
Dulu sewaktu Perusahaan Tuan Sofyan ingin membangun tempat usaha di lahan milik warga, mereka juga menggunakan jasa-jasanya para preman untuk mengusir semua warga itu, dan kebetulan preman yang disewa oleh Tuan Sofyan adalah para anggota dari Black Devils.
Viola bahkan pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Black Devils beraksi mengancam semua warga yang keras kepala dengan cara membakar salah satu rumah pemimpin mereka yang menolak menjual lahannya kepada Perusahaan Tuan Sofyan.
Masih segar diingatan gadis itu saat rumah pemimpin warga yang keras kepala habis dilalap oleh si jago merah dan kini Viola merasakan sendiri bagaimana sensasinya digerogoti oleh rasa ketakutan dari kebengisan anggota Black Devils sebagaimana dulu saat para warga ketakutan setengah mati saat ditindas dan diancam oleh mereka semua, yang akhirnya membuat para warga bersedia menjual tanahnya ke pihak Perusahaan Tuan Sofyan dengan harga yang murah.
"Bagus," ucap Snap dan rekan-rekannya saat melihat jalanan aspal ini sudah terbuka kembali dan mereka semua bisa lewat lagi.
Saat mereka akan berbalik, tiba-tiba sorot lampu dari rombongan mobilnya Kim membuat silau kedua mata mereka.
"Sepertinya pasukan bantuan dari para cecunguk itu telah tiba." ucap rekannya Snap.
Snap mulai menajamkan penglihatannya saat mobil-mobil rombongan Kim telah berhenti dari lajunya.
"****," umpat Snap saat menyadari bahwa mobil-mobil itu adalah rombongannya Kim.
"Itu kan lambang Black Claws." gumam rekannya Snap.
Pemimpin dari Klan Gonjales dan Tsubasa mulai keluar dari dalam mobilnya yang diikuti oleh semua anak buah mereka.
__ADS_1
Kim juga mulai turun dari atas mobilnya, namun sosoknya belum terlihat oleh rombongannya Black Devils karena terhalang oleh Klan Gonjales dan Tsubasa.
"Kalian mau apa hah?" tanya Snap sengak ke arah para pemimpin Klan dari kelompok Mafia Black Claws.
"Kami hanya sedang mencari seorang gadis." ucap Gonjales sambil memperlihatkan foto Viola.
"Hemph, lagi-lagi foto gadis jal*ng itu." umpat Snap.
"Cepat berikan gadis itu kepada kami!"
"Jangan mimpi ya!"
Kerumunan dari para anggota Mafia Black Claws mulai terbelah menjadi dua karena Kim mulai melangkah maju mendekati para anggota Black Devils.
"Troy, cepat keluarkan gadis jal*ng itu, dan bawa dia kemari!" perintah Snap kepada rekannya.
"Baik, Snap." angguknya patuh.
Snap kini mulai menunjukkan senyum terbaiknya ke arah Kim. "Selamat malam, Tuan Kim," sapanya ramah.
__ADS_1
"Ini masih sore, Bro."
"Hahaha," tawa Snap dibuat-buat.
"Oh iya, kamu lihat gadis yang sedang aku cari nggak? Kata temanku, gadis itu sedang tersesat di hutan ini."
"Iya, aku lihat. Aku bahkan memberikan tumpangan kepada gadis itu. Hahaha," tawa Snap sumbang. "Itu, dia." tunjuk Snap ke arah Viola yang saat ini sedang berjalan sambil menunduk ke arah mereka.
"Karena urusan kita sudah selesai. Kami pamit pergi dulu ya. Tolong beri jalan untuk kami." pinta Snap manis.
Kim memberikan kode kepada seluruh anak buahnya untuk memberikan jalan kepada rombongan Black Devils.
Semua anak buahnya langsung mematuhi perintah dari Boss kecilnya itu.
Para anggota dari Black Devils mulai undur diri dan segera menjauh dari Black Claws.
"Si*l," kesal Snap yang gagal mendapatkan bonus lebih dari misinya kali ini.
"Snap kenapa kita langsung mundur? Bukankah orang-orang kita juga sama banyaknya dengan orang-orangnya Black Claws."
__ADS_1
"Karena aku tidak mau berurusan lebih panjang lagi dengan Kim." jawab Snap. "Kalau seandainya Boss Jackson ada bersama dengan kita, akan lain lagi ceritanya. Lagipula, kita juga sedang mengemban misi khusus. Kalau penyelundupan semua barang-barang yang kita bawa gagal di tengah jalan. Bisa-bisa peluru dari senapan Boss Jackson akan bersarang di kepala kita masing-masing."
***