
"Aku sudah cantik, Ma. Jadi nggak perlu didandani lagi sama make up artist. Lagipula aku nggak cocok dengan hasil riasan mereka. Aku lebih suka merias dengan tangan ajaibku sendiri." tolak Viona.
"Ayolah, Sayang! Kamu itu mau dinikahkan dengan Tuan Sagara jadi harus tampil lebih cantik lagi." tutur Bu Nadira memberi tahu.
"Apa! Viona yang cantik bak bidadari ini mau dinikahkan dengan Tuan Sagara yang ganteng itu?"
"Iya, Sayang. Kamu harus mau ya! Nggak boleh nolak."
"Yeay!" sorak Viona keras sampai-sampai menarik perhatian dari orang-orang yang ada di sekitarnya. "Vio mau banget, Ma. Akhirnya impian Vio nikah sama pangeran tampan seperti Tuan Sagara terwujud. Yihaaa!" Viona saat ini tengah bersorak sambil berlari kecil mengitari kedua orang tuanya saking senangnya. "Eh, bukannya Tuan Sagara mau nikah sama Kakak Ola ya?" tanya Viona yang baru menyadari kenyataan ini.
"Kakak-mu tiba-tiba menghilang jadi kamu yang harus menggantikan posisinya."
"Ya sudah, let's go! Ayo ke ruang make up, Ma!" ajak Viona antusias.
***
Di bangku meja lainnya, Sekretaris Ken sedang manyun sambil melihat ke arah Sagara yang saat ini sedang memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Tuan Saga gimana sih? Sudah tahu kalau aku tuh suka sama Viona, kok malah ditikung sama, Tuan." ucap Sekretaris Ken sambil memajukan bibirnya dan membuat wibawanya meluncur ke dasar rawa-rawa.
"Mau gimana lagi. Kalau aku nolak pernikahan ini pasti Awan akan bersorak senang. Sudah kamu tenang saja! Aku tidak akan menyentuh wanita pujaanmu itu. Aku kan sahabat yang baik." sahut Sagara sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Janji ya, Tuan?" Sekretaris Ken mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Sagara.
"Ih, apaan sih? Nggak usah jari kelingking segala kali, Ken." tolak Sagara sambil menepak pelan tangan Sekretaris-nya.
"Pokoknya harus janji kelingking agar Tuan Saga nggak langgar janjinya." Sekretaris Ken bersikeras sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya, iya, iya," Sagara terpaksa menautan kelingking tangan kanannya ke kelingking jari laki-laki di sampingnya.
"Huft," Sagara menempelkan ibu jarinya ke ibu jari Sekretaris-nya. "Sudah puas kan?"
"Iya," angguk laki-laki di sebelahnya, "tapi aku akan terus memantau gerak-gerik Tuan Sagara."
"Baiklah. Terserah apa katamu, yang penting nanti malam aku mau disiapkan wanita dari barat yang badannya body goals dan juga pas di tangan."
__ADS_1
"Apanya yang pas di tangan, Tuan?" tanya Sekretaris Ken polos.
"Astaga," Sagara menyugar rambutnya yang sudah keren abis. "Masa kau tidak tahu sih maksudku. Itu lho yang kembar-kembar. Aku mau ukuran yang paling besar."
"Baik, Tuan. Nanti saya sampaikan kepada Madam Irene untuk mencarikan wanita sesuai permintaan, Tuan."
"Sip, kerjamu bagus."
"Tapi...."
"Tapi apa, Ken? Jangan katakan kalau kau akan mengundurkan dirimu dari pekerjaanmu saat ini. Jika kau mundur maka siapa yang akan mengurusku dan melindungiku dari kejaran Awan?" bisik Sagara.
"Baiklah, untuk sekarang aku tidak akan mengundurkan diri, tapi setelah jabatan Tuan Saga sudah aman, dengan berat hati aku ingin mundur ya, Tuan. Hati nuraniku selalu brontak saat melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip dalam hidupku."
"Oke. Aku paham betul kalau kamu itu golongan kanan."
***
__ADS_1
Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.