CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Ini Bukan Mimpi, Kan, Bun?


__ADS_3

"Bunda, bicaralah. Jangan diem aja! Ini bukan mimpi kok, ini kenyataan," yakin Sekretaris Ken kepada Ibunya.


Namun Bunda Amanda hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak mau bersuara.


Bunda Amanda takut jika suaranya tercekat dan mengindikasikan bahwa semua ini mimpi belaka.


Sudah sering wanita itu bermimpi hal seperti ini dan akhirnya dia kecewa saat terbangun dan tidak ada Arrabella di samping tubuhnya.


Sekretaris Ken menatap nanar keadaan Ibunya saat ini.


Pintu ruang kamar inap ini tiba-tiba diketuk oleh seorang perawat dan pintu putih itu mulai diputar knop pintunya dan terbuka, terlihat ada satu orang perawat wanita di ambang pintu.


Hanya Sekretaris Ken saja yang mengalihkan pandangannya ke arah perawat itu.


"Permisi, Tuan. Dokter Mutia meminta Anda untuk segera datang ke ruangannya," tutur perawat itu.


Sekretaris Ken segera berdiri dari duduknya dan melepaskan tangan Adiknya penuh ketidakrelaan.


Kini perhatian pemuda itu dia alihkan ke arah Ibundanya.


"Bunda, Ken tinggal dulu ya sebentar," pamit pemuda itu.


Pandangan Bunda Amanda sekilas beralih ke arah anak lelakinya dan mengangguk singkat, setelah itu dia kembali memandangi wajah anak perempuannya yang masih terlelap tidur.


Sekretaris Ken yang sudah mendapatkan persetujuan dari Ibundanya segera berjalan keluar dan mengikuti langkah perawat wanita itu yang memang ditugaskan oleh Dokter Skala Mutia agar mengantarkan pemuda itu sampai ke ruangan Dokter wanita itu.


Lorong yang dilalui cukup berkelak-kelok, dan Sekretaris Ken sesekali melihat tanda di papan yang terpasang di setiap cabang agar ketika pulang nanti dia tidak tersesat.


Kini mereka berdua telah sampai di sebuah pintu ruangan yang bertuliskan dr. Skala Mutia di papan persegi yang terpasang di pintu putih itu.


"Silakan, Tuan," ucap perawat itu mempersilakan Sekretaris Ken untuk masuk ke dalam ruangan.


"Terimakasih sudah mengantarku sampai ke sini,"


"Sama-sama, Tuan,"


Sekretaris Ken mulai memutar knop pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


Skala Mutia yang awalnya sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang ada di tangannya mulai meletakkan berkas-berkas itu saat tahu Sekretaris Ken sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Silakan duduk, Tam!" cakap Dokter muda itu kepada satu-satunya pemuda yang ada di ruangan ini.


Sekretaris Ken mulai duduk di kursi yang telah di sediakan.


"Gimana, Ska, keadaan Adikku? Apa dia baik-baik saja?" tanya pemuda itu.


Skala Mutia mulai mengambil berkas hasil lab yang sudah keluar beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Tam, apakah selama ini Adikmu mengkonsumsi obat-obatan yang berbahaya? Hasil lab menunjukkan bahwa di dalam darah Adikmu ada zat-zat yang berbahaya. Sepertinya itu adalah penyebab Adikmu tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri."


Kedua tangan pemuda itu terkepal kuat karena merasa marah saat mengetahui fakta ini.


"Tam, kok malah diam? Aku lagi bertanya lho ini?" ucap Skala Mutia meminta jawaban dari pemuda di hadapannya itu.


"Aku tidak tahu, Ska. Aku saja baru menemukan Adikku hari ini, dan riwayat hidupnya selama beberapa tahun terakhir aku tidak mengetahuinya," jawab Sekretaris Ken jujur.


"Aku kira kalian sudah bertemu sejak lama, makanya aku bilang bahwa kamu utang penjelasan sama aku."


"Aku tidak akan mungkin merahasiakan berita gembira seperti ini kepadamu, Ska."


"Maafkan aku karena tadi sempat berpikiran buruk tentangmu."


"Oh iya, lalu bagaimana dengan kesehatan Adikku, Ska? Apa dia masih bisa diobati dan semua zat berbahaya di dalam tubuhnya bisa dikeluarkan?"


"Selama Arra tidak mengonsumsi lagi obat-obatan berbahaya itu, kesehatan tubuhnya bisa dipulihkan."


"Syukurlah," ucap Sekretaris Ken merasa lega.


"Oh iya, kenapa penampilan Adikmu terlihat aneh, Tam?" tanya Dokter Mutia yang sangat penasaran dengan hal ini.


