CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Siapa Dia?


__ADS_3

POV Viona


Aku senang karena akhirnya aku bisa berkumpul kembali dengan Bundaku dan juga bisa bertemu dengan kakak laki-lakiku yang ternyata adalah kak Kenzo, Sekretaris pribadinya suamiku Sagara.


Aku bersyukur karena memiliki kakak laki-laki seperti dia, yang tidak pernah memandang orang lain dari fisiknya semata.


Dan saat ini aku sesungguhnya kecewa dengan suamiku, dia ternyata tipe laki-laki yang hanya peduli dengan penampilan fisik seseorang saja.


Mungkin, jika aku masih Viona yang berpola pikir aneh seperti dulu, aku tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi saat ini aku sudah normal, sudah bisa berpikir dengan jernih, dan kak Sagara bukan orang yang pantas untuk disukai.


Aku masih ingat dengan jelas tatapan menjijikkannya kepadaku saat aku berdandan norak dengan make up yang sangat menor.


Ugh, rasanya pengen kucakar saja wajah Kak Saga.


Akan tetapi, entah kenapa aku masih suka sama dia, terlepas dari semua kelakuan buruknya.


Hatiku masih tersentuh dengan kebaikannya saat aku berada di Washington DC.


"Sayang, aaaaa," suara Bunda Amanda menyadarkanku dan aku langsung menoleh padanya yang saat ini sedang menyodorkan potongan buah-buahan ke mulutku.


Aku membuka mulutku dan menerima suapannya.


Bundaku tersenyum saat aku menerima suapannya.


"Kak Kenzo kemana, Bunda?" tanyaku yang saat ini sudah menelan kunyahan potongan buah tadi.


"Dia lagi beli make up katanya," jawab Bundaku.


Krieut!


Pintu kamar ruangan ini terbuka dan orang yang baru saja aku cari datang kembali ke ruangan ini sambil menenteng kresek putih yang kemungkinan itu berisi make up.


"Kakak dari mana aja?" tanyaku.


"Abis beli ini," sahutnya sambil mengangkat kresek putih di tangannya.


"Make up ya?" tebakku.

__ADS_1


"Iya," angguknya. "Kakak mau kamu berpura-pura menjadi seperti Viona yang biasanya saja, agar kamu tidak di sakiti lagi oleh Viola yang tidak ingin tersaingi olehmu," lanjutnya.


Aku tersenyum mendengar perkataan Kak Kenzo yang ternyata sangat peduli padaku.


Kini lelaki itu sudah duduk di samping Bunda Amanda dan minta disuapi potongan buah yang ada di piring kecil yang sedang dipegang oleh Bundaku.


Beberapa saat yang lalu, aku memang sudah menceritakan segalanya kepada Kak Kenzo tentang perjalanan hidupku dari aku masih bocah sampai sebesar ini.


Make up tebal yang ada di wajahku pun sudah Kak Kenzo bersihkan dan kini tak ada lagi sisa make up yang menempel di wajah putihku ini.


"Oh iya, gimana hasil rontgen kepalaku, Kak?" tanyaku penasaran dengan hasil rontgen beberapa jam yang lalu.


"Iya, Ken, hasilnya gimana? Kepala Arra baik-baik aja kan?" cakap Bundaku yang juga penasaran dengan hasil rontgen kepalaku.


"Alhamdulillah, kepalanya Arra baik-baik aja, nggak ada luka yang serius. Meski tadi pagi terbentur cukup keras, namun hasil rontgen baik-baik saja," jawab Kak Kenzo.


"Syukurlah," ucapku dan Bundaku secara bersamaan.


"Oh iya, Kakak lupa belum ngasih tahu hal ini,"


"Ngasih tahu apa, Kak?"


"Kamu selama ini mengkonsumsi obat-obatan berbahaya ya? Tadi Dokter Skala bilang kalau dalam darahmu terkandung zat-zat berbahaya yang diakibatkan oleh obat-obatan yang kemungkinan kamu konsumsi," jelas Kak Kenzo.


