
Namun yang tidak mereka ketahui adalah kerabat dekat Pak Sofyan yang bekerja menjadi tenaga medis telah berkomplot dengan Viola yang merupakan keponakan kesayangannya.
Selain itu anaknya juga berada di peringkat pertama dan kemungkinan akan segera tergeser setelah Viona loncat kelas lagi.
Dia tidak mau hal itu terjadi, sebab jika anaknya sampai tergeser ke peringkat dua maka semua fasilitas yang sudah anaknya dapatkan akan diberikan kepada Viona dan kemungkinan beasiswa anaknya juga akan dicabut.
Selain keringanan dari biaya sekolah, jika sang anak berada di peringkat pertama ada rasa kebanggaan tersendiri dan dia tidak mau kehilangan hal itu.
Meski sudah berjalan cukup lama, namun obat itu masih diberikan kepada Viona sebab Viola tidak ingin Viona sembuh dan menjadi jenius seperti sebelumnya.
Sarmila sudah semakin dekat dengan Viona yang saat ini tengah mengipasi Sagara. Gadis itu yang melihat kehadiran Sarmila mulai menghentikan kipasannya dan mulai bangkit dan menyanyikan sebuah lagu yang biasa dia nyanyikan saat Sarmila datang ke arahnya.
"Oh Sarmila~ hooo~ Sarmila~ cintaku~ hooo~ milikku."
Sarmila tersipu malu ketika mendengar lagu itu dinyanyikan oleh Viona, sebab lagu itu membuatnya teringat dengan mantan terindah yang pernah menyanyikan lagu dangdut itu ketika mereka terpaksa putus hubungan.
__ADS_1
Sarmila lekas meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja dan langsung menepuk ringan Viona.
"Ih, si Non mah, jangan nyanyiin lagu itu dong, Non!"
"Kalau gitu Bibi Sarmila jangan lagi bawain obat nggak enak itu." tunjuk Viona ke arah obat yang rutin dia konsumsi sedari kecil. "Vio nggak suka sama obatnya, pahit, huek," tutur Viona dengan bibirnya yang dimaju-majukan sepanjang jalan kenangan, eh tiga centimeter maksudnya.
"Non Vio harus minum obat itu agar cepet sehat."
"Tapi Vio ini sudah sehat, Bibi Sarmila cuan~tiks."
"Haaa~ haaa~" keluh Viona yang kini duduknya sudah turun ke atas lantai panggung. Gadis itu menjejak-jejakkan kedua kakinya seperti anak kecil yang sedang merengek.
"Bibi nggak mau tahu, pokoknya Non Vio harus minum obat."
Sagara yang masih berada di dekat Viona dan Sarmila mulai mengerutkan keningnya.
__ADS_1
'Sakit apa sih? Bukankah gadis jelek itu meski bodoh tapi tubuhnya sehat-sehat saja ya. Kenapa dia harus minum obat? Kenapa Bibi itu bilang Viona sakit? Apa jangan-jangan yang sakit itu otaknya? Ah sepertinya memang iya otaknya yang konslet.' batin Sagara.
"Vio mau makan dan minum obat kalau Suami Vio yang nyuapin." tegas Viona yang sudah mau minum obatnya kembali.
"Hah!" pekik Sagara kaget.
Kedua wanita yang ada di sebelah Sagara langsung melihat ke arahnya dengan tatapan puppy eyes-nya.
"Ayolah, Tuan Muda Saga! Tolong suapin Nona Vio, ya!" pinta Bibi Sarmila.
"Ayolah Suamiku," rajuk Viona yang kini mulai memeluk dan menyenderi tubuh Sagara lagi, "suapin Vio, kan kamu sudah jadi Suami Vio." lanjut Viona sambil meraba dada bidang milik Sagara dan jari telunjuknya bergerak memutar-mutar di sekitar area itu.
Jika yang meraba dada bidang milik Sagara adalah wanita cantik dan seksi, mungkin saat ini anaconda milik Sagara sudah menggeliat-menggeliat tidak karuan dan ingin segera keluar dari sarangnya.
***
__ADS_1
Tekan tombol like, simpan di favorit, dan wajib komen next atau up demi level novel ini.