
Rumah mewah yang dijadikan markasnya Sagara memang tidak terlalu luas, tapi sangat tertutup bagi orang luar.
Asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah ini saja hanya diberikan waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
Sebelum ART itu masuk ke dalam rumah, dia perlu melewati pintu khusus yang dipasangi alat pendeteksi canggih yang bisa mendeteksi barang-barang yang mencurigakan seperti kamera pengintai atau alat penyadap dan lain-lain.
Setelah seisi rumah bersih maka tidak ada satu orang pun yang boleh masuk ke dalam rumah itu kecuali Sagara dan Sekretaris pribadinya.
Para penjaga rumah ini hanya berjumlah dua sampai tiga orang saja karena lokasi rumah ini memang di rahasiakan dari siapa pun.
Tempat parkir yang memang tertutup membuat Sagara bisa leluasa untuk berjalan menggunakan kedua kakinya ke tempat penyimpanan mobil itu.
"Tuan," seru Sekretaris Ken yang kini mulai berlari kecil ke arah Tuan Mudanya.
Sagara menoleh ke arah belakang dan melihat kalau Sekretaris-nya sedang memegangi sebuah ponsel dengan bagian mikrophone-nya ditutupi oleh salah satu telapak tangan laki-laki itu.
"Ada apa, Ken?" tanya Sagara.
"Ini ada telepon masuk dari kedua orangtuanya Viola." jawab Sekretaris Ken.
__ADS_1
Sagara menerima panggilan telepon itu yang memang sudah aktif sejak tadi.
"Halo," ucap Sagara membuka suara.
"Menantuku, bagaimana keadaan Viola? Apakah anakku tidak apa-apa? Apakah anakku berhasil di selamatkan?" tanya Pak Sofyan bertubi-tubi.
"Kami baru akan mulai berangkat ke lokasi pertukaran." jawab Sagara singkat. "Tapi anak buahku sudah berjaga di sana. Jadi Tuan Sofyan tenang saja. Oh iya, Anda masih merahasiakan tentang kenyataan bahwa kini aku yang menghadle semua urusan ini kan?" tanya Sagara memastikan.
"Tentu saja, Menantuku. Aku menjaga rapat-rapat rahasia ini."
"Baguslah kalau begitu."
"Iya, Tuan, aku pasti akan menyelamatkan Viola."
"Terimakasih banyak. Oh iya, ngomong-ngomong jangan panggil Saya dengan sebutan Tuan, Nak. Panggil saja Ayah atau Papa seperti anak-anakku. Kamu kan kini sudah menjadi menantuku. Hehe,"
"Ba-baik," sahut Sagara kaku. "Kalau begitu teleponnya Saya tutup dulu, ya, Tu, eh Pa-pa."
"Iya, Nak. Hati-hati ya!" pesan Tuan Sofyan.
__ADS_1
Sambungan telepon itu pun berakhir dan Nyonya Nadira yang ada di sebelah Tuan Sofya segera memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.
"Tenang, Ma, tenang!" pinta Tuan Sofya.
"Gimana Mama bisa tenang kalau anak kita sedang dalam bahaya." sahut Nyonya Nadira yang sedang panik setengah mati.
"Tenang saja, Ma. Papa tahu kalau Tuan Muda Saga itu punya pasukan khusus yang handal. Papa yakin kalau Dia bisa menyelamatkan Viola tanpa ada luka sedikitpun di tubuh anak kita, Ma. Tolong percaya sama Papa ya!" bujuk Tuan Sofyan.
"Baiklah." ucap Nyonya Nadira patuh, meski rasa khawatir masih bertengger di dalam relung hatinya. "Nak, semoga kamu baik-baik saja." harap Nyonya Nadira.
***
Di lain tempat.
Saat ini mobil yang mengangkut para penjahat dan Viola sudah mulai memasuki sebuah hutan belantara yang lumayan dekat dengan kota A.
"Bro, kita mau lepasin gadis ini di tengah hutan?" tanya salah satu penjahat memastikan.
"Yoi. Kan kalau di hutan aman, nggak ada CCTV." sahut penjahat yang duduk di sebelah kursi kemudi.
__ADS_1