CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Blub Blub Blub


__ADS_3

Cuit cuit cuit.


Terdengar bunyi cuitan burung dari speaker hape Sagara yang menandakan ada sebuah pesan masuk ke dalam hapenya.


Sagara langsung meraih hape yang ada di saku jasnya dan Viona yang memiliki kekepoan tingkat maksimal langsung ikut mengintip isi pesan di hape laki-laki itu.


"Itu apa sih? Suamiku, tolong bacain dong!" pinta Viona yang tidak bisa membaca huruf-huruf yang tertera di layar hape Sagara.


Sagara mengabaikan Viona, dengan cekatan pesan masuk dari nomornya Sekretaris Diana -dia buka.


"Tuan, bagaimana rasanya terhina? Sangat nikmat bukan, hahaha," baca Sagara dalam hati.


Sagara melihat lagi ke arah Sekretaris Diana yang kini semakin tersenyum lebar melihat raut kekesalan Sagara.


"Apa ini ulahmu?" balas Sagara ke nomornya Sekretaris Diana.


"Apa ada bukti yang membuktikan aku pelaku kekacauan saat ini?"

__ADS_1


"Terserahlah. Apa kau masih sakit hati atas penolakanku dulu?"


"Mana mungkin aku sakit hati, hahaha,"


"Lalu?"


"Aku hanya sedang membalikkan keadaan saja. Aku ingin kau mengalami kehinaan yang serupa sepertiku dahulu."


"Kau dendam padaku?" balas Sagara lagi.


"Pikir saja sendiri kalau kau punya otak."


'Kenapa aku harus berurusan dengan wanita ular seperti dia sih. Argghhh, menjengkelkan saja.' kesal Sagara dalam hatinya.


'Bukan salahku kalau aku membuangnya ketika aku sudah bosan. Bukankah aku telah memperingatkannya terlebih dahulu saat dia akan naik ke atas ranjangku dengan penuh kesukarelaan. Aku dengan tegas berkata bahwa aku hanya bisa bermain-main dengannya saja. Selain itu, harusnya dia juga mikir, dia berasal dari kalangan bawah, orang tuanya saja tidak mempunyai satu perusahaan pun, kok dia dengan percaya dirinya ingin menjadi pendampingku. Haha, jangan harap aku mau menikah dengan wanita yang tak selevel denganku. Meski pada akhirnya aku menikah dengan anaknya Tuan Sofyan, tapi setidaknya mereka tidak serendah keluarganya Diana.'


Suasana di dalam gedung ini semakin gaduh saja, apalagi ada seorang pria yang berteriak dengan lantang memprovokasi tamu lainnya agar semakin merendahkan Sagara.

__ADS_1


"Haha, sudahlah tidak usah mengarang cerita. Aku tahu kalau Tuan Muda Sagara merasa terhina setelah ditinggal kabur oleh calon istrinya, tapi tidak seperti ini juga caranya untuk mengembalikan nama baiknya yang telah tercoreng karena ditolak mentah-mentah oleh Viola. Kami semua juga maklum kok kalau Tuan Muda Sagara ditinggal kabur. Mana ada sih wanita cantik dan pintar seperti Viola mau menikahi laki-laki yang cacat seperti Tuan Muda Saga, hahaha!"


Semua tamu undangan banyak yang ikut tertawa dan membuat wajah Sagara semakin pias karena semakin bertambah malu. Namun ada beberapa tamu yang menahan kuat gelak tawanya dan tetap menampilkan raut wajah datarnya. Mereka adalah golongan orang-orang yang terpelajar, yang tahu bahwa di setiap kesempatan tidak boleh bertindak ceroboh.


"Jangan tertawa! Jika kau sampai ikut tertawa bersama mereka, maka tinggal menunggu waktu saja kau akan dihabisi oleh Antek-Anteknya Sagara." bisik seorang perempuan yang bernama Alia kepada Reza anak sulungnya.


"Baik, Ma." angguknya patuh.


"Perhatikan baik-baik setiap kejadian yang akan terjadi beberapa menit kedepan!" titahnya Alia dengan wajah datarnya yang kini mulai menyesap teh di cangkirnya.


"Baik, Ma." jawab Reza patuh meski otaknya saat ini tidak bisa mencerna maksud dari ucapan Ibunya.


Blub blub blub.


Tiba-tiba layar hitam di dalam gedung itu mulai mengerjap-ngerjap.


***

__ADS_1


Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.


__ADS_2