
Di rumah utama Sagara, pemuda itu sedang kesal karena diganggu oleh Viona terus-terusan.
"Jauh-jauh dariku!" bentak Saga.
"Kita udah nikah lho, Suamiku," sahut Viona yang makin menyenderkan kepalanya di pundak Saga.
Saga menggerakkan pundaknya agar kepala Viona terlempar jauh-jauh darinya, tapi tetap saja kepala batu itu akan terus nemplok kembali di pundaknya.
"Jangan suka gitu, Suamiku! Dosa lho ... kan kata Pak Ustadz juga kalau sepasang suami istri saling bersentuhan itu berpahala lho," ucap Viona menasehati Saga.
"Ekhem," Pak Jang berdehem dan membuat Saga melirik ke arahnya.
Pandangan matanya Sagara ke arah Pak Jang seolah sedang berkata, "Ada apa, Pak Jang? Apa Anda punya solusi?"
Pak Jang yang tahu kalau Sagara tidak suka berdekatan dengan wanita jelek akhirnya membisikkan sebuah ide cemerlang untuk Tuan Mudanya.
"Buat Nona Vio untuk memasak makanan Anda! Sehingga dia punya kesibukan dan waktu untuk mengganggu Tuan Muda semakin berkurang."
"Woah," kedua mata Sagara berbinar.
Saga yang ingin segera lepas dari uler keket itu langsung menginterupsi gadis di sampingnya.
"Vio," panggilnya ramah.
"Iya, suamiku," sahut Viona yang masih betah menyender ke pundak Sagara.
"Tolong buatin aku makanan dong!"
"Tapi kan kita mau makan ubi bakar pagi ini, Suamiku."
"Tapi aku maunya dimasakin sama kamu!"
"Baiklah, Suamiku. Sebagai istri yang baik, Vio akan melayani Suamiku dengan sepenuh hati. Vio jago segalanya, Suamiku. Termasuk di atas ranjang," bisiknya.
"Dasar bocil mesum!" pekik Sagara yang tidak suka dibisiki hal-hal dua satu plus oleh Viona.
"Vio bukan bocil kok," sangkal gadis itu. "Vio malah udah bisa bikin bocil," lirih Viona yang mulai malu-malu kucing sambil memainkan jari-jemarinya.
"Uhuk, uhuk, uhuk!" Sagara tersedak air liurnya sendiri saat mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Viona.
"Astaghfirullah, makan apa sih bocah ini? Kok mesum bener?" ucap Saga bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Suamiku, mau dimasakin apa?" tanya Viona yang saat ini mulai mengenakan celemek.
"Apa aja," sahut Saga simpel.
"Oke, bosku," Viona memberikan tanda oke ke arah Sagara.
__ADS_1
Gadis menor itu mulai bergabung dengan pelayan lainnya yang sedang sibuk masak di dapur.
"Kak, Suamiku sukanya makan makanan apa ya?" tanya Viona sopan kepada salah satu pelayan.
"Tau," sahut pelayan itu dengan nada suara yang sinis.
"Sinis banget ih si Kakak," komen Viona.
"Emangnya kenapa hah?"
"Kakak nggak belajar tatakrama ya?"
"Brisik,"
"Ih si Kakak, nyebelin banget,"
Viona yang dicueki oleh pelayan itu segera mengadu ke arah Sagara dengan berlinang air mata buaya.
"Suamiku, Kakak itu cuekin Vio," adu gadis itu sambil menunjuk ke arah pelayan itu.
"Huhuhu," tangis Viona yang saat ini mulai memeluk lengan Saga kembali dengan senyum mengembang di bibirnya yang tentunya tersembunyi.
"Vio nggak usah masak aja ya, Suamiku! Hati Vio sakit dicuekin. Padahal Vio cuma nanya makanan kesukaan Suamiku itu apa, huhuhu," Viona masih melancarkan tangisan buayanya.
Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Viona agar dia bisa menempel-nempel lagi ke arah Sagara dan batal memasak.
Saga bukan kesal karena Viona diperlakukan tidak sopan oleh pelayannya, tapi pemuda itu marah karena tingkah rese pelayannya membuat uler keket yang tadi susah payah diusir oleh Sagara balik lagi dan nemplok padanya lagi seperti semula.
