
"Kenapa kau malah tertawa sih? Harusnya kau itu merasa kesal dan jengkel karena rencana kita gagal total." keluh Sagara.
"Untuk apa aku melakukan hal itu. Hanya buang-buang emosi saja, Tuan. Lagipula aku sudah terbiasa dikalahkan oleh Sekretaris Diana setelah aku menang melawannya di turnamen sebelumnya."
"Kenapa takdir hidupmu dan Diana selalu terikat seperti ini? Dulu saat jaman sekolah, kalian juga selalu saling bersaing untuk memperebutkan posisi nomor satu di sekolah kita dan Universitas kita. Jika semester ini kamu yang juara satu, maka semester depan pasti Diana yang juara satu, dan begitu seterusnya."
"Entahlah," Sekretaris Ken mengendikkan kedua bahunya. "Mungkin setelah aku resign dari pekerjaanku saat ini, aku bisa terbebas dari lingkaran persaingan ketat dengan Sekretaris Diana."
"Jangan bahas masalah resign. Kau tidak boleh resign dalam waktu dekat ini, titik."
"Iya, Tuan." angguk Sekretaris Ken. "Oh iya, penculik yang tadi menelepon bilang apa?"
"Dia cuma bilang kalau Viola ada di sebuah tempat yang dulunya ramai dilalui kendaraan tapi kini sudah ditinggalkan meski masih tetap digunakan. Begitulah kira-kira perkataannya. Tapi tenang saja, aku sudah meminta Pasukan Semut untuk menyisir area di sekitar stasiun terbengkalai untuk menemukan Viola."
__ADS_1
"Dulu ramai dilalui kendaraan tapi kini sudah ditinggalkan tapi masih digunakan." gumam Sekretaris Ken yang saat ini mulai memikirkan tempat yang dimaksud oleh para penjahat itu.
"Sudah pasti stasiun terbengkalai lah, Ken. Kenapa kau pusing-pusing memikirkannya." ucap Sagara yang tahu betul bahwa Sekretarisnya saat ini sedang berpikir keras untuk mencari tempat yang sesungguhnya.
"Bukan, Tuan. Mereka tidak mungkin melepaskan Viola di tempat yang sudah kita ketahui. Mereka tidak akan mungkin memasukkan diri mereka sendiri ke dalam lubang buaya. Itu sama artinya mereka bunuh diri. Lagipula stasiun terbengkalai tidak memenuhi syarat. Bukankah penjahat itu bilang kalau tempatnya sudah ditinggalkan tapi masih digunakan? Sedangkan stasiun terbengkalai tidak lagi digunakan."
"Masih tahu, Ken. Bukankah para gelandangan suka tidur di gerbong kereta yang sudah dibuang di stasiun itu?"
"Sepertinya bukan itu yang dimaksud oleh penjahat itu. Apa jangan-jangan ...,"
Sekretaris Ken tidak menjawab pertanyaan Sagara, namun dia langsung memutar balik mobilnya ke arah yang berlawanan dengan rute yang sebelumnya. Wajah panik dari Sekretaris Ken nampak begitu jelas.
"Mereka sudah gila." ucap Sekretaris Ken yang saat ini tengah mengebut ke tempat yang dimaksud oleh para penjahat itu, yang ternyata adalah jalanan aspal di tengah hutan dekat kota A.
__ADS_1
"Sudah gila kenapa, Ken?" tanya Sagara yang masih belum tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
"Viola saat ini sedang berada di jalan aspal hutan dekat kota A. Masalahnya jalanan itu sering dilewati oleh Black Devil."
"Black Devil itu apa?" kening Sagara mengerut.
"Itu adalah kelompok Mafia paling kejam yang ada di negara berkembang ini. Mereka menjual segala macam jenis senjata ilegal, obat-obatan terlarang dan juga melakukan transaksi perdagangan jual beli manusia."
"Apa!" Sagara begitu kaget dengan kenyataan ini.
"Tuan, cepat kau hubungi Pasukan Elang dan kerahkan mereka ke jalanan hutan dekat kota A!" pinta Sekretaris Ken.
"Baik." angguk Sagara cepat yang langsung menghubungi Pasukan Elang miliknya.
__ADS_1
Sedangkan Sekretaris Ken, saat ini tengah menghubungi sebuah nomor yang sudah lama tidak dia hubungi yaitu nomor Tuan Chen seorang ketua Mafia terbesar di negara berkembang ini yang menjadi lawannya Black Devil.
***