
"Huha! Huha! Huha!" teriak Viona yang masih semangat berlari di sepanjang koridor dekat taman rumah ini.
Gleber! Gleber!
Suara burung-burung terbang terdengar di sepanjang koridor yang sedang dilalui oleh Viona. Burung-burung itu kaget dengan suara Huha milik Viona yang memekakkan telinga.
Laju lari Viona mulai melambat tatkala kedua netranya tertarik dengan tanaman-tanaman yang tumbuh di taman ini.
"Itu kan pohon ubi sama pohon pisang," ucap Viona dengan jari telunjuknya yang mengarah ke tanaman itu. "Dan itu kan pohon kelapa, tapi kok udah berbuah aja ya? Padahalkan masih pendek pohonnya?"
Seorang pelayan laki-laki lewat di sekitar tempat itu. Viona yang melihatnya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Kakak!" pekik gadis itu memanggil pelayan itu.
Pelayan laki-laki itu menoleh dan melihat Viona sedang melambai-lambai padanya. Dia yang paham sedang dipanggil oleh gadis itu segera mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Vio pengen kelapa muda sama ubi bakar. Tolong ambilkan kelapa dan ubinya dong, Kakak!" pinta Viona dengan puppy eyesnya.
"Kalau ubinya, saya bisa mengambilkannya, tapi kalau kelapa mudanya harus seijin Tuan Muda Saga terlebih dahulu, Nona."
"Oh gitu ya. Ya udah deh, tolong ambilkan ubinya aja ya, Kakak."
"Baik, Nona," angguk pelayan itu yang kini mulai bersiap-siap menyingsingkan lengan bajunya.
Alas kaki pelayan itu mulai dilepas saat kedua kakinya memasuki area tanah di taman ini. Sesekali pelayan itu mengecek pohon ubi yang sudah siap dipanen.
Viona juga tidak mau kalah dengan pelayan itu. Gadis itu pun menyusul ke area kebun ubi. Tidak lupa alas kakinya dia lepas setelah sebelumnya melihat pelayan itu melepas alas kakinya saat masuk ke area tanah di taman ini.
Viona itu tidak bodoh. Dia terlihat bodoh hanya karena tidak bisa membaca dan berpenampilan seperti badut. Selebihnya Viona bisa berpikir dengan jernih pada hal-hal yang lain.
"Vio bantu ya, Kakak," tawar gadis itu kepada pelayan yang saat ini sedang kesulitan mencabut ubi singkong dari dalam tanah.
"Tidak usah, Nona. Saya bisa sendiri kok," tolak pelayan itu secara halus.
Namun setelah beberapa kali mencoba mencabut pohon singkong itu, pelayan laki-laki itu hanya menghasilkan peluh, dan umbi akar yang ada di dalam tanah itu belum kunjung terlihat.
"Vio bantuin aja ya, Kak! Keringet Kakak udah kayak sungai Nil tuh, deras bener. Hehe," cengir Viona menggoda pelayan itu yang wajahnya sudah banjir keringat.
"Terserah, Nona," pasrah pelayan itu yang kini melepaskan tangannya dari batang umbi singkong itu. Dikeluarkannya sapu tangan dalam saku celananya dan semua keringat di wajahnya segera dia lap dengan selembar kain itu.
Sedangkan Viona saat ini mulai memegangi batang singkong itu dengan satu tangannya, dalam satu tarikan ke atas, umbi akar di dalam tanah itu langsung mencuat ke permukaan tanah ini.
"Emejing," ucap pelayan laki-laki itu saat melihat kekuatan super milik Viona.
Prok! Prok! Prok!
"Luar binasa, Nona." puji pelayan itu sambil bertepuk tangan.
"Hehe, ini hal biasa kok bagi Vio," timpal Viona merendah sambil memamerkan gigi putihnya.
***
Di sebelah barat taman ini, Sagara tengah murka karena melihat tanaman bunga mawarnya rusak. Sebenarnya sih bukan rusak, tapi banyak bunga yang hilang dari tangkainya.
"Siapa yang berani-beraninya memetik bunga mawar di taman ini?" geram Sagara marah.
Beberapa pelayan sudah dikumpulkan di dekat taman bunga itu.
"Kenapa kalian diam saja? Cepat jawab pertanyaanku!" bentak Sagara kepada para pelayan yang sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam karena mereka tidak tahu siapa pelaku pengrusakan taman bunga ini.
