CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Naluri Seorang Ibu


__ADS_3

Di rumah Sekretaris Ken, laki-laki tampan itu baru saja selesai olahraga, setelah semua keringat yang menempel di tubuhnya mengering, dia langsung membersihkan tubuhnya karena pagi ini jadwal kegiatannya sangat padat.


Nyonya Amanda saat ini sudah tenang dan sedang menimang-nimang sebuah boneka di lengannya sambil berjalan-jalan kesana-kemari.


Krieut!


Pintu masuk rumah ini tiba-tiba terbuka karena tertiup angin. Sepertinya ART di rumah ini lupa menutup pintu masuk rumah ini dengan rapat. Padahal Sekretaris Ken selalu menekankan untuk mengunci pintu masuk rumah ini setiap saat karna takut Ibunya tiba-tiba kabur dari rumah untuk mencari Adiknya yang telah hilang bertahun-tahun lamanya.


Kedua netra Nyonya Amanda berbinar saat melihat pintu masuk rumah ini terbuka. Dengan mengendap-endap dia mulai mendekati pintu itu dan langsung melesat pergi meninggalkan rumah ini untuk mencari anak perempuannya.


"Arra, tungguin Bunda ya! Bunda lagi dalam perjalanan untuk jemput kamu." ucap Nyonya Amanda yang saat ini langsung melemparkan boneka di tangannya ke sembarang tempat.


Kebetulan petugas keamanan yang sedang menjaga pintu gerbang rumah ini juga sedang terkantuk-kantuk karena habis begadang, sehingga Nyonya Amanda bisa leluasa kabur dari tempat ini.


Disusurinya trotoar jalan setapak demi setapak dengan gerakan kepala yang menengok ke kanan dan ke kiri karna Nyonya Amanda tidak mau terlewat petunjuk seinci pun.


ART rumah Sekretaris Ken yang baru saja pulang dari pasar pagi kaget saat melihat pintu rumah ini terbuka. Diperiksanya ruangan kamar Nyonya Amanda yang telah kosong.


"Bi, kenapa Bibi kelihatan panik gitu?" tanya Sekretaris Ken yang saat ini sudah berpakaian rapi.


"Anu, Tuan, Nyonya Amanda tidak ada di dalam kamarnya."


"Nggak ada di kamar gimana?" tanya Sekretaris Ken panik. "Bibi sudah cek ke kamar mandi belum?"


"Sudah, Tuan, tapi tidak ada Nyonya di sana. Tolong maafkan saya, Tuan! Sebenarnya pada saat saya pulang ke rumah ini, pintu depan terbuka lebar. Sepertinya Nyonya Amanda ...."


"Kenapa pintu rumah bisa terbuka? Bukankah aku selalu bilang untuk selalu menguncinya?"

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan! Sepertinya tadi pagi saya terlalu terburu-buru sehingga lupa mengunci pintu," sesal Bibi ART itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Arghhh," Sekretaris Ken meremas rambut di kepalanya dan langsung bergegas berlari keluar untuk mencari Ibundanya.


Pemuda tampan itu semakin bertambah kesal saat melihat petugas keamanan yang berjaga di pos dekat pintu gerbang sedang terkantuk-kantuk dengan kedua mata yang terpejam.


"Bangun, Pak!" pekik Sekretaris Ken kesal.


Security itu langsung terlonjak kaget saat mendengar teriakan dari Sekretaris Ken.


"Iya, Tuan," jawabnya cepat langsung berdiri.


"Kamu itu digaji untuk menjaga rumahku, bukan untuk tidur seperti itu," omel Sekretaris Ken.


"Maafkan saya, Tuan!"


"Tidak ada kata maaf bagimu jika Bundaku tidak ketemu."


"Iya, cepat bantu aku cari Bundaku!"


"Baik, Tuan," angguk satpam itu patuh.


