
Sagara menutup cepat pintu kamarnya dan langsung membenamkan diri dalam selimut yang tebal, berharap selimut itu bisa menenangkannya.
"Aku tidak mau masuk penjara." gumam Sagara.
Di ruang kerja Tuan Bhumi, Kenzo remaja telah menyetorkan kliping yang sudah berhasil dia buat ke tangan Ayahnya Sagara.
Tuan Bhumi mulai mengecek isi dari kliping biru itu. Sesekali kepalanya mengangguk sambil terus membaca lembar demi lembar tulisan yang ada di dalam kliping itu.
"Bagus," puji Tuan Bhumi kepada Kenzo remaja. "Mulai besok kamu akan mulai mendapatkan tugas baru."
"Tugas seperti apa, Tuan?" tanya Kenzo remaja penasaran.
"Ini," Tuan Bhumi meletakkan sebuah map di hadapan pemuda itu. "Baca dan pelajarilah! Setelah kamu paham semua materi yang ada di dalam map ini, aku akan mengujimu."
"Baik, Tuan." angguk Kenzo seraya mengambil map merah itu dari atas meja.
"Sekarang kamu siapkan makanan kesukaan Saga! Aku ingin meredakan amarahnya."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit undur diri." ucap Kenzo penuh kesopan-santunan.
Setelah mundur beberapa langkah, pemuda itu langsung balik kanan dan mulai meninggalkan ruang kerja Tuan Bhumi dengan perasaan bertanya-tanya.
'Apakah Tuan Bhumi dan Tuan Muda Saga bertengkar?' tanyanya dalam hati. 'Apa mungkin ini adalah penyebab Tuan Muda bertingkah aneh seperti tadi?'
__ADS_1
Kenzo mulai menuruni anak tangga di rumah megah ini. Sebelum lanjut ke ruang dapur, dia sempatkan menyimpan map merah itu ke dalam tas yang ada di dalam loker khusus untuk para pekerja di rumah ini yang pulang pergi.
Kenzo memang sudah dipersiapkan oleh Tuan Bhumi Cakra untuk menjadi Sekretaris pribadi dari anak keduanya di masa mendatang.
Perasaan bersalah yang menumpuk dalam hati Tuan Bhumi membuat lelaki tua itu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak keduanya.
Sagara berpisah dengan Ibunya sewaktu dia masih balita, saat dia sedang manja-manja nya kepada Nyonya Dania tapi malah ditinggal pergi oleh wanita itu.
Pemuda itu selalu berpikir bahwa Ibunya tidak menyayanginya dan lebih memilih laki-laki lain ketimbang anaknya sendiri.
Yang membuat Sagara semakin membenci Ibunya sendiri adalah pola pikir yang ditanamkan oleh Tuan Bhumi yang selalu menyalahkan ketidakmampuan Ibu Sagara dalam menyenangkannya dan membuat dia terpaksa mencari kesenangan pada wanita lain.
Sagara yang memang masih muda, gampang sekali tercuci otaknya. Dia mulai berpikiran sama seperti yang dijejalkan oleh Ayahnya kepada bocah cilik itu.
Nyonya Dania yang sifatnya lemah dan mudah ditindas, hanya bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Dia memilih untuk abai pada semua perkataan nyelekit yang mereka lontarkan padanya. Wanita itu mulai menjalani kehidupan barunya dan perlahan bangkit dari keterpurukannya. Karakter lemahnya di masa lampau mulai dia tanggalkan, lalu dia menjelma menjadi wanita yang kuat dan tidak mau mengalah jika dia tidak bersalah, dan semua itu berkat ketekunan dari Tuan Surya yang tidak pernah menyerah dalam merubah karakter Nyonya Dania yang akhirnya dipersunting menjadi bidadari dalam hidupnya.
***
Di ruang kamar Sagara.
Pemuda tampan itu tanpa sadar terlelap tidur setelah berpuluh-puluh menit bersembunyi di dalam selimutnya.
Di dalam mimpinya, Sagara sedang berada di padang ilalang yang luas.
__ADS_1
Srek!
Srek!
Srek!
Pemuda itu celingak-celinguk mencari keberadaan sumber suara itu.
Srek!
Srek!
Srek!
Terlihat di pandangan pemuda itu ada tanaman ilalang yang bergoyang-goyang.
Secara perlahan kedua kaki Sagara mulai dia langkahkan mendekat ke arah tanaman itu.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, sampai sekian langkah yang akhirnya mengantarkan dirinya berdiri setengah meter lagi dari tanaman yang masih bergoyang-goyang itu.
Disibakkan dedaunan ilalang itu oleh kedua tangannya.
Tubuh pemuda itu terlonjak kaget dengan kedua bola matanya yang membulat sempurna.
__ADS_1
Di balik tanaman ilalang itu ternyata ada seorang gadis cilik yang sedang terbaring bersimbah darah dengan kedua mata yang melotot.