CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Kesucian Viola Di Ujung Tanduk Part 2


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, penjahat itu segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, Bos." ucapnya pada orang di seberang telepon.


"Halo, Don. Kalian sekarang lagi di mana?" tanya Awan yang saat ini masih berada di atas sofa bersama dengan Sekretaris cantiknya.


"Masih di hutan, Bos." sahut Doni cepat.


"Cepet balik ke markas! Ada tugas penting untuk kalian semua."


"Ba-baik, Bos. Tapi kalau ngaret sejaman lagi boleh kan, Bos?" tanya Doni takut-takut.


"Cepet balik sekarang!" titah Awan tegas.


"Ba-baik, Bos." angguk Doni.


Sambungan telepon itu telah ditutup dari dua arah dan kini Doni panik.


"Bro, gawat."


"Gawat kenapa?"


"Si Bos minta kita buat cepet balik ke markas."


"Waduh, rugi dong kita. Belum sempet nyicip wanita cantik itu -udah disuruh balik aja."


"Terus gimana dong? Gue kan pengin rasain juga tubuh wanita itu." ucap Andi.

__ADS_1


"Apa kita ngaret aja ya datangnya?"


"Husss, mau dipenggal kepalamu hah sama si Bos."


"Waduh, serem amat."


"Udah, mending kita segera balik. Ayo cepet kita turunin cewek itu di tempat ini aja!"


"Oke dah." sahut kedua rekan lainnya yang kecewa berat tidak bisa menodai Viola.


Ketiga penjahat itu mulai mendekat ke arah mobil dan langsung membuka pintu mobil itu.


Terlihat lah tubuh Badri yang saat ini tengah menindihi tubuh Viola yang terbaring paksa di atas jok kulit mobil itu.


Ketiga penjahat itu bisa mendengar dengan jelas suara decapan yang tercipta oleh pagutan bibirnya Badri ke bibir ranumnya Viola.


"Dri, jangan nempel mulu, Dri. Udahan ya!" tarik Andi.


"Ish, kalian kenapa sih kok malah ngedeketin gue yang lagi mau seneng-seneng? Sana sana sana, jangan ganggu gue dulu! Giliran kalian kan nanti." usir Badri.


"Heh, kita itu diminta buat cepetan balik ke markas sama si Bos. "Lu mau kalau leher kita digorok gara-gara nggak patuh sama perintahnya Dia? Kaga kan?"


"Kaga mau lah."


"Ya udah, cepetan lu turun! Gue mau nurunin tuh cewek di sini aja."


"Nanggung, Bro. Gue selesaikan hajat gue dulu ya. Baru deh kalau udah lega, kita lepasin cewek ini." tawar Badri.

__ADS_1


"Enak aja. Untung di loe, rugi di kita dong. Kalau mau nyicip ya semuanya kudu nyicip. Kalau cuma lu doang mah, ogah ya. Atau lu mau kita tinggal aja di hutan ini bareng cewek ini?"


"Jangan lah! Ntar si Bos bisa-bisa tembak kepala gue di tempat lagi."


"Ya udah. Makanya nurut, jangan kebanyakan bacot!"


"Iya, iya," angguk Badri dengan raut wajah kecewa.


Viola saat ini sudah dalam keadaan acak-acakan meski kesuciannya belum terenggut. Bibirnya juga sedikit bengkak karena habis dipagut oleh bibirnya Badri.


"Sini loe!" perintah Doni sambil menarik Viola untuk segera turun dari dalam mobil.


Brukk.


Tubuh Viola -Doni dorong ke pinggiran jalan setapak di hutan ini yang memang bersebelahan dengan jalanan aspal.


"Aw," ringis Viola yang kesakitan saat tubuhnya jatuh ke atas tanah.


"Ayo Bro kita pergi!" seru Doni ke rekan-rekannya yang lain.


Semua penjahat itu mulai masuk ke dalam mobil hitam itu dan meninggalkan Viola sendirian di jalanan aspal hutan ini yang sangat jarang sekali dilalui oleh kendaraan sebab sudah ada jalan baru yang lebih cepat rutenya dibandingkan dengan rute jalan yang ini.


Viola segera mengancing semua kancing kemejanya yang tidak sengaja terlepas.


"Untung saja aku belum ternodai." ucap Viola yang kini mulai merapikan rambut panjangnya yang telah acak-acakan.


Dengan kasar Viola menghapus bekas ciumannya Badri dari bibir mungilnya. "Awas saja kalian. Suatu saat aku akan memberikan balasan yang setimpal untuk kalian semua." tekad Viola. "Aw," lagi-lagi Viola meringis kesakitan tatkala luka memar di pipinya tidak sengaja tersenggol.

__ADS_1


***


__ADS_2