"Pak Jang," panggil Sagara ke kepala pelayan di rumah ini.
"Iya, Tuan Muda," sahut lelaki tua itu.
"Segera urus surat pemecatan pelayan itu sekarang juga! Dan aku tidak mau lagi melihat wajahnya di rumah ini," tandas Saga.
"Baik, Tuan," angguk Pak Jang patuh.
Pelayan itu yang tadi berani bersikap kurang ajar kepada Viona mulai memucat wajahnya saat mendengar perkataan Tuan Mudanya.
Pelayan itu segera berlari ke arah Sagara dan langsung berlutut.
"Tuan Muda, saya khilaf, saya tidak bermaksud memperlakukan Nona Vio dengan kasar," ucapnya meminta pengampunan.
"Pak Jang, cepat bawa pergi pelayan itu!" titah Sagara yang tidak bisa diganggu gugat.
"Baik, Tuan,"
"Tuan Muda, maafkan aku! Tuan Muda!" pekik pelayan itu yang saat ini sudah diseret pergi oleh Pak Jang.
__ADS_1
Kini Saga mulai kembali beralih ke arah istrinya.
"Vio, serangga pengganggu itu sudah pergi. Sekarang kamu boleh melanjutkan acara memasakmu," bujuk Saga kepada gadis yang sedang menempel padanya agar segera pergi menjauh darinya.
"Tapi Vio udah kadung trauma, Suamiku," modus Viona yang tidak mau berpisah dari Saga.
"Sayang sekali, padahal aku pengen makan masakan tangan dari, ekhem, istriku," ucap Saga dengan pandangan yang sedih.
Viona yang termakan modus rayuan yang dilancarkan oleh Saga akhirnya luluh juga dan melepaskan tangannya dari lengan laki-laki itu.
Ingatlah, sebuah pepatah ini.
Di atas langit, masih ada langit.
Begitu pun dengan tukang modus.
Di atas tukang modus handal, masih ada tukang modus super handal.
Seperti halnya saat ini. Viona memang pintar modus, tapi Saga jauh lebih ahli di bidang permodusan karena lelaki itu sudah punya jam terbang yang banyak dalam mengadali semua wanita yang pernah ditidurinya.
Viona mulai berdiri kembali dan sebelum kembali ke arah dapur, gadis itu bertanya terlebih dahulu.
"Suamiku mau dimasakin apa?"
"Terserah kamu aja, Sayang," ucap Saga di bibir, namun di dalam hati dia sedang muntaber.
"Jangan terserah! Kalau jawabannya terserah mulu, aku getok nih kepala kamu, Suamiku," ancam Viona galak mirip ibu-ibu rumah tangga yang selalu kesal saat mendapatkan jawaban terserah dari suaminya saat ditanya ingin dimasakin apa.
"Oseng kangkung aja, Vio," ucap Saga yang pada akhirnya menyebutkan keinginannya.
"Oke siap, Suamiku."
"Jangan lupa! Gorengin tempe, tahu, dan buatin sambel terasinya juga ya. Terus timun mentahnya jangan lupa! Diiris panjang-panjang yang masing-masing panjangnya lima centi meter dengan ketebalan satu setengah senti. Terus kulitnya dikupas dulu ya, Istriku, uhuk," batuk Saga yang tenggorokannya langsung gatal karena pita suaranya tidak terima dipakai untuk memanggil panggilan mesra kepada Viona.
"Beres suamiku," jawab Viona antusias yang langsung melesat pergi ke medan perang kembali.
"Puyeng-puyeng dah tuh, bikinin masakan pesananku," gumam Saga yang saat ini terkikik geli.
Dari arah dapur, tepatnya dekat oven, Usep geleng-geleng kepala.
'Dasar lelaki, dikasih hati, malah minta jantung.'
Lelaki pada dasarnya memang seperti itu. Jika diberikan sesuatu pasti akan makin ngelunjak.
Sama seperti halnya saat pada pacaran, awalnya minta pegangan tangan, tapi pas udah dikasih tangan eh minta gunung kembar 🙈
To be continued.
__ADS_1
***