CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Apakah Undangan Yunita Ditolak Gara-Gara Awan Adalah Suami-nya?


__ADS_3

"Pfft," Yunita menahan tawanya saat mendengar suara Ibunya yang sedang memberikan pelajaran untuk Ayahnya. "Dasar, suami-suami takut istri, pfft,"


Tuan Batari memang tidak berani melawan Istrinya. Bukan karena dia takut, namun rasa cinta kepada Istrinya yang usianya terpaut tiga puluh tahun dengannya jauh lebih besar, sehingga membuat dia selalu memanjakan Sherina dan selalu mengalah kepada Sherina, seperti halnya saat ini.


Nama panggilan Babeh untuk Tuan Batari pun atas pilihan dari Istrinya sendiri, yang sedari dulu selalu memanggil laki-laki tua itu dengan sebutan Babeh, sebab Sherina menganggap bahwa Tuan Batari lebih cocok untuk menjadi Ayahnya ketimbang jadi suaminya. Tapi siapa sangka, usia pernikahan mereka malah begitu awet dan telah berhasil mencetak satu orang putri dan satu orang putra yang sangat tampan, yang saat ini sedang berkuliah di luar negeri.


Di ruang kerja Tuan Batari, Yunita langsung menyapa Kimoci, seekor ikan ****** yang sangat lucu gemes gemes di sebuah akuarium.


"Siang Kimoci," sapa Yunita.


"Tadi kamu makan apa?"


Blup blup blup, ikan itu hanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara saja dari mulutnya.


"Wih enak dong. Pantesan perut kamu jadi buncit kek gitu. Ih gemes gemes gemes," ucap Yunita yang mirip seperti orang gila karena berbicara kepada ikan ****** peliharaan Ayahnya.


"Oh iya, aku hampir lupa. Kata Babeh kan -aku harus segera menghubungi Raga."


Yunita mulai mengambil ponselnya dari dalam tas Kremes miliknya, yang harganya ditaksir ratusan juta.Tangan cantiknya mulai mencari nomor ponsel Raga.


"Ini dia,"


Nomor Raga pun mulai Yunita telepon.


Di belahan kota A yang lain, ada seorang wanita yang tengah tiduran di atas pangkuan seorang laki-laki. Tangan laki-laki itu sedang memainkan rambut keriting milik Istrinya. Mereka adalah Dania dan Surya Pratama.

__ADS_1


Cuit cuit cuit cuit.


Suara dering ponsel Raga mulai mendominasi suara di ruangan itu.


"Pa, cepet angkat teleponnya, Pa! Brisik tahu. Mama lagi nonton drama Pentghost nih." ucap Dania.


"Bukan ponsel Papa, Ma." sahut Tuan Surya.


"Lalu kalau bukan punya Papa, punya siapa dong? Kan yang dering hapenya burung kejepit cuma hape Papa doang."


"Hapenya Raga nada deringnya juga burung kejepit, Ma."


"Eh iya kah?"


"Ya udah, cepet cari hapenya Raga, brisik banget tahu!" keluh Dania.


"Oke, Ma."


Brukk.


"Aw, Papa gimana sih!" protes Dania yang saat ini sedang kesakitan karena jatuh ke atas lantai setelah Suaminya tiba-tiba langsung berdiri tanpa aba-aba.


"Lha, kata Mama -Papa harus cepet-cepet cari hapenya Raga. Ini Papa mau cari hape itu, Ma." jawab Tuan Surya sok polos.


"Tapi nggak gini juga kali caranya, Pa. Dasar Suami nggak ada akhlak."

__ADS_1


Bukkk, wajah Tuan Surya dilempar bantal sofa oleh Dania.


"Hahaha," Tuan Surya tertawa renyah.


Dania saat ini tengah menikmati setiap nyut-nyutan yang dia rasakan akibat ulah jahil dari Suaminya. Sedangkan Tuan Surya sudah berhasil menemukan hape anaknya dan langsung menjawab panggilan telepon itu.


"Halo, dengan siapa saya bicara?" tanya Tuan Surya yang sudah tersetel ucapan seperti itu setiap kali menjawab sebuah telepon.


"Halo, saya Yunita anak dari Tuan Batari."


"Oh, Yunita, toh. Ono opo, Nduk, tumben telepon ke nomornya Raga?"


"Eh, ini Om Surya ya?"


"Yoi, Nduk."


"Ini Om, nanti malem saya mau rayain acara ulang tahun saya. Nah, saya berharap Om Surya dan segenap keluarga bisa hadir di acara ultah saya, Om."


"Maaf, Yun,"


"Maaf kenapa, Om? Jangan bilang Om nggak bisa dateng gara-gara ada anak tirinya Om di pesta ulang tahun saya, ya?"


***


Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.

__ADS_1


__ADS_2