
Namun yang tidak diketahui oleh Nyonya Helena adalah kenyataan bahwa bayi perempuannya telah ditukar kembali oleh perawat lain yang bernama Alia sesaat setelah perawat bayaran Nyonya Helena berlalu dari ruangan khusus bayi.
Alia yang merupakan sahabat Bunda Amanda tidak rela jika anak temannya dicurangi oleh orang lain. Perempuan itu pun mengadukan hal ini kepada Bunda Amanda, tapi Bunda Amanda tidak ingin melabrak Nyonya Helena.
Justru yang Bunda Amanda lakukan adalah membiarkannya berjalan seperti air, mengalir saja, dan hal seperti ini bisa dia gunakan di masa-masa mendatang agar Arrabella-nya tidak diambil paksa oleh mantan suami kejamnya itu.
Tentu saja dengan menumbalkan anaknya Nyonya Helena untuk menggantikan posisinya Arrabella yang asli di sisi Tuan Smith.
Persetan dengan semua harta yang dimiliki oleh mantan suaminya, jika hanya kesakitan yang dia rasakan.
Sekretaris Ken saat ini langsung ditarik oleh Bunda Amanda agar berlindung di balik dinding saat wanita itu melihat bahwa Nyonya Helena masih berada di depan pintu masuk kamar anaknya.
"Kenapa sih, Bun? Kok-" ucapan Sekretaris Ken berhenti saat Bunda Amanda memintanya untuk diam.
Kini Bunda Amanda mengintip secara diam-diam ke arah Nyonya Helena dan Sekretaris Ken yang penasaran pun ikut mengintip wanita itu.
"Dia siapa, Bun? Kok ada di depan kamarnya Arra?" tanya Sekretaris Ken penasaran dengan suara yang lirih.
"Dia mantan Istrinya Tuan Bhumi yang dulu pernah mencoba menukar adik kamu dengan anaknya sewaktu masih bayi," sahut Bunda Amanda yang tidak kalah lirihnya.
Kedua bola mata Sekretaris Ken membulat mendengar kenyataan ini.
"Tapi Arra-nya Kenzo nggak jadi ketukar kan, Bun?" tanya Sekretaris Ken panik masih dengan suara pelannya.
"Iya, Arra-nya kita itu asli anak Bunda. Dulu Bunda pernah tes DNA juga kok sebelum kepisah sama Arra di Washington DC," jawab Bunda Amanda melegakan perasaan Sekretaris Ken yang tadi sempat gusar.
"Syukurlah,"
Nyonya Helena telah pergi dari depan kamarnya Viona, kini Sekretaris Ken dan Bunda Amanda mulai berjalan mendekat ke arah kamar gadis itu dan langsung masuk ke dalamnya.
"Bunda, Kakak, kok kalian lama banget? Abis dari mana sih?" tanya Viona sambil mengerucutkan bibirnya.
"Abis jenguk Tuan Surya di kamar sebelah," jawab Bunda Amanda.
"Om Surya Pratama bukan? Ayahnya Raga?" tanya Viona panik.
"Iya," angguk Bunda Amanda.
"Kamu kenal mereka kah, Ra?" tanya Sekretaris Ken.
"Bukan kenal lagi, aku udah dianggep kayak keluarga sama mereka," sahut Viona.
"Tolong bantuin Arra untuk ke kamar sebelah dong, Bun, Kak! Arra pengen jenguk Om Surya," pinta gadis itu.
"Tapi kamu masih sakit," ucap Bunda Amanda.
"Arra kuat kok. Kata Dokter Skala juga, nanti sore aku udah boleh pulang kan?" tanya Viona yang sekaligus mengingatkan mereka kembali.
__ADS_1
"Iya juga sih," angguk Bunda Amanda.
"Kalau gitu ijinkan Arra untuk jenguk Om Surya ya!" rengek gadis itu sambil memegangi tangan Bundanya.
"Ya udah deh, ayo biar Bunda antar," cakap Bunda Amanda mengalah.
Viona mulai turun dari atas ranjang tidurnya dan mulai berjalan keluar dari ruang kamarnya dengan selang infus yang masih terpasang di tangannya.
Tiang penyangga infus pun turut menyertainya untuk pergi ke ruangan rawat inap Tuan Surya.
Raga kaget saat mendapati Viona memasuki ruang rawat Ayahnya, apalagi dengan selang infus yang terpasang di tangan gadis itu.
"Vio, kamu kenapa? Kok tangan kamu di infus? Trus kenapa kamu pakai baju pasien kayak gini?" ucap Raga yang langsung memberondong gadis itu dengan banyak pertanyaan.
"Tadi aku tiba-tiba pingsan, lalu dilarikan ke rumah sakit sama Kakakku,"
"Sama Kak Ola?"