Kedua laki-laki itu mulai berpencar mencari keberadaan Nyonya Amanda, namun keberadaan wanita itu tidak akan mungkin terlacak lagi karena Nyonya Amanda sudah naik mobil kolbak yang tadi terparkir di sekitaran tempat ini.


Mungkin naluri keibuannya yang menuntun Nyonya Amanda menaiki mobil kolbak itu yang kebetulan tujuannya adalah ke sekolah SMA di mana Viona menuntut ilmu.


Sekretaris Ken dan satpam itu sampai berteriak-teriak memanggil nama Nyonya Amanda di sekitaran tempat itu, namun nihil, secuil petunjuk pun tidak mereka temukan.

__ADS_1


Pemuda tampan itu tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Segera dia telepon para detektif ternama untuk mencari keberadaan dari Ibundanya saat ini, dan dia akan memberikan imbalan yang fantastis jika Ibunya berhasil ditemukan oleh mereka semua.


Sekretaris Ken paham betul jika lapor kepada polisi, laporannya tidak akan langsung diproses karena pihak berwajib berpatokan pada peraturan yang telah ditetapkan. Jika belum lewat dari 1x24 jam maka orang yang dilaporkan hilang belum bisa dikatakan hilang. Maka dari itu Sekretaris Ken lebih memilih untuk menghubungi nomor para detektif swasta dibandingkan nomor kantor polisi.


***


Di tempat lain Yunita masih terlelap tidur setelah semalaman dihajar oleh Awan di atas ranjang sebanyak dua ronde. Sedangkan suami Yunita sudah bangun dari tidurnya dan saat ini sedang mengamankan obat yang tadi malam tercecer di atas lantai.


"Untung aja aku bangunnya lebih cepat dari wanita jelek itu," gumam Awan yang saat ini sedang memasukkan semua obat itu ke tempat yang aman. "Jika aku bangunnya terlambat sedikit saja, bisa-bisa Yunita curiga dengan serbuk-serbuk obat ini. Aku tidak mau dia tahu kalau selama ini aku membubuhkan obat pencegah kehamilan di minuman miliknya. Kalau dia tahu, bisa-bisa kepalaku dipenggal oleh Tuan Batari," gidik Awan merasa ngeri.


Niatan Awan menikahi Yunita itu hanya untuk memuluskan jalannya agar menjadi CEO Samudra Group dan juga mengambil alih semua kekayaan Tuan Batari. Tidak terbesit niatan sedikit pun untuk memiliki anak dengan Yunita.


Awan hanya akan mau memiliki anak dengan wanita yang selama ini telah mengikat hatinya, siapa lagi kalau bukan Sekretaris Diana.


Disetiap kesempatan Awan tidak pernah memakai pengaman saat berhubungan dengan wanita itu karena dia ingin memiliki keturunan dari rahim wanita yang dicintainya.


Meski untuk beberapa saat harus disembunyikan terlebih dahulu, tapi dia tidak keberatan, toh pada akhirnya, anak mereka berdua bisa dipublikasikan ke khalayak ramai setelah mereka berdua masuk ke deretan orang-orang kaya se-Asia Tenggara.


Jika ada uang, takan ada satu orang pun yang berani julid kepada anak mereka kelak.


Yunita yang telah bangun dari tidurnya segera beringsut turun dan memeluk Awan dari belakang. Beruntung semua obat pencegah kehamilan itu telah berada di tempat yang aman.


"Mas, kita mandi bareng yuk!" ajak Yunita yang masih ingin bermanja-manjaan dengan suami tercintanya.


"Apa pun keinginanmu akan aku penuhi, Sayang," ucap Awan yang kini sudah berbalik dan membopong Yunita ke arah kamar mandi di kamar mereka.


Hati wanita mana yang tidak akan tergila-gila jika mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari seorang pria. Ditambah lagi dengan tampang Awan yang mempesona, semakin membuat Yunita rela meninggalkan kekasih pertamanya dulu yang merupakan orang dari kalangan biasa.

__ADS_1


To be continued.


***


__ADS_2