
"Oh iya, kalau misimu sudah selesai, pulangnya kamu mampir ke rumah Intan ya! Skala baru selesai bikin cheese cake sama tape ketan. Tadi dia kirim pesan suruh ambil sendiri katanya."
"Baik, Pah. Kim pergi dulu ya!" pamit pemuda itu.
"Iya, hati-hati! Nanti pulangnya jangan lupa mampir!"
"Siap, Pah." jawab Kim tanpa berbalik badan. Senyum manis mulai tersungging di bibir tipisnya.
"Silakan, Boss!" ucap salah satu anak buahnya Kim yang sudah bersiap-siap di depan rumah Boss besarnya ini dan saat ini sedang membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
"Kamu nggak usah ikut! Sepulang dari misi aku mau mampir ke tempat lain. Aku mau nyetir sendiri aja." ucap Kim.
"Pasti mau ketemuan sama Non Skala ya~ cie~" goda anak buahnya.
"Hust, jangan berisik! Awas aja kalau Papa atau Mama sampai tahu perihal ini. Aku ...,"
"Ampun, Boss. Jangan di krek tanaman kesayangan saya."
"Makanya diem! Ini belum saatnya Mama sama Papa tahu tentang hubunganku sama Skala."
"Iya, Boss, iya." angguk Ujang.
"Aku pergi dulu. Jangan lupa burung pipit kesayanganku dikasih makan ya!" perintah Kim.
"Siap, laksanakan, Boss."
Pintu belakang mobil mulai ditutup kembali oleh Ujang karena Boss kecilnya mau menyetir sendiri saja.
Saat ini Kim sudah duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
Semua mobil para anak buahnya mulai mengikutinya dari belakang dan beberapa mulai mendahului mobil Kim untuk membentuk formasi yang memang sudah ditetapkan.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Awan dan Sekretaris Diana masih terbaring di atas sofa saling berdempetan setelah aktivitas panas mereka.
"Mas, kamu kok masih nyantai-nyantai aja sih?"
"Memangnya kenapa sih, Sayang." tanya Awan yang kini kepalanya mulai mendusel ke ceruk leher Sekretaris Diana.
"Nanti malem acara ulang tahun istrimu lho. Cepet gih kamu pulang! Pasti kamu udah dicariin tuh sama mereka."
"Bentar lagi ya. Aku masih betah di sini sama kamu."
Cuit cuit cuit cuit.
Dering ponsel Awan berbunyi dan di layar hapenya tertera nama Yunita.
"Tuh teleponmu bunyi, Mas."
"Udah biarin aja."
"Oke, oke," Awan mengalah dan mulai bangkit dari posisinya saat ini.
Laki-laki itu mulai meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Sekretaris Diana juga mulai bangkit dari posisi tidurannya dan kini mulai memeluk Awan dari belakang sambil mengintip nama sang penelepon di layar ponsel lelaki itu.
"Tuh kan," ucap Sekretaris Diana. "Kamu tuh lagi dicariin. Cepet angkat teleponnya!"
Awan mulai mengangkat telepon itu sambil memberikan kode dengan telunjuk di bibirnya agar wanita yang sedang memeluknya saat ini tidak menimbulkan suara.
"Halo, Sayang." sapa Awan kepada Yunita.
"Halo, Mas Awan. Kamu lagi di mana sih?"
"Aku lagi di tempat bisnisku, Sayang. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Kamu disuruh cepet pulang tuh sama si Babeh."
"Ayah Batari lagi nyariin aku?"
"Iya," jawab Yunita. "Cepetan pulang! Aku males ditanya-tanyain mulu sama si Babeh."
"Oke, oke, aku bakalan cepet balik."
Sambungan telepon itu pun berakhir.
Kini Awan mulai bergegas memakai semua pakaiannya.
"Kok buru-buru banget sih make bajunya, Mas?" tanya Sekretaris Diana.
"Aku lagi dicariin sama Tuan Batari. Males gila kalau aku kena ceramah panjang lebar sama si bandot tua itu kalau telat dikit aja."
"Dia suka ceramahin kamu, Mas?"
"Iya. Untungnya dia punya harta banyak yang lagi mulai aku porotin. Kalau nggak mah udah aku tendang tuh -si tua bangka."
"Emang sekaya apa sih keluarganya Tuan Batari?" tanya Sekretaris Diana dengan kedua matanya yang berbinar-binar.
"Mereka punya Perusahaan Pertambangan Batu Bara dan beberapa restoran elit yang penghasilannya mencapai miliaran rupiah setiap bulannya. Belum lagi pemasukan dari pembagian hasil dari saham-saham yang mereka miliki di Perusahaan-Perusahaan lainnya."
"Wow ... berarti mereka kaya banget dong."
"Jelas. Makanya aku mau nikahin Yunita yang tampangnya pas-pasan itu."
"Kirain ... kamu nikah sama Yunita karena cinta. Ternyata karena harta toh. Hahaha," tawa Sekretaris Diana.
"Hahaha, kamu bisa aja becandaannya, Sayang." ucap Awan sambil mengecup pipi wanita itu. "Mana mungkin aku cinta sama wanita yang tampangnya pas-pasan kaya Yunita, hahaha," gelak Awan.
***
__ADS_1