CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Viona Mulai Menunjukkan Taringnya Part 2


__ADS_3

Gelungan Riri telah rusak, bukan hanya itu saja, kali ini posisi sudah terbalik. Yang awalnya Viona menjadi target penyerangan, kini Riri lah yang akan menjadi target serangan dari tangan mulusnya Viona yang kekar dan bertenaga.


Plakk.


Satu tamparan telah mendarat di pipi mulus Riri yang dihiasi oleh blush on warna peach.


"Ini hukuman pertama untuk perilaku kurangajar-mu yang telah berani merebut bantal Suamiku dari tanganku." ucap Viona dingin.


Plakk.


Viona kembali menampar Riri dengan sekuat tenaga. "Ini balasan untukmu yang sudah berusaha untuk mencelakaiku."


Plakk.


Lagi-lagi pipi mulus Riri kena tampar dan membuat ujung bibirnya berdarah karena terluka.


Plakk.

__ADS_1


"Ini balasan untuk perlakuan kasarmu padaku." tandas Viona mengakhiri siksaannya terhadap Riri sang pelayan sombong tidak tahu diri.


Viona mulai bangkit dari posisinya saat ini dan Riri tidak bisa berkutik kembali karena rasa sakit yang mendera tubuhnya begitu tak terperi.


Luka yang ada di tubuh Riri bukan hanya ada di area wajah saja, namun di bagian tubuh lainnya pun terdapat luka lecet yang dia dapatkan saat mereka berdua saling bergulat.


Viona yang telah selesai memberikan pelajaran kepada Riri, kini mulai mengebas-ngebaskan bajunya yang kemungkinan kotor atau lecek setelah perkelahian panas tadi.


'Tidak kusangka, gadis bodoh itu tidak mudah untuk ditindas.' batin Riri. 'Kalau tahu begini ceritanya, aku tidak akan memulai sebuah pertengkaran.' sesal Riri. 'Tapi bukankah biasanya orang bodoh tidak sekuat itu ya? Mereka juga cenderung hanya diam saja ketika disakiti. Tapi kenapa Viona tidak seperti itu?' batin Riri bertanya-tanya.


Viona memang terkenal akan kebodohannya, namun dia tidak sebodoh itu, yang rela ditindas habis-habisan oleh orang lain.


Untung saja Viona bertemu dengan pemuda tampan itu, yang memberikan sugesti dan juga pola pikir yang benar kepada gadis malang itu. Ya, meskipun pola pikir dari Viola tetap mendominasi, tapi setidaknya Viona tidak selemah orang bodoh pada umumnya.


Pemuda tampan itu yang selalu berada satu kelas dengan Viona selalu menekankan kepada gadis itu bahwa ketika seseorang mulai main fisik, baik itu memukul, menjambak dan melakukan kekerasan fisik yang lainnya, maka orang itu sedang mulai menindas Viona dan semua kata-kata jelek dan kata yang lainnya, yang Viona anggap sebagai pujian, itu sebenarnya adalah artian yang sebenarnya.


Pemuda tampan itu juga menekankan bahwa ketika Viona mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang lain maka dia harus berani melawan balik.

__ADS_1


Untungnya Viona meski bodoh tapi dia jago beladiri, mulai dari pencak silat, karate, judo, dan yang lainnya.


Semua ilmu bela diri yang dikuasai oleh Viona tidak lepas dari jasa-jasanya pemuda tampan itu yang selalu rewel dan menggeret Viona ke klub-klub beladiri yang dia masuki.


Sungguh beruntung Viona bisa bertemu dengan orang baik yang meluruskan pola pikir sesat yang ditanamkan oleh Viola kepada dirinya meski tidak semuanya bisa pemuda itu ubah.


Saat ini Viona sedang menempelkan wajahnya ke sebuah kaca jendela di ruang kamar itu seperti cicak yang sedang nemplok ke sebuah dinding. Gadis itu melihat ada sebuah padang bunga yang sangat luas di tengah-tengah rumah ini yang memanjang sampai ke ujung sana.


Rumah mewah ini memang berbentuk huruf U sehingga taman bunga dan tanaman buah-buahan lainnya bisa dinikmati dari semua ruangan yang berbatasan langsung dengan taman itu.


"Aku ingin bunga mawar!" seru Viona yang kini mulai berlari ke arah Riri yang masih duduk kesakitan di atas lantai marmer rumah ini.


"Vio pengen dibawain bunga mawar yang banyak, Kak!" pinta Viona dengan mata yang berbinar sambil mengguncang-guncangkan tubuh Riri. Gadis itu seolah lupa bahwa beberapa menit yang lalu, mereka berdua saling berkelahi  menyerang satu sama lain.


Riri hanya bisa memejamkan sejenak kedua matanya mendengar permintaan Viona yang seperti anak kecil.


"Baik, Nona. Saya akan membawakannya." sahut Riri yang kini mulai bersikap sopan kepada Viona karena dia merasa bahwa Viona tidak selemah dan serendah yang dia pikirkan.

__ADS_1


Saat Riri dihajar oleh Viona, bulu kuduk wanita itu sedikit meremang karena dia sangat ketakutan ketika melihat sosok Viona yang lebih menakutkan dan dingin dibandingkan dengan Sagara. Bahkan Aura gelap yang dipancarkan oleh Tuan Bhumi dan Tuan Smith pun tidak semengerikan Viona.


***


__ADS_2