CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Ada Yang Nendang


__ADS_3

Saat ini Sagara sedang dalam perjalanan pulang ke rumah utamanya.


Bara yang sedang menyetir di samping pemuda itu mulai tertarik dengan sebuah berkas yang ada dipangkuan Sagara.


"Ga, itu berkas apaan?" tanya Bara penasaran.


"Ini kontrak nikah gue sama si Viona." jawab Sagara.


"Gila ya loe, Ga? Loe udah tahu kalau si Viona gadis bodoh, kok loe malah buat kontrak pernikahan sama si gadis itu sih? Apa dia bakalan ngerti pasal-pasal yang ada di dalamnya?"


"Namanya juga usaha, Bar. Jadi sewaktu-waktu gue mau ceraikan dia mudah. Kalau untuk pasal-pasalnya gue nggak yakin sih kalau si gadis bodoh itu paham."


"Hahaha, kalau gue sih yakin seratus persen si Viona kagak bakalan paham." gelak Bara.


"Oh iya, ngomong-ngomong Abang loe udah balik ya ke kota ini? Gue denger katanya dia nggak di kota B lagi."


"Aston?"


"Iyalah, siapa lagi coba."


"Iya, dia sama Istrinya milih buat tinggal di kota ini lagi. Tapi ... Mama gue mau nugasin Abang gue ke Eropa."


"Mau disuruh buat ngurusin bisnis yang di sana ya?"

__ADS_1


"Iya," angguk Bara. "Huft" pemuda itu mengehela napasnya.


"Kenapa loe ngehela napas, Bar? Ada sesuatu di baliknya ya?"


"Betul. Seharusnya gue yang berangkat ke Eropa, tapi tiba-tiba Mama sama Papa batalin keputusan itu dan malah dilimpahkan ke Abang gue."


"Kurang percaya kali sama loe."


"Gue rasa bukan itu alasannya. Gini-gini juga gue kompeten ya. Hemph," dengus Bara.


"Lha terus kenapa?"


"Entah," Bara mengendikkan kedua pundaknya. "Gue ngerasanya kalau bokap nyokap gue kayak sengaja gitu nggak ngebiarin Abang gue buat tinggal lama-lama di kota ini. Dulu ... dia sengaja dikirim ke Bali buat ngawasin proyek pembangunan dan bisnis kita di sana. Setelah beres, mau langsung dikirim lagi keluar negeri."


"Iya,"


"Eh, nggak kerasa udah mau nyampe aja ke rumah gue nih." ucap Sagara yang menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya sudah mulai masuk ke kompleks rumah mewah ini.


Mobil milik Bara mulai memasuki gerbang pintu utama rumah mewah ini, dan pelayan laki-laki yang memang bertugas untuk menyambut Sagara yang tentunya atas perintah dari Sekretaris Ken segera mendekat ke arah mobil Bara yang sudah berhenti dari lajunya.


"Selamat malam, Tuan Muda," sapanya sopan saat pintu mobil ini sudah dibuka olehnya.


"Tolong ambilkan dulu kursi rodaku di bagasi belakang!" titah Sagara.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Pelayan itu bergegas menuju ke tempat yang ditunjukkan dan mulai mengambil barang yang dimaksud. Lalu membawa barang itu ke sang empunya.


"Mari saya bantu, Tuan." ucap pelayan itu berbasa-basi saat ingin memindahkan tubuh Sagara ke atas kursi roda.


Dalam satu kali coba pelayan itu berhasil memindahkan tubuh majikannya ke atas kursi roda.


Sagara yang akan mulai di dorong kursi rodanya oleh pelayan itu, menyempatkan diri untuk berpamitan pada Bara.


"Bar, thanks ya."


"Sama-sama, Bro. Kalau gitu gue cabut dulu ya."


"Iya, hati-hati di jalan, Bar."


"Wokeh, siap."


Mobil Bara mulai meninggalkan rumah ini dan kursi roda Sagara juga sudah mulai didorong untuk masuk ke dalam rumah megah ini.


Sagara dan pelayannya mulai memasuki lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dua rumah ini.


Tidak butuh waktu lama yang diperlukan untuk sampai di lantai dua. Saat ini Sagara sudah sampai di depan pintu ruang kamarnya.

__ADS_1


"Kamu sudah boleh pergi!" ucap Sagara kepada pelayannya.


__ADS_2