CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Rasa Sayang Untuk Viola


__ADS_3

Lagi-lagi Sagara mengabaikan peringatan dari Sekretaris Ken yang memintanya untuk menggunakan kursi roda selama Viola ada di markas persembunyiannya.


Pemuda tampan itu saat ini sedang memasuki ruang kamarnya Viola untuk mengecek keadaan gadis itu yang kini sudah mengenakan pakaian ganti yang tentunya bukan digantikan oleh Sagara atau pun Sekretaris Ken, tapi digantikan oleh ART yang biasa membersihkan rumah ini yang tadi diminta untuk datang kembali ke rumah ini untuk melakukan tugas tambahan.


Drrt.


Terdengar suara kursi diseret oleh tangan Sagara.


Pemuda itu mulai menduduki kursi itu dan mulai memperhatikan wajah cantiknya Viola yang terlihat damai dalam tidur pura-puranya.


Ada beberapa helai dari anak rambut Viola yang jatuh di wajah cantiknya itu dan membuat tangan Sagara refleks meraih helaian anak rambut itu untuk di selipkan kembali di sela-sela kuping Viola.


"Maafin aku ya, La! Gara-gara aku -kamu ngalamin hal yang buruk seperti ini." ucap Sagara lirih sambil menggenggam tangan kanan Viola. "Seandainya kamu nggak dijadikan menjadi calon istriku. Kamu pasti nggak bakalan diculik sama mereka semua."


Viola yang sedang pura-pura tidur mendengar semua perkataannya Sagara dan bersorak di dalam hati.

__ADS_1


'Yes, dengan begini ... Tuan Muda Saga akan menghormatiku meski aku bukan dari kalangannya. Dan setelah aku menjadi istrinya, dia pasti memperlakukanku dengan baik.' batin Viola.


Ingin rasanya Viola terbangun dari tidur pura-puranya saat ini supaya dia bisa berbicara secara langsung dengan Sagara, namun jika dia melakukan hal itu bisa-bisa pemuda di dekatnya akan curiga dan mulai mengira kalau dia sudah sadar sejak tadi.


'Mending aku pura-pura tidur aja, biar nggak dicurigai.' putus gadis itu. 'Dengan begini, nilai plusku di mata Tuan Muda Saga akan semakin bertambah ketika aku memperlakukan dia dengan baik dan dengan ikhlas menerima keadaan fisiknya yang cacat. Lalu aku akan dikenal sebagai dewi yang penuh kasih di seluruh penjuru negeri ini karena bersedia menikah dengan orang yang cacat. Untung saja aku tahu rahasia besar ini, jika tidak ... aku pasti akan melakukan kesalahan yang besar karena terang-terangan menolaknya. Nasib baik aku diculik oleh para penjahat itu sehingga niatan kaburku dari pernikahan itu bisa tersamarkan.'


Sagara masih menggenggam tangan Viola dan memandang gadis itu dengan pandangan sayang.


Jika sebelumnya dia tidak terlalu bersimpati kepada Viola maka lain halnya dengan saat ini.


Sagara yang merasa bertanggungjawab atas kejadian tidak menyenangkan yang menimpa gadis itu membuat hatinya sedikit iba saat melihat luka-luka di tubuh dan wajah Viola, sehingga rasa sayang pun mulai muncul di lubuk hatinya meski hanya beberapa persen saja untuk gadis itu.


Dengan perlahan pemuda itu mulai melepaskan genggaman tangannya dari tangan Viola dan dengan sangat hati-hati dia membenarkan selimut tebal yang sedang menyelimuti tubuh gadis itu.


"Aku pulang dulu ya. Kamu baik-baik ya di rumah ini." ucap Sagara lirih sambil mengelus sayang puncak kepala Viola. "Semoga mimpi indah." bisik pemuda itu.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat terakhir di dekat telinga Viola, Sagara mulai berjalan meninggalkan ruang kamar ini.


Kreb.


Suara pintu tertutup terdengar jelas di gendang telinga Viola dan dengan hati-hati kedua mata gadis itu mulai terbuka dan mengintip secara perlahan untuk memastikan bahwa Sagara telah pergi dari ruangan ini.


Dirasa situasi sudah aman, gadis itu membuka lebar kedua kelopak matanya dan bangun dari posisi tidurnya saat ini.


Saat ini Viola meraba bagian kepala yang tadi dielus oleh Sagara.


"Selain tampan dan mapan, ternyata Tuan Muda Saga manis juga ya." ucapnya sambil tersenyum senang dengan kedua pipinya yang mulai memerah.


"Aku sudah tidak sabar untuk menikah dengannya dan aaaaaaa!" teriak gadis itu pelan yang saat ini sedang merasa malu saat membayangkan adegan dua puluh satu plus dirinya dengan Sagara yang akan segera terjadi setelah mereka resmi menikah nanti.


***

__ADS_1


Di ruang tengah, Sagara sudah duduk kembali di atas kursi rodanya.


Saat ini pemuda itu sedang menunggu kedatangan dari salah satu sahabat kepercayaannya yang akan membantu mengantarnya pulang.


__ADS_2