CEO Panas Suamiku

CEO Panas Suamiku
Makna Terselubung


__ADS_3

Di rumah biru (markas Sagara).


"Kamu kenapa senyam-senyum kayak gitu, Ken?" tanya Sagara yang sedang duduk di sofa sambil menyesap minumannya.


"Nggak kenapa-kenapa, Tuan." jawab Sekretaris Ken yang baru saja kembali dari arah luar.


"Kamu tadi telepon siapa sih? Kok pakai keluar segala. Kayak sama siapa aja sok-sokan rahasia-rahasiaan."


"Tadi aku abis teleponan sama Dokter Joan yang rutin periksa kondisi Bundaku."


"Oh," angguk Sagara mengerti.


"Oh iya, sepertinya malam ini aku belum bisa memeriksakan kesehatan kedua mataku, Tuan. Tadi perawat yang bertugas untuk merawat Bunda Amanda bilang padaku bahwa Bunda sedang kumat lagi dan saat ini dia sedang mengamuk. Sepertinya aku harus segera pulang, Tuan. Aku pamit dulu ya." ucap Sekretaris Ken yang saat ini sedang mengambil jasnya yang tersampir di atas sandaran sofa.


"Iya, hati-hati ya!"


"Oke,"


Sekretaris Ken mulai meninggalkan rumah ini dengan langkah tergesa. Sedangkan Sagara kini mulai mengerutkan keningnya.


"Lha ... kalau Tante Amanda sedang kumat lagi, lalu kenapa ekspresi wajahnya Kenzo tadi senyam-senyum kayak gitu." gumam Sagara berpikir.


Tap tap tap.


Terdengar suara langkah kaki yang berlarian dari arah luar.


"Lho ... kok kamu balik lagi, Ken?" tanya Sagara kepada Sekretarisnya yang kembali masuk ke dalam rumah ini.

__ADS_1


"Aku lupa belum ngasih tahu Tuan ... tadi Nona Viona berpesan agar Anda pulang lebih cepat dan ini," Sekretaris Ken mengeluarkan ponsel milik Tuan Sofyan dan meletakkannya ke atas meja. "Tolong serahkan kepada Nona Viola ya! Agar dia kembalikan kepada Ayahnya. Besok aku akan sibuk sekali karena kata Dokter Hardi -aku harus dicek pagi-pagi karena siangnya beliau akan terbang ke kota K." jelas pemuda itu panjang kali lebar.


"Memangnya kamu sakit apa? Kok pake dicek segala kesehatannya?" tanya Sagara yang tiba-tiba hilang ingatan.


"Lho ... kan Tuan Muda sendiri yang tadi siang minta aku untuk cek kesehatan mata."


"Oh iya, maaf-maaf aku lagi nggak konsen. Aku kira kamu punya penyakit lain, hehe."


"Ya sudah. Aku pergi dulu."


"Iya, iya," angguk Sagara.


***


Di kediaman keluarga Abigail sudah banyak mobil yang terparkir baik di dalam halaman rumah maupun di luar pintu gerbang.


Sepasang suami-istri yang terlihat sangat serasi saat berjalan berdampingan mulai masuk ke dalam rumah besar ini.


Tuan Batari yang awalnya sedang ngobrol dengan relasi bisnisnya tiba-tiba langsung pamit undur diri untuk menyambut kedatangan pasangan muda-mudi itu.


"Gibran akhirnya kamu datang juga di pesta ini!" seru Tuan Batari senang saat melihat kehadiran laki-laki tampan itu.


Tuan Batari dan Gibran saling berpelukan melepaskan rindu yang selama ini bersemayam di dalam hati. Setelah beberapa saat pelukan mereka mulai terurai namun tangan mereka masih bertautan.


"Apa kabar, Om?" tanya Gibran.


"Baik," sahut Tuan Batari cepat. "Eh, itu siapa di samping kamu?" tanya pria paruh baya itu yang menyadari ada seorang wanita cantik di samping pemuda tampan itu.

__ADS_1


"Kenalin Om, ini Nadya, dia istri aku."


"Istri? Kamu udah nikah?" Tuan Batari terkejut dengan kenyataan ini.


"Iya, Om. Hehe,"


"Kenapa Om nggak diundang hah?" tanya Tuan Batari marah.


"Dulu kan -Om lagi jalan-jalan ke luar negeri. Aku sama Papa dulu dateng lho ke rumah Om buat ngabarin, tapi Omnya malah nggak ada."


"Kenapa nggak ngasih kabar lewat sambungan telepon."


"Nomor Om sama Tante Sherina susah untuk dihubungi."


"Oh iya, Om baru ingat. Dulu ponsel Om sama Istri Om rusak setelah kecebur kelaut pas dikerjain sama si Yun dan Adeknya."


"Jadi Gibran nggak salah dong, Om."


"Hehe, iya kamu nggak salah. Yang salah Om, hehe."


Kali ini Tuan Batari mulai memperhatikan Nadya yang sedang tersenyum ke arahnya. Lelaki paruh baya itu mengulurkan tangan kanannya ke arah Nadya.


"Kenalkan saya Batari, Omnya si Ganteng." ucap Tuan Batari sambil melirik ke arah Gibran yang sedang terkekeh disebut ganteng oleh pria tua itu.


"Salam kenal, Tuan. Saya Nadya, istrinya si Ganteng, pfft," ucap Nadya sopan sambil menahan tawanya saat menyebut suaminya si Ganteng.


"Hahaha," gelak Tuan Batari yang tidak menyangka kalau istrinya Gibran bisa melawak juga.

__ADS_1


__ADS_2