CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Sejenis Mantan Terindah


__ADS_3

Sambungan telepon itu pun diakhiri dari dua arah.


"Raga mau ke mana sih? Kok pakaiannya rapi gitu." gumam Viona bertanya-tanya setelah sambungan telepon dengan Raga berakhir. "Awas aja kalau besok dia nggak ngasih oleh-oleh buat aku." lanjutnya.


Pemuda tampan yang dipanggil rekan oleh Viona adalah Raga Surya Pratama. Anak semata wayang dari pasangan Surya Pratama dan Dania yang merupakan Ibu kandungnya Sagara dan Awan.


Raga juga adalah pemuda yang telah membimbing Viona selama ini dan membuat gadis itu menjadi wanita yang kuat dan menguasai berbagai jenis ilmu beladiri.


***


Di kediaman Surya Pratama, keluarga kecil itu tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara pesta ulang tahunnya Yunita.


"Ma, Pa, kalian udah sholat Maghrib kan?" tanya Raga yang saat ini tengah menuruni tangga di rumah sederhana mereka.


"Udah," angguk Tuan Surya, "tapi nggak tahu tuh kalau Mama,"


"Mama juga udah kali~" cetus Nyonya Dania.


"Masa?" ucap Raga meragukan pengakuan kedua orang tuanya.


"Kamu nggak percaya juga nggak papa, wlee," pelet Nyonya Dania kepada anaknya.


"Hilih," Raga melihat Ibunya dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan "apa-apaan sih pake mele-mele segala."


Tuan Surya hanya terkekeh geli melihat kelakuan Ibu dan anak itu yang lebih mirip seperti Kakak beradik yang sedang saling mengejek.


"Udah, udah, mending kita segera berangkat. Biar nanti nggak telat datengnya." lerai Tuan Surya.


"Oh iya, Mama juga belum beli kado buat Yun." ucap Nyonya Dania.


"Aku juga belum," tutur Raga.

__ADS_1


"Makanya kita harus cepetan berangkat biar bisa mampir beli kado dulu. Ayo!" ajak Tuan Surya.


"Ayo, Pah." sahut Raga dan Nyonya Dania bersamaan.


Mereka bertiga mulai keluar dari dalam rumah ini dan lagi-lagi Ibu dan anak itu saling berebut untuk keluar duluan.


"Eh, minggir!" ucap Nyonya Dania kepada anaknya.


"Mama yang minggir! Sekali-kali ngalah sama anaknya, Ma." timpal Raga.


"Kamu yang harus minggir! Kamu nggak kenal istilah ladies first ya, Ga?"


"Nggak kenal tuh." sahut Raga dengan pengucapan yang dibuat-buat.


"Hadeh," Tuan Surya lagi-lagi geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan istrinya itu.


"Aku dulu!"


"Ah bodo amat lah, sesuka mereka aja berdua." ucap Tuan Surya yang memilih berjalan ke garasi rumahnya untuk mengeluarkan mobil.


***


Di kediaman keluarga Abigail.


"Wan," panggil Tuan Batari kepada menantunya yang baru sampai di rumah ini.


Awan menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke sumber suara. "Iya, Pah." sahutnya.


"Kamu abis darimana aja? Kok pulang ke rumahnya telat banget?"


"Aku abis ngurusin bisnis kita, Pah. Tadi aku ngecek pembukuan di Perusahaan Pertambangan Papa sama pembukuan di restoran milik Papa." jawab Awan berbohong.

__ADS_1


"Oh~ Papa kira kamu kemana. Ya sudah, cepat sana naik dan segera bersiap-siap! Sebentar lagi para tamu akan mulai berdatangan."


"Hah, tamu? Acara ulang tahunnya Yun dirayain secara besar-besaran kah, Pah?" kernyit Awan. "Bukannya cuma makan malam bersama keluarga aja ya?"


"Awalnya gitu, tapi karena ada beberapa anggota keluarga yang lain ingin datang, jadinya Papa undang semuanya aja deh, biar nggak disangka pilih-pilih."


"Oh~" angguk Awan mengerti. "Kalau gitu aku naik dulu ya, Pah." pamit laki-laki itu kepada Ayah mertuanya.


"Iya,"


Selepas kepergian Awan, tiba-tiba asisten pribadi Tuan Batari mendekati laki-laki paruh baya itu.


"Tuan, ada panggilan telepon masuk." ucapnya memberitahu sambil menyodorkan ponsel pintar itu dengan sopan ke arah Bosnya.


"Dari siapa?" tanya Tuan Batari seraya mengambil alih hape itu dari tangan asistennya.


"Dari mantan calon mantu, Tuan."


"Oh~"


Tuan Batari segera membawa ponsel itu ke tempat yang sepi dan juga aman dari para penguping.


"Halo," sapa Tuan Batari kepada orang di seberang telepon.


"Halo, Beh," sapa pria yang jadi lawan bicara Tuan Batari saat ini.


"Kamu gimana kabarnya, Tam? Udah lama banget lho kamu nggak hubungi, Babeh."


"Kabar aku baik, Beh. Maaf ya kalau akhir-akhir ini Tama jarang hubungi Babeh."


"Babeh maafin, tapi sebisa mungkin di masa depan kamu jangan lupa untuk selalu komunikasi dengan Babeh!"

__ADS_1


__ADS_2