
"Cepet bangun!" bentak salah satu penjahat.
Viola yang memang sudah dalam keadaan yang lemas sedikit kesusahan untuk bangun dari posisi duduknya saat ini.
"Jangan lelet kayak gitu! Aku masukin itu-mu baru tahu rasa nanti." ancam sang penjahat.
Viola segera berdiri dan berjalan dengan sekuat tenaganya meski masih tetap terkulai lemah.
"Masuk!" titah penjahat itu yang kini memerintahkan Viola untuk masuk ke dalam mobil.
Gadis itu menurut dan segera masuk ke dalam mobil hitam itu.
Para penjagat itu mulai masuk ke dalam mobil yang berbeda. Yang satu membawa Viola, dan yang satu lagi membawa para penjahat yang akan mengecoh lokasi mereka saat menghubungi nomor kedua orangtuanya Viola yang saat ini sudah dipegang oleh Sekretaris Ken.
***
Kedua mobil hitam itu pun mulai melaju meninggalkan tempat penyekapan itu.
"Ndi, pakein wanita itu kain penutup mata biar dia nggak bisa ngehapalin jalan yang kita lewati." titah salah satu penjahat.
"Oke, Bro." sahut Andi yang kini mulai mencari kain hitam panjang yang tadi pagi dia gunakan untuk menutupi kedua mata Viola di belakang kursi kemudi. "Dapat," serunya seraya mengeluarkan kain hitam itu dari tempatnya.
"Sini loe!" ucap Andi yang meminta Viola untuk sedikit mendekat.
Viola hanya manut saja dan kedua matanya mulai ditutupi oleh kain hitam itu.
"Beres," ucap Andi yang telah selesai memasang kain penutup mata itu.
Di persimpangan, kedua mobil itu berpisah jalan, yang satu mengambil jalan ke arah kanan dan yang satu lagi ke arah kiri.
__ADS_1
Di tempat lain.
Para orang-orangnya Sagara sudah mulai bersiap di tempat janjian yang katanya akan dijadikan tempat untuk transaksi pertukaran antara Viola dengan uang seratus juta.
Semua orang mulai menyebar dan mulai bersembunyi dengan senjata masing-masing yang telah mereka siapkan jika terjadi hal-hal diluar kendali.
Komandan yang memimpin misi ini mulai menghubungi nomor Sekretaris Ken untuk memberikan laporan terkait kondisi terbaru di stasiun lama yang sudah terbengkalai ini.
Setelah dering ke ketiga, telepon itu akhirnya diangkat oleh Sekretaris Ken. "Halo," ucapnya dari seberang telepon.
"Halo, Tuan Ken. Dengan Semut 005 Anda bicara."
"Bagaimana kondisi saat ini di tempat janji temu?" tanya Sekretaris Ken.
"Situasi masih lengang. Belum ada tanda-tanda kehadiran dari para target serbuan."
"Terus pantau dan selalu waspada. Jangan sampai misi ini gagal."
"Siap laksanakan, Tuan."
"Sudah, Tuan. Para Semut sudah menyebar dan menempati pos-pos yang sudah ditentukan."
"Bagus. Lanjutkan tugas kalian, setengah jam lagi kami akan segera sampai di TKP."
"Siap laksanakan, Tuan."
Sambungan telepon itu pun diakhiri dari kedua belah pihak.
Di markas rahasia Sagara, Tuan Muda yang tampan itu baru selesai mandi setelah berkeringat karena berolahraga.
__ADS_1
"Gimana, Ken? Apa kata mereka?"
"Para Semut sudah bersiap di lokasi serbuan, Tuan."
"Semut? Kau mengutus pasukan Semut?" kening Sagara mengerut.
"Iya, Tuan. Aku memang mengutus pasukan Semut."
"Kenapa malah mengutus pasukan Semut? Kenapa nggak Elang aja?"
"Kita nggak boleh mengeluarkan kartu truf kita, Tuan. Pasukan Elang hanya boleh ditugaskan pada misi-misi yang memang benar-benar penting, Tuan. Jika pasukan Elang sering digunakan, maka musuh akan tahu tingkat ketangkasan dan performa kekuatan dari pasukan rahasia kita."
"Tapi aku benar-benar penasaran, Ken. Aku ingin melihat kinerja para pasukan Elang yang baru kita bentuk beberapa bulan yang lalu."
"Tidak bisa, Tuan Muda. Aku mohon Tuan bersabar, suatu saat nanti Anda pasti akan melihat dengan kedua mata Tuan Muda sendiri bagaimana kehebatan pasukan Elang."
"Eh, tapi pasukan Elang tidak disusupi oleh orang-orangnya Awan kan?"
"Sepertinya tidak, Tuan. Bukankah Tuan sendiri yang merekrut mereka diam-diam."
"Iya, juga sih."
"Tapi untuk berjaga-jaga, Tuan Muda tetap tidak diperbolehkan untuk berjalan dengan kedua kaki Anda sendiri di depan mereka semua. Kita tidak tahu kan mereka bisa dipercaya atau tidak."
"Baiklah." angguk Sagara. "Oh iya, apakah para penculik itu sudah menghubungi kembali?"
"Belum, Tuan. Ini juga aku lagi menunggu telepon dari mereka." jawab Sekretaris Ken.
Sagara saat ini mulai melihat arloji yang melingkar di tangannya. "Sepertinya sudah waktunya kita menyusul para pasukan Semut, Ken. Ayo!" ajak Sagara yang mulai memimpin jalan menuju ke tempat parkir di markasnya ini.
__ADS_1
"Baik, Tuan." angguk Sekretaris Ken yang mulai bangkit dari duduknya dan menyusul langkah Tuan Mudanya yang telah berjalan terlebih dahulu.
***