"Tuan Muda sedang bertanya, tolong jawab pertanyaannya!" ucap Pak Jang kepada para pelayan itu.
__ADS_1
Salah satu pelayan paling senior mulai menegakkan kepalanya. "Maafkan kami, Tuan Muda! Kami tidak tahu siapa pelakunya."
"Kenapa kalian tidak tahu? Sementara taman bunga ini adalah tanggungjawab kalian semua untuk mengurus dan menjaganya."
"Maafkan kami, Tuan Muda!" ucap pelayan itu yang kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kalian tahu kan bagaimana susahnya aku menumbuhkan bunga-bunga di taman ini?"
"Kami tahu, Tuan Muda."
"Kalau sudah tahu kenapa tidak kalian jaga dengan baik?"
"Maafkan kami, Tuan Muda."
"Hemph," dengus Sagara yang sudah muak mendengar perkataan maaf itu dari mulut para pelayannya.
Irna yang sedang lewat di sekitar area taman itu segera berjalan mendekat saat melihat Tuan Mudanya sedang marah-marah.
"Mati kau, Ri," gumam Irna ketika wanita itu tahu penyebab Sagara murka. "Aku harus memberitahukan pelaku pengrusakan taman bunga ini kepada Tuan Muda Saga, supaya wanita ja*ang itu mendapatkan hukuman yang berat dari Tuan Muda."
Irna mulai mendekat ke arah Sagara. "Permisi, Tuan Muda," ucapnya sopan.
"Ada apa?" tanya Sagara sengak.
"Saya mau memberitahu pelaku pengrusakan taman ini."
"Siapa pelakunya?"
"Pelakunya adalah Riri, Tuan Muda."
"Apa! Hemph," dengus Sagara kaget. "Cepat panggil Riri kemari!"
"Baik, Tuan Muda."
Dokk! Dokk! Dokk!
Krieut! Pintu terbuka.
"Apaan sih?" tanya Riri kesal.
"Dipanggil Tuan Muda Saga tuh! Kamu diminta untuk segera datang ke taman."
"Oke," angguk Riri yang langsung berjalan menuju tempat Sagara berada.
Riri menyunggingkan senyumnya karena tahu penyebab pasti dia dipanggil oleh Sagara. Hal ini memang sudah dia rencanakan sedari kemarin. 'Viona, sebentar lagi kamu akan mendapatkan hukuman yang berat dari Tuan Muda Saga.'
***
Riri sudah ada di hadapan Sagara.
"Tuan, ada apa Anda memanggil saya?"
"Kata Irna -kamu adalah pelaku yang merusak taman bungaku, apakah itu benar?"
"Maafkan aku, Tuan Muda. Aku memang pelaku yang merusak taman bunga Anda, tapi semua itu atas perintah dari Nona Viona."
"Viona?"
"Iya, Tuan Muda. Nona Viona ingin menghias ruang kamar Anda dengan banyak kelopak bunga, jadi beliau memaksaku untuk memetik bunga-bunga mawar di taman ini."
Sagara mulai teringat dengan keadaan kamarnya yang dipenuhi kelopak bunga mawar tadi malam. "Pantas saja ruang kamarku dipenuhi kelopak bunga," gumam lelaki itu.
"Suamiku!" tiba-tiba terdengar teriakan Viona dari arah timur yang sedang berlari kecil sambil menenteng singkong di tangan kanannya.
__ADS_1
Pelayan yang tadi membantu Viona pun turut serta dengan gadis itu karena dia sedang membantu Viona membawakan ubi manis yang mereka gali beberapa saat yang lalu setelah berhasil mencabut ubi singkong.
"Suamiku, lihat nih! Vio dapet ubi. Nanti kita bakar bareng-bareng yuk!" ajak Viona dengan wajah yang sumringah.
Sagara menepak ubi singkong itu dari hadapannya.
"Suamiku lagi kenapa sih? Kok wajahnya cemberut gitu?" tanya Viona yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Sagara.
"Kamu kemarin minta Riri untuk metik bunga mawar di taman ini ya?" tanya Sagara penuh kemarahan.
"Iya, Suamiku. Vio kan pengen hias ruang kamar kita untuk malam pertama, jadi Vio minta Kak Riri buat metik bunga di taman ini."