"Aku juga tidak tahu. Dari awal berjumpa juga sudah seperti itu. Aku tidak tahu sebenarnya hal apa saja yang sudah dilalui Adikku selama ini sehingga bisa membuatnya menjadi pribadi unik seperti itu. Aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkannya, namun jika ada sesuatu yang tidak beres di balik karakter uniknya Arra, aku tidak akan tinggal diam." ungkap pemuda itu.


"Semoga seiring berjalannya waktu semua hal-hal ganjil ini bisa terkuak ya. Aku kasian sama Adikmu itu. Sudah penampilannya tidak wajar, kesehatan tubuhnya juga seperti sengaja dirusak oleh orang lain."


"Semoga saja,"


"Oke," anggukku Sekretaris Ken.


Setelah percakapan singkat itu, Sekretaris Ken dan Dokter Skala Mutia keluar dari ruangan itu. Mereka berpisah jalan karena tujuan mereka berbeda.


Di dalam perjalanan menuju ke ruang rawat inap Viona, Sekretaris Ken tidak sengaja berpapasan dengan Kakak seniornya.


"Tam, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Citra yang saat ini sedang berjalan bersama dengan keluarga kecilnya.


"Salah satu anggota keluargaku ada yang sedang sakit, Kak," jawab pemuda itu.


Sekretaris Ken melirik ke arah lelaki dan juga bocah kecil di samping kakak seniornya itu.


"Oh iya, kenalin ini suamiku, namanya Aston, dan ini jagoan kecilku, namanya Revan," ucap Citra memperkenalkan keluarga kecilnya kepada adik kelas itu.


"Salam kenal, saya Kenzo, adik kelasnya Kak Citra semasa SMA," tutur Sekretaris Ken memperkenalkan dirinya kepada Aston.


"Saya Aston,"


Kedua lelaki itu saling berjabat tangan singkat.

__ADS_1


"Oh iya, Kakak di sini lagi ngapain? Tumben jalan-jalan di koridor rumah sakit? Biasanya kan langsung jalan ke kantor," tanya Sekretaris Ken penasaran karena sang pemilik Rumah sakit ini tumben sekali berjalan-jalan di koridor rumah sakitnya.


"Kebetulan ada salah satu pasien yang ingin kami tengok, dan satu hal lagi, aku juga sering jalan-jalan di koridor rumah sakit ini. Masa pemilik usaha tidak mengecek keadaan di lapangan sih," ungkap Citra.


Sekretaris Ken terkekeh, "Maaf karena aku sudah berpikiran buruk,"


"Itu kebiasaan burukmu dari dulu, Tam" kekeh Citra yang tidak merasa tersinggung sedikit pun.


***


Di ruang kamar inap Viona atau Arrabella, Bunda Amanda masih tetap setia menemani gadis manis itu.


Jemari tangan Viona bergerak lemah dan kedua kelopak mata gadis itu juga mulai bergerak-gerak seperti ingin terbuka.


Bunda Amanda langsung deg-degan saat melihat hal itu, dia juga terus berdo'a dalam hatinya agar anak perempuannya segera sadar.


Dan akhirnya hal yang ditunggu-tunggunya terjadi.


Kelopak mata Viona mulai terbuka dan sesekali mengedip lemah, lalu terbuka lagi.


Bunda Amanda menangis haru karena anak perempuannya sudah sadar dari pingsannya.


Pandangan Viona kini mulai tertuju ke arah Ibundanya, kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca saat mendapati Bunda yang selama ini dia rindukan ada di sampingnya saat ini.


"Bunda," panggil Viona dengan suara yang serak.


Bunda Amanda tidak mau menjawab karena dia takut hal yang dia alaminya saat ini hanya mimpi belaka.


"Bunda kenapa nggak mau jawab panggilan, Arra?" tanya Viona sedih dengan tetesan air mata yang sudah luruh membasahi kedua pipinya.


"Apa jangan-jangan ini hanya mimpi Arra semata," isak gadis itu yang kini semakin terdengar pilu.


Bunda Amanda tersayat-sayat hatinya saat melihat gadis yang dia rindukan menangis sesenggukan.


Akhirnya wanita tua itu memberanikan diri untuk berbicara karena dia tidak tega melihat anaknya menangis, seandainya ini mimpi, dia tidak rela jika di dalam mimpinya Arra menangis seperti ini.


"A-rra," ucap Bunda Amanda sedikit tercekat.


Tangis Viona terhenti seketika saat mendengar suara yang telah lama ia rindukan bisa dia dengar kembali saat ini dan membuatnya yakin bahwa ini bukan mimpi belaka.


"Bunda, ini nyata kan, Bun? Bukan mimpi kan, Bun?" tanya Viona dengan tatapan penuh harap.


"Ini nyata," angguk Bunda Amanda kuat-kuat.


Wusss!


Tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang memasuki ruangan kamar rawat inap ini melalui sela-sela jendela yang terbuka.

__ADS_1


to be continued.


***


__ADS_2