"Bukan, tapi sama Kak Kenzo,"
Kini tatapan Raga memicing melihat ke arah Sekretaris Ken yang berdiri tidak jauh dari gadis itu.
Tatapan Raga begitu sengit kepada Sekretaris Ken, takut-takut kalau label Kakak yang Viona sematkan kepada Kenzo itu bukan Kakak dalam artian yang sebenarnya.
Tatapan Sekretaris Ken pun tidak kalah sengitnya dengan Raga karena dia juga tidak suka saat tangan adiknya dipegang oleh remaja itu.
"Aku udah ketemu sama keluargaku yang asli. Kenalin ini Bunda aku, dan itu Kakak laki-lakinya aku," terang Viona yang kini membuat rahang Raga melunak seketika dan tergantikan dengan senyum yang ramah.
Tatapan sengit yang tadi dilayangkan oleh Raga pun kini berganti dengan tatapan memohon ampun.
'Mati aku, ternyata cowok itu Kakaknya Vio. Alamat susah dapet restunya nih," rutuk Raga dalam hati menyesali perbuatannya tadi.
Ceklek!
Pintu masuk ruangan ini terbuka dan menampilkan sosok Nyonya Dania yang baru kembali dari luar.
"Eh, kok ramai banget," ucapnya saat mendapati Bunda Amanda dan Sekretaris Ken ada di ruangan ini kembali.
Kedua netranya menangkap sosok Viona di ruangan ini.
"Eh, calon mantunya Tante ada di sini," ucap Nyonya Dania yang saat ini langsung memeluk erat tubuh Viona.
Nyonya Dania memang sudah sering melihat penampakan wajah Viona tanpa make up jadi dia tidak kaget saat melihat ada bidadari cantik ini di ruangan suaminya.
"Bukan calon lagi, Tan, tapi udah jadi mantu Tante," celetuk Sekretaris Ken.
Raga dan Nyonya Dania langsung menoleh ke arah Sekretaris Ken.
__ADS_1
"Maksudnya?" kening mereka berdua saling mengerut.
"Arra udah nikah sama Saga. Dia udah resmi jadi istri Saga kemarin siang," jelas Sekretaris Ken.
Kedua bola mata Raga membulat tidak percaya.
"Itu bohong kan, Vi? Tolong katakan itu peta, eh itu prank!" cecar Raga yang kini sudah memegang kedua bahu Viona.
"Itu benar, Ga. Aku kemarin kan udah cerita,"
Tubuh Raga melemas mengetahui fakta ini, sedangkan Sekretaris Ken membiarkannya saja dan tidak menjelaskan lebih lanjut kalau Viona akan bercerai dengan Sagara.
Sekretaris Ken juga masih belum yakin dengan Raga, takut kebaikan Raga kepada Viona cuma pencitraan saja.
"Vio, jadi kamu istrinya Saga?" tanya Nyonya Dania lembut dengan raut wajah sedikit kecewa.
Ya, kecewa.
Nyonya Dania awalnya ingin Viona menikah dengan Raga saja setelah dewasa nanti.
Meski Viona sedikit aneh, namun Nyonya Dania sangat menyukai Viona yang baiknya natural apa adanya.
"Iya, Tante," angguk Viona.
"Bilangin sama suami kamu itu! Pokoknya besok kalian berdua harus ngadep sama Mama!" perintah Nyonya Dania tegas.
"Hah?! Mama?" ucap Viona kaget tidak mengerti.
"Nyonya Dania itu Ibu kandungnya Saga, Vio," celetuk Sekretaris Ken menjelaskan.
"Tapi kok kemarin nggak hadir di pernikahannya Kak Saga?" tanya Viona kebingungan yang kini melihat ke arah belakang dan depan secara bergantian.
"Benar-benar ya, mereka berdua itu anak durhaka," geram Nyonya Dania marah karena tidak diundang di acara penting seperti itu.
"Perlu aku damprat sekarang juga nih!" emosi Nyonya Dania yang kini mulai keluar dari ruangan untuk menyusul anak-anaknya yang sudah bersikap kurang ngajar.
"Ma!" panggil Raga yang membuat langkah Nyonya Dania terhenti.
"Kamu di sini aja, Ga. Tungguin Papamu! Kalau dia udah bangun, minta dia buat makan! Mama ada urusan penting hari ini," tutur Nyonya Dania yang langsung melangkah keluar ruangan.
Sekretaris Ken yang teringat bahwa rahasianya bisa terbongkar segera menyusul Nyonya Dania yang saat ini ingin melabrak Sagara dan juga Awan.
"Tante!" panggil Sekretaris Ken sedikit berlari.
"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh berisik!" tegur salah satu perawat yang sedang lewat di dekat Sekretaris Ken.
Bisakah Sekretaris Ken menyusul Nyonya Dania, sedangkan langkah Nyonya Dania begitu cepat.
__ADS_1
To be continued.
***