"Kamu tahu nggak, aku tuh susah banget numbuhin bunga-bunga itu di taman ini. Kamu kenapa malah maksa Riri buat metik bunga itu?"
"Vio nggak maksa Kak Riri. Vio hanya minta tolong aja. Kalau Kak Riri bilang bahwa bunga mawar itu nggak boleh dipetik, Vio pasti bakalan nurut kok."
"Nona Vio bohong, Tuan Muda," sela Riri. "Nona Vio kemarin ngancem mau ngehajar aku kalau aku nggak nurutin kemauannya dia," fitnah pelayan itu.
"Kak Riri kenapa fitnah Vio? Vio kemarin kan nggak maksa Kakak. Fitenes itu, eh, fitenah itu lebih sadis dari pembunuhan lho, Kakak. Inget dosanya gede banget, Kak. Jangan suka fitenes, eh, fitenah."
Riri acuh tak acuh dengan omongannya Viona. 'Rasakan pembalasanku, gadis jelek," batin pelayan itu sinis.
Viona kini mulai melihat ke arah Sagara lagi untuk meyakinkan pemuda itu bahwa dia tidak bersalah. "Suamiku, percaya deh sama Vio yang cantik tralala, baik hati, dan tidak sombong ini! Vio nggak maksa Kak Riri. Vio ini gadis yang paling baik seantero kota A, Suamiku. Vio nggak pernah buat jahat kayak gitu. Itu kan dosa banget. Vio akui Vio bukan orang yang baik banget karena Vio juga masih doyan baca-baca novel porno, tapi Vio berani sumpah, Vio nggak pernah maksa atau ngancem Kak Riri kayak gitu."
"Betul, Tuan Muda. Nona Vio ini adalah gadis yang penurut. Jika tidak boleh dilakukan, dia tidak akan memaksa." ucap pelayan laki-laki yang sedari tadi menemani Viona.
Kini Sagara mulai melihat ke arah Riri. "Hukum pelayan itu sekarang juga!" perintah Sagara kepada pelayan yang lainnya.
"Tuan Muda, jangan percaya omongan Usep dan Nona Viona. Aku tidak bersalah," ucap Riri yang tidak terima mendapatkan hukuman.
"Sudah cukup sampai di sini ya, Ri, hubungan dekat kita. Dulu aku selalu anggap kamu Adikku karena kita tumbuh bersama. Aku nggak pernah mikir yang buruk-buruk tentangmu karena aku tahunya kamu gadis polos yang baik, tapi ... sekarang aku mulai ragu dengan kepolosanmu itu."
"Tuan Muda!"
"Cepat bawa pelayan itu pergi dari sini!" perintah Sagara kepada pelayan lainnya.
"Baik, Tuan Muda."
Riri mulai diseret paksa menjauh dari Sagara. Suara teriakan Riri yang memanggil nama Sagara pun tak dihiraukan oleh pemuda itu.
Viona yang merasa senang karena Sagara lebih percaya padanya mulai jongkok di hadapan pemuda itu.
"Makasih ya, Suamiku, karena udah mau percaya sama ucapan Vio."
"Aku bukan percaya sama ucapanmu, tapi aku percaya sama ucapannya Usep. Selain itu jika dipikirkan secara logika, gadis setengah ons kayak kamu mana mungkin bisa lakuin hal buruk itu."
"Setengah ons? Setengah ons itu artinya apa, Suamiku?"
"Artinya kamu baik," jawab Sagara asal.
"Oh~" angguk Viona mengerti. "Makasih ya pujiannya, Suamiku," Cup! Viona mencium pipi Sagara cepat.
"Ya!" pekik Sagara. "Apa yang kamu lakukan?" saat ini Sagara tengah menghapus kasar bekas ciuman Viona di pipinya.
"Vio hanya sedang berterimakasih aja sama Suamiku. Udah ah, mending kita otewe ke dapur kuy! Pak Tua tolong bawa singkong ini ke dapur!" ucap Viona sambil melemparkan singkong yang dia pegang ke arah Pak Jang.
Pak Jang kaget saat dilempar singkong oleh Viona.
"Meluncur!" pekik Viona sambil mendorong cepat kursi roda Sagara.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Sagara yang merasa ngeri saat kursi rodanya melaju dengan kecepatan sangat tinggi.
to be continued.
__ADS_1
***