CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Viola Takut Dengan Ancaman Preman Itu


__ADS_3

"Ayo Vio antar!" Viona bersikeras.


"Ken, Ken!" Sagara segera memanggil Sekretaris-nya agar segera mendekat. "Aku sama Ken aja." tolak Sagara kepada Viona.


"Yah," ucap Viona kecewa.


"Sudah, kamu di sini aja temenin para tamu!" perintah Sagara kepada Viona. "Ayo, Ken!" ajak Sagara kepada Sekretaris-nya itu.


"Baik, Tuan." jawab Sekretaris Ken.


Sekretaris Ken mulai menarik kursi roda Sagara menjauh dari Viona dan segera mendorong kursi roda itu ke arah ruang kamar mandi di gedung ini.


"Huek, huek, huek," Sagara mual-mual parah dan saat ini sedang menahan sekuat tenaga agar benteng pertahanan mulutnya tetap tertutup rapat.


"Tahan, Tuan!" ucap Sekretaris Ken.


Saat ini Sagara dan Sekretaris Ken sudah berada di dalam kamar mandi dan mereka mulai masuk ke dalam salah satu bilik yang lumayan luas.


Sagara langsung bangkit dari duduknya dan langsung mendekat ke arah kloset dan mengeluarkan semua isi dalam perutnya.

__ADS_1


Sekretaris Ken memijat bagian belakang leher Sagara agar Tuan-nya merasa baikan.


"Tuan habis makan apa sih? Kok bisa muntah-muntah kayak gini?" tanya Sekretaris Ken polos.


"Entah," sahut Sagara yang saat ini tengah lemas. Namun dalam hatinya Sagara mengutuk Viona yang menjadi penyebab dirinya muntah-muntah.


Bagi Sagara, Viona itu adalah makhluk yang sangat menjijikan karena rupanya yang jelek dan sikapnya yang bodoh.


Biasanya Sagara hanya mencium para wanita cantik saja selama hidupnya, jadi ketika dia mencium Viona, tubuhnya langsung menolak keras-keras.


Namun jika dihadapan Ken, Sagara tidak berani jujur, secara Sekretaris-nya itu naksir berat kepada Viona. Entah pesona apa yang terlihat di mata Ken sehingga laki-laki itu jatuh cinta kepada wanita yang bernilai nol koma nol satu dari nilai sepuluh.


"Baik, Tuan." angguk Sekretaris Ken.


Ya, Sagara memerlukan wanita lain untuk menghilangkan bekas kulit Viona dari permukaan bibirnya yang beberapa saat yang lalu mendarat di permukaan kulit keningnya Viona yang tertutup rapat oleh make up tebal gadis itu yang tidak rata pengaplikasiannya.


***


Viola saat ini sedang berada di sebuah gudang tidak terpakai yang letaknya ada di tengah-tengah hutan dan jauh dari pemukiman para warga.

__ADS_1


"Tolong lepaskan aku!" pinta Viola.


"Jangan berteriak!" bentak salah satu preman.


"Tolong, tolong, tolong!" teriak Viola.


"Brisik! Percuma saja kau berteriak minta tolong. Tidak ada orang yang akan datang menolongmu di tempat seperti ini. Diamlah! Nanti juga kami kembalikan lagi kau ke rumahmu."


"Tolong, tolong, tolong!" Viola tidak mengindahkan ucapan preman itu. Dia tetap meminta tolong karena secara naluriah dia sedang merasa terancam dan ingin ada orang yang menolongnya.


"Diam!" Brakk, preman yang sedang kesal itu karena pusing mendengarkan teriakan Viola menggebrak meja di depannya dengan pandangan mata yang nyalang.


Viola langsung terdiam dan ketakutan saat melihat raut wajah preman itu yang sedang ditugaskan untuk menjaga gadis itu.


"Jika kau berani berteriak lagi, maka jangan salahkan aku kalau teriakanmu itu akan menjadi desahan yang nikmat." ancam preman itu dengan pandangan mata mesumnya yang kini mulai menelusuri setiap jengkal tubuh Viola yang begitu menggoda.


Viola yang mendengar itu langsung menciut ketakutan karena dia paham apa yang sedang dimaksud oleh preman itu.


***

__ADS_1


Tekan tombol like, simpan di favorit, dan wajib komen next atau up demi level novel ini.


__ADS_2