CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Dapat Kandang Lain Part 2


__ADS_3

"Aku benar-benar minta maaf, Ri. Aku tidak bermaksud melakukan itu padamu. Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Tapi karena pengaruh dari alkohol yang aku minum sepuluh tahun yang lalu membuat diriku kehilangan kendali."


"Tidak apa-apa, Tuan. Toh sekarang aku sudah tidak sesedih dulu lagi." sahut Riri yang kini tangannya mulai gerayang menyusuri dadanya Sagara.


"Ri, kamu kenapa sih setiap kali diberikan satu keinginan selau minta persoalan ini terus?" tanya Sagara yang kini menghentikan gerakan tangannya Riri.


Mereka berdua saat ini saling bertemu pandang satu sama lain.


"Karena tanpa sadar aku sudah jatuh cinta padamu, Tuan." jawab Riri lirih.


"Tapi aku tidak akan mungkin menikahimu."


"Aku tahu. Tolong jangan bahas ini lagi, Tuan! Lebih baik kita nikmati malam yang masih panjang ini! Aku ingin empat ronde!" bisik Riri di telinga Sagara.


"Baiklah, akan aku kabulkan."


***


Di kediaman keluarga Abigail, pesta ulang tahun Yunita terus berlanjut. Saat ini Awan sedang menatap sinis ke arah keluarga kecil Ibunya yang baru tiba di rumah ini.


"Kenapa kamu datang ke rumah ini hah?" tanya Awan sinis.


"Tentu saja untuk memenuhi undangan dari Tuan Batari." jawab Ibunya Awan tak kalah sinis.


"Ma," seru Tuan Surya kepada istrinya agar tidak sesinis itu kepada anak kandungnya sendiri.


Nyonya Dania memilih untuk membuang mukanya ke arah lain dan kini Tuan Surya lah yang menggantikan wanita cantik itu untuk berhadapan dengan Awan.

__ADS_1


"Halo Awan, apa kabar?" tanya Tuan Surya berbasa-basi.


"Aku tidak baik." sahut Awan ketus.


"Eh, Om Surya sudah datang." ucap Yunita yang kini mulai berjalan ke arah keluarga kecil itu.


"Selamat ulang tahun ya, Sayang." ucap Tuan Surya kepada Yunita yang diikuti oleh Istri dan juga anaknya yang mulai menyalami Yunita.


"Makasih ya atas ucapannya. Makasih juga sudah menyempatkan diri datang ke sini. Ngomong-ngomong hadiahnya mana ya?" tanya Yunita to the point sambil celingak-celinguk.


"Hahaha," ketiga orang itu tergelak mendengar candaan dari Yunita.


"Kamu tuh dari dulu nggak ada rubah-rubahnya ya, Yun. Selalu saja lucu seperti ini." tutur Nyonya Dania.


"Iya, Tante. Hehe,"


"Dia bukan Ibuku lagi." sambar Awan yang langsung berjalan pergi meninggalkan ke-empat orang itu.


"Kak Yun, suami Kak Yun selalu temperamental kayak gitu ya?" bisik Raga.


"Hehehe," Yunita hanya bisa nyengir saja. "Oh iya, kita langsung makan aja yuk! Ada makanan kesukaan Raga, Om, sama Tan-"


"Mama, Yun. Panggil Istri Om -Mama aja!"


"Iya, panggil Tante dengan sebutan Mama aja, Yun! Kamu kan sudah jadi istri anaknya Tante, meski dia nggak mengakui Tante ini Ibunya."


"Hehehe, maksud Yun itu Mama. Maklum belum terbiasa, Ma."

__ADS_1


"Sudah, lebih baik kita langsung makan aja. Raga sudah laper nih."


"Ayo, ayo," Yunita mempersilakan mereka untuk ke tempat prasmanan.


"Yun, kamu sudah tiup lilin ya? Kok para tamu sudah dipersilakan makan sih?" tanya Nyonya Dania yang saat ini berjalan di samping Yunita.


"Sudah, Ma. Tapi bukan tiup lilin, hanya potong tumpeng saja."


"Oh,"


"Kamu sudah makan belum?" tanya Tuan Surya kepada menantu tirinya.


"Sudah, Om."


"Yun! Gibran sama Nadya mau pamit pulang nih!" seru Tuan Batari dari jauh kepada putrinya.


"Iya, Beh." sahut Yunita. "Om, Ma, Ga, aku ke sana dulu ya." pamit Yunita kepada mereka bertiga.


"Iya, silakan."


Yunita mulai mendekat ke arah Ayahnya yang saat ini akan mengantar Gibran dan Nadya pulang.


Di lain tempat, Awan saat ini sedang celingak-celinguk mengecek situasi di sekitarnya. Laki-laki itu mulai mengeluarkan kertas terlipat dan memasukan bubuk obat di kertas itu ke dalam gelas minuman berwarna orange.


to be continued.


***

__ADS_1


__ADS_2