
"Inget, Kimoci-nya jangan dikasih makan lagi ya, Teh. Tadi sudah Babeh kasih makan." ucap Tuan Batari.
"Okeh, Beh." jawab Yunita.
Saat Yunita akan melanjutkan langkahnya, Tuan Batari tiba-tiba memanggilnya kembali.
"Kenapa, Beh?" tanya Yunita.
"Kamu udah ngasih tahu Raga belum, Teh?"
"Raga?" kening Yunita mengerut.
"Iya, Raga. Raga Surya Pratama." ucap Tuan Batari mengingatkan Yunita.
"Oh Raga anaknya Om Surya."
"Iya,"
"Belum Teteh kasih tahu, Beh."
"Cepetan kasih tahu! Acaranya nanti malem kok kamu malah belum ngasih tahu si Raga sih, Teh."
"Iya, Beh. Nanti Teteh telepon nomor hapenya Raga. Oh iya, Babeh seriusan mau ngundang Raga dan kedua orang tuanya?"
"Seriusan lha, Teh. Kalau nggak serius, buat apa Babeh minta kamu buat telepon si Raga."
"Babeh nggak lupa kan kalau...."
"Kalau Ibunya Raga itu Ibunya Mas Awan dan Saga juga, kan."
"Iya, Beh. Apa nggak apa-apa kalau mereka kita undang, Beh? Teteh takut, ntar malah ada adegan baku hantam lagi antara Om Surya sama Mas Awan." ucap Yunita harap-harap cemas.
"Tenang aja, Teh. Nggak bakalan terjadi perkelahian di antara mereka berdua. Secara Dania juga datang kan bersama dengan anak dan suaminya."
__ADS_1
"Lho hubungannya apa sama Tante Dania, Beh?"
"Awan itu terlalu sayang sama Ibu kandungnya jadi dia nggak bakalan baku h*ntam dengan Surya. Beda cerita kalau Saga yang ikut datang ke pesta kamu. Dijamin baru lihat batang hidung si Surya aja udah langsung melesat tuh t*nju anak itu."
"Emang bedanya Mas Awan sama Saga itu apa sih, Beh?"
"Beda di sudut pandangannya, Teh."
"Sudut pandang?"
"Iya, Teh."
"Tolong dijabarin atuh, Beh! Biar Teteh ngerti."
"Waduh, Babeh nggak bisa jabarin, Teh. Takut nanti jatuhnya jadi ghibah. Teteh masih inget kan ghibah itu sama halnya seperti apa?"
"Sama halnya seperti makan b***kai saudaranya sendiri, Beh." jawab Yunita lesu karena tidak berhasil membuat mulut Ayah kandungnya terbuka untuk membocorkan hal-hal yang membuatnya sangat penasaran.
"Itu Teteh tempe."
"Terserah Babeh lha mau pakai tahu kek atau pake tempe kek."
"Au ah gelap. Teteh mau cuss aja."
"Sana ke Dokter Ardi kalau mau dicuss mah."
"Idih, nehi nehi ya, Beh. Mending dicuss sama Mas Awan aja enak, nggak sakit wlee."
"Dasar bocah mesum kamu, Teh!" pekik Tuan Batari.
"Wlee," Yunita hanya membalas perkataan Ayahnya dengan melean lidahnya dan langsung ngacir ke lantai atas.
Sedangkan Tuan Batari hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan anaknya yang terkadang suka mesum sekali.
__ADS_1
"Mesum banget anak gue, mirip kayak Ibunya." gumam Tuan Batari.
"Tadi Babeh ngomong apa, Beh?"
Tuan Batari melonjak kaget saat mendengar ada suara Istrinya di belakang tubuhnya. Dengan takut-takut Tuan Batari melihat ke arah belakang.
"Eh, Mama, heeee," Tuan Batari langsung nyengir.
"Tadi Babeh ngomong apa, hah?" cecar Sherina Ibu dari Yunita.
"Nggak ngomong apa-apa, Ma."
"Jangan bohong kamu, Beh!"
"Aduh, Ma, sakit, Ma!" ringis Tuan Batari yang saat ini sedang dijewer oleh tangan Istrinya.
"Makanya ngomong jujur kalau Mama yang nanya!"
"Iya, Ma, Iya."
"Sekarang jawab!"
"Lepas dulu, Ma! Sakit banget ini,"
Kuping Tuan Batari pun dilepaskan oleh Sherina.
"Sekarang ulangi perkataanmu yang tadi, Beh!"
"Mesum banget anak gue, mirip kayak Ibunya." cicit Tuan Batari takut-takut.
"Babeh!" teriak Sherina yang mulai berancang-ancang untuk menghajar suaminya.
"Ampun, Ma!" mohon Tuan Batari yang saat ini sudah memejamkan kedua matanya karena terlalu takut kepada amukkan istri kesayangannya.
__ADS_1
***
Tekan tombol like, simpan di favorit dan wajib komen next atau up demi level novel ini.