
"Mohon maaf kan aku, Tuan Muda. Sampai saat ini aku belum menemukan siapa-siapa saja yang menjadi mata-matanya Awan di dalam barisan Anda." jawab Sekretaris Ken dengan nada bicara yang merasa sedikit menyesal.
"Apakah mereka semua benar-benar lihai dalam menyembunyikan diri mereka masing-masing?"
"Betul, Tuan. Mereka semua terlalu terampil dalam mengontrol ekpresi mereka dan tindak tanduk mereka agar tidak mudah untuk dicurigai."
"Oh iya, bagaimana dengan rencana kita sore nanti?"
"Maksud Anda tentang rencana pengepungan orang-orangnya Awan yang sedang menculik Viola?"
"Iya, betul." angguk Sagara. "Kali ini kita harus berhasil menjalankan semua rencana kita dan menangkap mereka semua. Jika para antek-anteknya Awan yang sedang menculik Viola tertangkap, maka para mata-mata yang ada dalam barisanku pasti akan mencoba untuk membebaskan mereka. Nah saat itu kita langsung hap, ringkus mereka semuanya."
"Baik, Tuan. Oh iya, ngomong-ngomong soal penculik, sedari tadi nomor penculik Viola tidak bisa dihubungi dan mereka juga tidak menghubungi balik ke nomor-nya Tuan Sofyan"
"Mungkin itu cara agar keberadaan mereka tidak terlacak."
"Iya juga sih."
"Oh iya, kamu sudah mendapatkan lokasi dari para. penjahat itu belum? Bukankah kamu sudah meminta para ahli untuk melacak keberadaan mereka."
"Sudah, Tuan. Namun setelah dicek ke tempat itu, baik Viola maupun para penculik tidak ditemukan. Hanya kuntung-kuntung rokok saja yang berserakan, Tuan." jelas Sekretaris Ken.
__ADS_1
"Arghhh, lagi-lagi kita kalah cepat dengan mereka." kesal Sagara.
"Sekretaris Diana terlalu cerdik, Tuan. Jadi wajar saja kalau mereka sudah pindah tempat. Dan untuk rencana nanti sore, aku juga kurang yakin semua rencana kita bisa berjalan dengan lancar, mengingat kecerdikan Sekretaris Diana begitu luar biasa."
"Huft, semoga saja mereka melakukan kesalahan lagi seperti sebelumnya." harap Sagara.
***
Di tempat lain, seorang preman menghadap ke para Bos-nya.
"Lapor, Tuan. Beberapa menit yang lalu, tempat persembunyian yang lama telah digrebek oleh orang-orangnya Tuan Muda Saga."
"Mereka tidak berhasil menemukan petunjuk apa pun dan mereka pergi ke arah yang berbeda dengan orang-orang kita."
"Baguslah kalau tidak terlacak. Oh iya, nomor ponselnya si Badri sudah dibuangkan?"
"Sudah, Tuan. Sudah diganti juga dengan yang baru."
"Kalau begitu mulai sekarang kalian harus lebih berhati-hati. Nanti sore saat pelepasan Viola, hubungi nomor orang tua Viola di tempat yang bisa mengecoh mereka dan segera buang nomor itu setelah selesai dipakai."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya undur diri dulu."
__ADS_1
"Iya, sana sana."
Selepas kepergian orang itu, Awan segera mendekat lagi ke arah Diana yang saat ini sedang merawat kukunya.
"Sayang, ternyata semua tebakanmu benar semua." puji Awan sambil memeluk tubuh Diana.
"Jangan peluk-peluk ah. Jadi rusak kan kutekku." keluh Sekretaris Diana.
"Kenapa kamu ngutekin kukumu sendiri sih, Sayang?" tanya Awan yang kini mulai mengec*p leher jenjang Sekretaris cantiknya.
"Karena aku tidak ada waktu untuk merawat diriku sendiri. Setiap hari selalu sibuk dengan urusan pekerjaan, dan malam harinya sibuk memanjakanmu di atas ranjang." Sekretaris Diana mempoutkan bibirnya.
"Jangan digituin dong bibirnya! Kan aku jadi gemes, Sayang, pengen nganu." bisik Awan.
Sekretaris Diana hanya bisa memutar kedua bola matanya malas saat mendengar penuturan Awan.
"Yank, tolong kamu sewa beberapa orang yang bekerja dibidang kecantikan dong untuk memanjakanku di rumah ini!" pinta Sekretaris Diana.
***
Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.
__ADS_1