CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Sejenis Mantan Terindah Part 2


__ADS_3

"Babeh maafin, tapi sebisa mungkin di masa depan kamu jangan lupa untuk selalu komunikasi dengan Babeh!"


"Baik, Beh."


"Kalau bisa sih kapan-kapan kita main golf bareng kayak dulu rutin setiap Minggu."


"Kalau itu Tama nggak bisa ngejanjiin, hehe,"


"Oh iya, Yun hari ini ulang tahun lho~" ucap Tuan Batari mengingatkan.


"Iya, Beh. Aku masih ingat kok."


"Kirain udah lupa. Secara udah jadi mantan. Biasanya kan kalau mantan itu selalu terlupakan."


"Kalau mantannya, mantan terindah ya beda lagi atuh, Beh. Yang ada selalu terbayang-bayang, jiaaaah,"


"Hahaha, bisa aja kamu, Tam." gelak Tuan Batari. "Kamu datang kan?"


"Nggak, Beh. Aku nggak bakalan dateng. Aku cuma paketin hadiah aja buat Yun."


"Kali ini hadiahnya apa, Tam? Makhluk hidup lagi bukan?"

__ADS_1


"Iya, Beh, hehe,"


"Astaga, harusnya kamu jangan ngasih makhluk hidup lagi. Ntar kalau makhluk itu kenapa-kenapa atau sakit, bisa-bisa si Yun nggak doyan makan dan uring-uringan sepanjang hari. Itu aja pas si Kimoci lemas lunglai tak berdaya dan nggak doyan makan, si Yun aja sampe manggil Dokter hewan berkali-kali dan nyewa dua Dokter hewan sekaligus selama seminggu penuh untuk ngawasin keadaannya si Kimo sampe dia benar-benar sembuh."


"Hahaha, kok sampe segitunya si, Beh?"


"Tahu tuh si Yun. Kalau sama kamu mah juteknya minta ampun. Tapi kalau sama barang pemberian kamu, lecet dikit aja udah pusing tujuh keliling dia." jelas Tuan Batari. "Kayaknya si Yun masih cinta kali sama kamu, Tam."


"Husst, Babeh nggak boleh bilang gitu. Yun udah nikah dan dia nggak mungkin masih cinta sama aku. Kalau dia emang masih cinta sama aku, dia nggak bakalan ninggalin aku dan nggak akan nikah sama Awan. Mungkin sikap Yun yang sayang banget sama barang pemberianku murni karena dia memang suka sama barangnya bukan sama orangnya." tampik Tama keras-keras.


"Ya, ya, ya, ya," angguk Tuan Batari memilih untuk tidak membantah. "Oh iya, hadiah kamu kali ini apa, Tam? Burung, kelinci, kucing, atau apa?"


"Ayam kampung, Beh."


"Iya, Beh. Tapi bukan buat dipelihara, tapi buat dimasak. Kemarin Tama sempet liat statusnya Yun di WEA yang lagi kepengen makanan olahan dari bahan dasar Ayam kampung. Nah karena aku tahu kalau Yun itu pemilih dan hanya bisa makan-makanan olahan Ayam buatan Mama Sherina, jadinya aku kirim yang masih hidup, Beh. Biar dagingnya tetap seger mau dimasak kapan pun."


"Kalau sampai Yun tahu, nggak bakalan kemasak tuh Ayam. Palingan malah dibuatin kandang dari emas."


"Hahaha, Babeh kalau becanda suka lucu deh."


"Hm," jawab Tuan Batari singkat. "Oh iya, kira-kira Ayamnya nyampe jam berapa, Tam?"

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi."


"Waduh, gawat. Teleponnya udahan dulu ya Tam! Babeh mau ngamanin Ayam itu dulu sebelum ketahuan sama si Yun."


"Iya, Beh."


Tuan Batari langsung mematikan sambungan telepon itu dan kini mulai berlari tergesa-gesa ke arah luar rumahnya.


"Beh, kamu kenapa lari-lari gitu?" tanya Nyonya Sherina yang berpapasan dengan suaminya itu.


"Ada urusan penting, Ma." sahut Tuan Batari yang tidak berhenti dari jalannya.


Nyonya Sherina hanya mengendikkan kedua bahunya dan mulai melanjutkan langkahnya kembali.


Saat Tuan Batari sudah berada di luar rumah ini, dia hanya bisa tertunduk lesu saat melihat anak perempuannya sedang menandatangani surat pernyataan barang telah sampai di sebuah kertas yang disodorkan petugas antar barang itu. "Mati aku," ucap Tuan Batari lesu.


Yunita yang telah selesai menandatangani surat itu segera berbalik sambil membawa dua kotak yang berisi Ayam yang masih hidup.


"Babeh," panggil Yunita riang saat melihat ada Ayahnya di dekat pintu masuk. "Besok kita buatin kandang buat Ayam cantik dan ganteng ini ya!" pintanya riang.


"Tuh kan, apa kubilang." gumam Tuan Batari lemas. "Nggak bakalan dimasak," ucap lelaki paruh baya itu yang saat ini sedang menangis di dalam hati.

__ADS_1


***


Tekan tombol like dan simpan cerita ini di gudang buku kalian agar jika cerita ini update kalian mendapatkan notifikasinya.


__ADS_2