CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Tamat Season 1


__ADS_3

Adegan dibuka dengan gerakan slow motion dari Bunda Amanda dan Asisten pribadinya Saga yang saat ini sedang ingin melerai sepasang suami istri di ruangan kamar rawat inap ini yang sedang terhanyut dalam suasana yang romantic.


Grep!


Ternyata Asisten pribadinya Saga bukannya melerai malah menghentikan langkah Bunda Amanda yang ingin merusak suasana romantis yang sedang terjalin diantara Saga dan Viona anaknya.


"Tuan ayo cepat! Saya siap mengabdikan diri supaya anda bahagia," batin Asisten pribadinya Saga yang pengertian sekali kepada majikannya itu.


"Lepas!" pinta Bunda Amanda yang saat ini sedang berontak agar bisa bebas.


"Jangan ganggu dulu ya, Nyonya! Ini tuh adegan romantis kayak di drama-drama korea," bisik Asisten pribadinya Saga.


"Kamu tau aku siapa nggak?"


"Nggak," geleng Asisten pribadi itu. "Memang Nyonya ini siapa?"


"Aku Ibunya Kenzo. Kalau kamu naksir sama anak lelakiku, maka namamu akan saya masukan dalam daftar hitam menjadi calon-calon mantu berkelakuan buruk," ancam Bunda Amanda.


Syut!


Dalam sekejap saja tubuh Bunda Amanda langsung dilepaskan dari belenggu tangan-tangannya Asisten pribadinya Saga yang ternyata naksir berat kepada Sekretaris Ken.


"Maaf Mama Camer," sesal Asistennya Saga yang kini langsung tertunduk takut.


Bunda Amanda langsung bergegas mendekat ke arah Saga dan Viona yang sudah normal kembali posisi tubuhnya tidak seperti tadi, malah kedua insan itu sedang menonton perdebatan antara Bunda Amanda dan Asisten pribadinya Saga.


"Lho kok kalian tidak jadi ciuman? Padahal tadi Bunda mau ngelerai kalian," ucap Bunda Amanda kecewa.


Saga langsung menepuk keningnya saat mendengar perkataannya Bunda Amanda.


"Ya Lord ... kayaknya sifat gesreknya Viona nurun dari Ibunya nih," batin Saga.


"Bunda sih pake berisik segala sama Kakak itu, jadi gagal kan moment ciuman pertamaku sama Kak Saga," cemberut Viona.


Lagi-lagi Saga merasa tidak habis pikir dengan kelakuan Ibu dan anak ini.


Beberapa saat yang lalu posisi tubuhnya Saga dan Viona memang sudah sangat dekat, tapi gerakan mereka terhenti karena pekikan dari Bunda Amanda yang meminta untuk dilepaskan oleh Asisten pribadinya Saga.


Kembali ke masa kini.


Dokter yang tadi dipanggil melalui tombol panggilan darurat telah sampai ke ruang rawatnya Viona.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter itu yang saat ini baru memasuki ruang rawat Viona namun keadaan di dalam ruangan ini terlihat biasa saja, tidak ada kepanikan sedikit pun di gurat-gurat wajah mereka semua.


"Ini, Dok, tangan Istri saya mengeluarkan darah," ucap Saga memberitahukan informasi ini kepada Dokter itu.


Sang Dokter langsung mendekat ke arah Viona dan mengecek luka itu. Dia langsung tahu kalau luka itu akibat Viona menarik paksa jarum selang infus yang terpasang di tangannya tadi. Dengan cekatan Dokter itu mengobati tangan Viona dan mulai memasang selang infus itu kembali ke tangan Viona.


"Nanti jangan dicabut paksa lagi ya jarum selang infusnya," pesan Dokter itu yang ternyata masih muda, tidak seperti Dokter yang pertama yang usianya sudah matang.


"Iya, Dok," angguk Viona.


"Uhuk, uhuk, uhuk!" Saga pura-pura batuk agar Dokter Muda itu dan Viona tidak saling berpandangan terus menerus.


