CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Kecelakaan Itu (Flashback)


__ADS_3

"Pak Jang, aku sangat menyesal, Pak Jang." ucap Sagara di tengah tangisnya. "Seharusnya dulu aku patuh dengan semua ucapanmu, Pak,"


"Sudah, Tuan Muda, lupakan saja kenangan buruk itu." hibur Pak Jang yang masih tetap setia menenangkan Sagara.


Kenangan buruk di masa lalu mulai merangsek masuk kembali ke memori anak cucu Adam dan Hawa itu.


***


"Tuan Muda, Anda tidak boleh berkendara sendiri! Anda masih di bawah umur." larang Pak Jang yang saat itu sedang mencoba menghentikan langkah Sagara.


"Minggir kau!" bentak Sagara kepada kepala pelayan di rumah Bhumi Cakra.


Pak Jang tidak mampu menghentikan langkah Tuan Mudanya yang saat ini sudah berhasil masuk ke dalam mobil merah kesayangannya, yang di setiap sisi body mobilnya bergambar superhero laba-laba dan juga kelelawar.


Brum, brum, brum!


Mobil merah itu mulai melaju meninggalkan rumah mewah ini dengan kecepatan yang lumayan membahayakan.

__ADS_1


Anak mana yang tidak kesal saat orang tuanya akan membagi warisan kepada anak dari wanita murahan yang dulu menjadi selingkuhannya.


Beberapa saat yang lalu, Tuan Bhumi Cakra sedang berbicara dengan Pengacaranya. Dia meminta agar lelaki itu membuatkan surat wasiat yang berisi tentang pembagian harta kekayaan miliknya untuk semua anak-anaknya.


Selain, Sagara, dan Awan, Tuan Bhumi masih punya satu anak perempuan lagi yang keberadaannya tidak diketahui di mana rimbanya.


Bahkan untuk sekedar namanya saja, pria paruh baya itu tidak mengetahui nama anak itu. Dia hanya mendapatkan sedikit informasi dari Detektif yang dia sewa, salah satu informasi yang berhasil didapatkannya adalah anak bungsunya berjenis kelamin perempuan.


Sagara tidak terima jika anak dari Istri muda Ayahnya mendapatkan jatah yang sama banyaknya dengan dirinya dan juga Awan.


Selain masalah itu, yang paling membuat Sagara murka adalah Tuan Bhumi Cakra akan mewariskan rumah penuh kenangan ini kepada Helena, wanita murahan yang telah berhasil merebut Ayahnya dari Ibunya Sagara.


Namun saat ketuk palu cerai dibunyikan, Ibu Sagara tidak mendapatkan haknya karena Tuan Bhumi Cakra terlalu serakah dan menguasai semuanya. Ditambah lagi, Ibunya Sagara tidak mau ribet, akhirnya memilih merelakan saja semua harta itu.


Jika Tuan Bhumi Cakra ingin membagi harta yang dimilikinya saat ini, maka anak dari Istri mudanya itu hanya pantas mendapatkan satu per enam saja, jika dirunut dengan urutan yang benar.


Harta milik Tuan Bhumi Cakra seharusnya dibagi dua. Separuh miliknya dan separuh lagi milik Nyonya Dania.

__ADS_1


Separuh milik Tuan Bhumi Cakra dibagi menjadi tiga bagian yaitu Awan, Saga, dan anak dari Helena.


Separuh lagi milik Nyonya Dania dibagi menjadi tiga bagian juga, yaitu Awan, Saga, dan Raga (Anak yang lahir dari benih Tuan Surya).


Jadi anak dari Istri Muda Tuan Bhumi hanya pantas mendapatkan satu per enam saja jika memakai aturan di atas.


***


Saat ini mobil yang dikendarai oleh Sagara semakin bertambah saja kecepatannya. Ditambah lagi jalanan sedang sepi kendaraan, sehingga membuatnya leluasa ugal-ugalan di jalanan aspal itu.


Ngebut adalah cara Sagara untuk melampiaskan semua emosi yang ada dalam jiwanya. Menurutnya ini adalah cara terbaik untuk melupakan segala persoalan hidupnya.


Biasanya jika sudah ngebut di jalanan, hati remaja tanggung itu akan merasa plong. Semua beban pikirannya akan terangkat seiring berjalannya waktu saat dia sedang ugal-ugalan.


Mobil merah yang dikendarai oleh Sagara mulai memasuki jalanan yang menuju ke arah KPC, sebuah restoran cepat saji di kota A ini yang menu andalannya adalah ayam goreng.


Injakan kaki di pedal gas mobil merah itu semakin dalam saat kedua netra pengendaranya melihat di jalanan ini sangat sepi sekali.

__ADS_1


Hanya ada beberapa mobil yang terparkir di bahu jalan dan dua bocah perempuan yang sedang berdiri di atas trotoar di ujung sana.


__ADS_2