Aku mulai berpikir sejenak dan langsung mengangguk, " Iya, Kak. Selama ini Arra memang dipaksa untuk meminum obat yang direkomendasikan oleh Kerabatnya Papa Sofyan agar Arra balik lagi ke kondisi semula."


"Kamu jangan mau minum obat itu lagi! Kemungkinan itu adalah obat berbahaya yang Dokter Skala maksud."


"Baik, Kak," angguku mengiyakan. "Eh, aku baru inget, tadi pagi Kak Saga juga mengatakan hal yang sama. Dia minta aku buat jangan minum obat itu lagi dan tetap berpura-pura untuk bilang kalau aku sudah minum obat itu jika ada yang bertanya."


"Hah, Tuan Muda Saga bilang gitu sama kamu?" tanya Kak Kenzo yang raut wajahnya penuh dengan rasa keterkejutan.


"Iya, Kak. Kayaknya tadi pagi Kak Saga merasa ada yang aneh dengan bungkus obat yang akan aku minum. Aku juga sempat menangkap rasa keterkejutan dari wajah Kak Saga saat dia membaca kandungan komposisi di obat itu," jelasku.


"Oh, syukurlah kalau Tuan Muda Saga perhatian sama kamu dan sampai mau repot-repot memeriksa kandungan obat itu,"


"Iya, Kak," anggukku. "Kak Saga emang kadang nyebelin karena tatapannya seolah-olah jijik sama Arra yang berpenampilan jelek, tapi aslinya dia peduli kok, buktinya aja dia mau anterin Arra sekolah dan nanti mau jemput Arra juga," ceritaku sambil menyunggingkan senyum yang manis.

__ADS_1


"Tapi tetap saja, kakak nggak setuju kalau kamu sama Tuan Muda Saga. Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari laki-laki itu. Dia itu breng**k, dia nggak pantas buat kamu adik kakak yang manis ini,"


"Memangnya Saga kenapa, Ken? Kok kamu bilang kayak gitu? Trus Saga sama Arra ada hubungan apa? Apa jangan-jangan Arra naksir sama Saga?" tanya Bundaku dengan raut wajah penuh kebingungan karena dia belum tahu perihal pernikahanku dengan Kak Saga.


"Saga itu suaminya Arra, Bun," jawab Kak Kenzo dengan wajah yang keki, mirip seperti seorang kakak yang tidak rela adiknya menikah dengan laki-laki yang tidak dia setujui.


"Kalau tahu Vio itu adalah Arra, udah Ken larang dan tentang abis-abisan kemarin. Sayangnya Ken nggak tahu indentitas Vio yang sebenarnya, jadi Ken cuma bisa pasrah,"


"Ya ampun, ternyata Bunda udah punya mantu nih ceritanya?" ucap Bundaku dengan tatapan yang syok tapi juga sedikit senang.


"Kalau Bunda setuju-setuju aja sih. Saga kelihatannya baik," sambung Bundaku.


"Kelihatannya aja baik, dalemnya mah bobrok. Kenzo nggak mau ya, kalau adik kakak yang baik ini dapet lelaki bekasan macam Tuan Muda Saga," sungut Kak Kenzo.


"Ouch," ringis Kak Kenzo yang tiba-tiba disikut oleh siku Bunda Amanda.


"Bunda apa-apaan sih? Kok nyikut Kenzo?" tanya kakakku tidak terima.


"Ayo ikut Bunda!" cakap Bundaku yang langsung meraih tangan Kak Kenzo untuk keluar dari ruangan kamar ini.


"Pfft," aku menahan tawaku karena mereka pikir aku masih polos, padahal aku tidak sepolos yang mereka pikirkan.


Otakku sudah tak suci lagi karena sering baca novel porno di platform novel online.


Ingin rasanya aku memarahi Bik Sarmila yang dulu malah memberikan bahan bacaan mesum kepadaku yang belum cukup umur ini.


Kriet!


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan ada seorang wanita yang kira-kira seumuran Bundaku sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, Ibu siapa ya?" tanyaku refleks.


To be continued.


***


Subscribe juga Channel YouTube Author ya

__ADS_1


Bayu Hidayat Penulis


__ADS_2