CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Tebusan Seratus Juta


__ADS_3

"Kenapa kau tidak bersuara dan berteriak-teriak seperti tadi, hm?" tanya preman itu kepada Viola yang saat ini sedang menunduk ketakutan.


"Tidak, aku tidak akan berteriak lagi." cicit Viola memberikan jawaban.


Tidak lama kemudian masuklah seorang preman lagi yang memakai kaos abu-abu dengan celana jeans sobek-sobek.


"Gimana?" tanya preman yang tadi mengancam Viola kepada orang yang baru masuk itu.


"Semuanya sudah berjalan sesuai rencana A dan wanita itu sore ini bisa langsung dibebaskan."


"Oh, oke, oke. Lalu, apa ada perintah lainnya dari Bos besar?"


"Tidak ada, namun...."


"Namun apa?"


"Kita bicara di luar saja, bro!"


"Oke, oke."


Kedua preman itu segera keluar dari dalam ruangan dan mereka melanjutkan obrolan mereka kembali.


"Ayo lanjutkan, Bro!"


"Tuan Awan bilang kalau kita diperbolehkan untuk meminta tebusan ke keluarga wanita itu. Hitung-hitung buat tambahan bonus gitu."


"Wah, untung besar kita nih." seru preman itu girang.


"Kita mau minta uang tebusan berapa milyar nih?"

__ADS_1


"Kaga usah gede-gede. Seratus juta aja sudah cukup kok. Daripada bermiliar-miliar kita malah kelamaan dapet duitnya, mending seratus juta aja, kita bisa kilat dapetinnya. Lagipula bayaran dari Tuan Awan juga udah gede, kan?"


"Iya juga sih." angguk preman itu setuju.


"Cukuplah kita jadi orang jahat, tapi jangan jadi orang serakah, karena orang serakah itu hidupnya nggak bakalan berkah, hahaha,"


"Alah, lu, bisa ae, Bro, hahaha,"


"Eh, eh, mending kita telepon sekarang aja deh. Biar ntar pas sorean kita udah bisa balik ke rumah."


"Boleh."


"Cepet kamu telepon keluarganya wanita itu! Kamu dikasih nomornya juga kan sama Tuan Awan?"


"Iya, udah ada nih. Sabar!"


Preman itu langsung mengeluarkan hape dari saku celana jeans-nya dan mulai menelepon nomor Pak Sofyan.


"Halo," ucap Pak Sofyan dari seberang telepon.


"Halo," sahut preman itu tegas.


"Ini siapa ya?"


"Gue penculik yang lagi nyulik anak loe. Cepet siapin uang seratus juta dan bawa ke stasiun terbengkalai nanti sore jam lima. Ingat jangan lapor polisi. Jika lapor polisi maka rasakan akibatnya. Anak perempuan cantikmu itu tidak akan kembali ke pelukan kalian lagi." ancam preman itu.


"Baik, baik, akan saya laksanakan sesuai perintah Anda, tapi tolong jangan sakiti puteriku!"


"Sampai jumpa di stasiun terbengkalai."

__ADS_1


"Tunggu, tunggu! Boleh kirimkab foto puteriku dulu agar aku percaya bahwa puteriku ada bersama dengan kalian?"


"Oke."


Tut tut tut tut tut.


Sambungan telepon langsung dimatikan oleh preman itu.


"Bro, Bapaknya cewek itu minta foto anaknya."


"Ya udah, tinggal fotoin aja terus kirimin ke mereka. Kalau perlu dividioin aja!"


"Oke deh."


Preman itu mulai masuk kembali ke dalam ruangan dan memvidiokan Viola yang saat ini tengah terikat di sebuah kursi tanpa lakban di mulutnya.


"Heh, madep sini!" titah preman itu.


Viola langsung menghadap ke kamera hape yang sedang dipegang preman itu.


"Cepet kasih salam buat Bapak dan Ibumu, dan minta mereka buat nyiapin uang seratus juta!"


Viola yang memang sedang sangat ketakutan mulai bersuara, "Pah, Ma, tolong Viola. Cepat tolong Viola!" pekiknya sambil berurai air mata.


"Good, good, good," gumam preman itu memuji Viola yang patuh dengan ucapannya.


Setelah rekaman video berhasil diambil, preman itu segera mengirimkannya kepada kedua orang tuanya Viola.


***

__ADS_1


Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up.


__ADS_2