
"Dia ...," gumam Sagara yang saat ini tidak bisa berkedip saat melihat ke arah Viona.
Sagara tidak mengenali Viona yang tanpa make up, ditambah lagi gaun tidur gadis itu saat ini sudah tertutupi oleh kimono berwarna biru, sehingga membuat Sagara benar-benar tidak mengenalinya.
Viona yang telah selesai berwudlu segera masuk kembali ke dalam rumah megah ini dan Sagara kelabakan saat gadis cantik di taman itu menghilang dari pandangannya.
Dengan cepat, Saga segera duduk ke kursi rodanya dan mulai keluar dari dalam kamar ini untuk segera turun ke bawah menemui wanita cantik itu.
"Aku tidak boleh kehilangan gadis itu." tekad Sagara.
Sagara mulai masuk ke dalam lift, sedangkan Viona mulai menaiki anak tangga ke lantai dua.
Ting!
Lift yang Sagara naiki telah sampai di lantai satu dan bertepatan itu pula, Viona telah sampai ke anak tangga terakhir.
Sagara mulai mengarahkan kursi rodanya ke arah taman rumah ini yang tadi disinggahi oleh Viona.
Kosong, tidak ada satu makhluk pun yang berada di area sekitar situ.
Sagara masih belum menyerah, dia mulai menyusuri lorong di sepanjang taman ini, namun sayang sekali, target buruannya tidak berhasil ditemukan.
__ADS_1
"Kemana sih perginya wanita itu?" ucap Sagara bertanya-tanya.
"Apa aku sedang bermimpi seperti sebelumnya?" Sagara mulai berhenti dari lajunya dan kini mulai termangu.
Jika wanita itu hanya cantik saja, mungkin Sagara tidak akan terobsesi seperti ini untuk bertemu dengannya.
Tapi yang jadi persoalan adalah ... gadis cantik itu selalu muncul dalam mimpinya dan dia senantiasa menangis tersedu-sedu di depannya.
Pikiran Sagara mulai melayang dan dia mulai teringat kembali mimpi-mimpi aneh yang selalu dia alami.
"Kakak,"
"Kakak,"
"Kakak,"
Jepit rambut berhiaskan bunga matahari pun tiba-tiba muncul di tangannya Sagara dengan tetesan darah yang sudah mengering.
Lalu secara tiba-tiba sosok gadis cantik itu berubah menyeramkan dan secepat kilat sudah berada di dekat Sagara dan mencekik leher laki-laki itu.
"Kembalikan jepit rambutku!" ucap gadis cantik itu dengan suara yang mengeram menakutkan.
__ADS_1
"Hossh, hossh, hossh," napas Sagara tersengal-sengal saat teringat dengan mimpi buruk itu.
"Tuan!" seru Pak Jang yang merupakan kepala pelayan di rumah ini mulai berlari tergesa mendekat ke arah Tuan Mudanya. "Anda tidak apa-apa kan, Tuan?"
"Tuan Muda tolong sadarlah!" pinta Pak Jang kepada Sagara yang saat ini kedua tangannya sedang mencekik lehernya sendiri.
"Tuan Muda!" seru Pak Jang yang saat ini sedang berusaha mengendurkan tangan Sagara dari lehernya sendiri.
"Hossh, hossh, hossh," napas Sagara kini langsung memburu saat udara segar sudah kembali masuk ke dalam rongga paru-parunya.
"Tuan Muda," tangis Pak Jang yang kini kedua kakinya sudah berlutut di depan kursi roda milik Sagara setelah berhasil menyelamatkan nyawa Tuan Mudanya dari marabahaya.
"Pak Jang, barusan aku melihat gadis itu." ucap Sagara dengan nada suara yang gemetar.
"Itu hanya mimpi, Tuan Muda. Gadis itu tidak akan mungkin bisa muncul di rumah ini. Dia sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu."
Sagara saat ini mulai menangis pilu saat teringat fakta yang diucapkan oleh Pak Jang.
"Pak Jang, aku sangat menyesal." tutur Sagara sambil menangis sesenggukan.
Pak Jang mulai memeluk tubuh laki-laki itu dan menepuk-nepuk punggungnya dengan ritme yang teratur agar pemuda dalam dekapannya bisa tenang kembali.
__ADS_1
***