"Mohon maaf ya, Dok, tapi tangannya istriku tolong dilepaskan! Bukankah sudah selesai pengobatannya," tegur Saga dengan nada bicara yang normal namun aslinya sedang menahan marah yang akan terluap.


"Eh, maaf, Tuan, hehe," cengir Dokter Muda itu merasa tidak enak.


"Kalau gitu saya permisi dulu," pamit Dokter itu.

__ADS_1


"Oh, iya, silakan," angguk Saga penuh semangat karena dia ingin Dokter itu segera enyah dari hadapan Viona yang sejak tadi menatap lekat-lekat Dokter Muda itu.


Saga kini mulai mendekat ke arah Viona dan mengecek lengannya yang sudah tidak mengeluarkan darah.


"Gimana udah ngerasa baikan?" tanya Saga perhatian.


"Iya, Suamiku," angguk Viona.


"Tadi rasanya gimana ditangani sama Dokter Muda itu? Enak?"


"Enak?" ulang Viona yang tidak paham dengan maksud dari kata enak yang Saga ucapkan.


"Tadi pandangan mata kamu fokus bener sama Dokter itu. Katanya kamu cuma suka sama aku aja, kok pas ada Dokter cakep dikit kayak dia mata kamu langsung jelalatan sih, Vi," ucap Saga yang kentara sekali sedang merasa kesal.


"Mataku nggak jelalatan. Aku hanya sedang memperhatikan cara kerja Dokter itu," sanggah Viona.


"Memperhatikan cara kerja, tapi yang diperhatikan malah wajahnya, tcuih, modus," gerutu Saga.


"Lha, aku kan sedang belajar, Suamiku," kilah Viona.


"Sedang belajar memindai wajah-wajah tampan kan?" dengus Saga kesal.


Bunda Amanda dan Asisten pribadinya Saga yang saat ini seperti pajangan yang tidak dianggap, tidak terlihat, hanya bisa berdiri dipojokkan.


Tangan Asisten pribadinya Saga menyentuh-nyentuh tubuh Bunda Amanda.


"Nyonya, sebaiknya kita pergi dulu yuk. Kita kayak obat nyamuk aja di ruangan ini. Tidak terlihat dan tidak dianggap," bisik Asisten itu.


"Ayo!" sahut Bunda Amanda setuju. "Lagipula mereka lagi saling ngambek satu sama lain. Kita nggak boleh ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri."


Pelan-pelan tubuh Bunda Amanda dan Asisten pribadinya Saga mulai keluar dari dalam ruangan rawat inap ini.


"Kamu lagi kenapa sih, Suamiku? Sewot banget keliatannya," tutur Viona mempertanyakan sikap aneh Sagara.


"Harusnya aku yang nanya kayak gitu ke kamu, Vi. Kamu kenapa sih kok pandangannya gitu banget sama Dokter Muda itu, padahalkan kamu sudah punya Suami,"


"Oh~ aku tahu," timpal Viona yang malah kedengarannya seperti tidak nyambung dengan obrolan mereka.


"Tahu apa?" ketus Saga.


"Suamiku lagi cemburu ya sama Vio?" goda Viona yang kini mencolek-colek perut Sagara.


"Diem ih! Geli tahu," ketus Saga.


"Hayo ngaku~"


"Nggak, mana ada," jawab Saga menampik keras-keras.


Viona yang ingin mendengar kejujuran Saga mulai menggelitiki perut Saga dengan intens sampai-sampai membuat lelaki itu kehilangan kendali dan mendorong tubuh Viona dengan kuat tanpa sadar.


"A, a, a," Viona mulai kehilangan keseimbangan karena tadi posisinya memang sudah berdiri.


Saga yang tidak mau Viona terjatuh kembali segera menarik tangan gadis itu cepat dan membuat tubuh Viona kini kembali menindih tubuh Saga dengan posisi terduduk di atas pangkuan lelaki itu.


Posisi kepala mereka juga saling sejajar namun masing-masing dari mereka tidak bisa melihat wajah lawan mainnya saat ini.


