asisten pribadinya Saga saat mencocokkan nomor kamar yang dia dapat dari Sang Resepsionis ternyata sama dengan nomor yang tertera di papan pintu kamar ini.


"Cepet buka!" ucap Saga yang masih tidak sabaran.


"Iya, sabar, Tuan!"


Ceklek!


Pintu kamar rawat inap VIP milik Viona dibuka oleh Asisten pribadinya Saga.


Seketika Saga dan Viona saling berpandangan sesaat setelah pintu kamar itu terbuka.


"Suamiku," gumam Viona menyebut nama Saga.


"Di ... di ... di-a," ucap Saga dengan jari telunjuknya yang mengarah ke Viona dan kedua bola matanya yang membulat melihat sosok gadis di depannya.


Bersambung ....


***


Sengaja dipotong di bagian iniπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ biar pada penasaran nggak bisa tidur😜😜😜😜

__ADS_1


__ADS_2