Viona bisa mencium aroma parfum Saga, begitu pun dengan Saga yang saat ini mulai tergoda dengan leher jenjang milik Viona yang terpampang jelas di kedua matanya.


Gluk!

__ADS_1


Saga menelan salivanya dengan gerakan jakun yang terlihat jelas sekali.


Cup!


Bibir Saga telah mendarat sukses di salah satu ceruk leher Viona karena dia tidak bisa menahan godaan indah ini lebih lama lagi.


Kedua bola mata Viona membulat saat dia merasakan bibir suaminya telah menempel di kulit lehernya.


Bibir Saga mulai menyusuri leher jenjang Viona dan kini sudah mulai memasuki area wajah Viona yang tentu saja target utamanya adalah bibir merekah istrinya itu.


"Suamiku," ucap Viona yang tiba-tiba menahan tubuh Saga agar tidak jadi mendekat ke arahnya.


Saga tidak menjawab namun sorot matanya seolah berbicara "Ada apa? Kenapa kamu menghentikanku?"


"Kamu masih ingat kan dengan kontrak perjanjian pernikahan kita?" lirih Viona dengan pandangan mata polosnya.


"Perjanjian tentang apa?" tanya Saga yang seolah lupa dengan semua isi perjanjian yang dia buat.


"Tidak boleh ada kontak fisik diantara kita berdua, Suamiku," jawab Viona cepat. "Jadi ... Kak Saga nggak boleh cium Vio," ucap gadis itu malu-malu namun tubuhnya tidak beranjak sedikit pun dari pangkuannya Saga.


"Kalau gitu ... kamu juga nggak boleh duduk dipangkuanku," timpal Saga santai.


"Eh," Viona tersadar dan mulai berusaha bangkit dari posisinya saat ini tapi tangan Saga malah menahannya.


"Kenapa tubuh Vio ditahan, Suamiku?"


"Biasanya di novel-novel romansa yang kamu baca ... pemeran utama melanggar perjanjian tentang larangan kontak fisik tidak?" tanya Saga berbisik di telinga Viona sampai membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.


Viona mulai berpikir dan mengingat semuanya, "Semua novel romansa yang aku baca selalu melanggar perjanjian larangan kontak fisik itu, Suamiku," papar Viona.


"Kalau gitu, mari kita langgar juga perjanjian kita," ajak Saga yang kini tangan kanannya sudah mulai mengelus pipi kiri Viona dengan lembut.


"Tapi Vio malu kalau ketahuan sama Bunda dan Kakak itu," cicit Viona yang kini wajahnya tertunduk dengan pipi yang merona.


"Kamu tenang aja, sepertinya mereka akan lama berada di luar ruangan,"


"Begitukah?"


"Hu'um," angguk Saga mantap. "Gimana? Kamu mau kan?"


Viona memukul pelan dada Saga.


"Vio malu jawabnya. Jangan ditanyainlah, langsung aja, ups," Viona keceplosan dan langsung memerah bagai kepiting rebus saking malunya.


"Hahaha," Saga terkekeh geli.


"Ih malah ketawa," kesal Viona yang kini mulai memukul pelan dada Saga berkali-kali karena ditertawakan oleh lelaki itu.


"Ampun, Vi. Sakit," ucap Saga sambil menahan tangan Viona yang sedang memukul-mukul tubuhnya.


"Bohong," kesal Viona yang nyatanya tidak memukul dengan keras.


Saat ini Viona sedang cemberut dan Saga kembali menggodanya.


"Jadi nggak?"


"Au ah," sahut Viona yang sudah kadung kesal digoda terus-terusan oleh Saga.


Gadis itu mulai bangkit dari posisinya saat ini namun Saga kembali menarik tangannya dan membuat tubuhnya kembali terduduk di pangkuan lelaki itu, dan .... cup, Saga berhasil mencium Viona, lalu ..... skip skip skip skip🙈🙈🙈

__ADS_1


Tamat


__ADS_2